Langsung ke konten utama

Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”

  ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”           Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...

Warga Pati Menolak Kenaikan Pajak 250 Persen: Ketika Pemerintah Buta Terhadap Realitas Rakyat

dokumentasi demo_Warga Pati Menolak Kenaikan Pajak 250 Persen: Ketika Pemerintah Buta Terhadap Realitas Rakyat 
kompas.com


Pati, Jawa Tengah — Gelombang protes warga Pati kini menjadi sorotan nasional setelah viralnya video dan dokumentasi aksi penolakan terhadap kenaikan pajak bumi dan bangunan (PBB) hingga 250 persen. Ratusan warga dari berbagai desa turun ke jalan, membawa poster dan spanduk yang mencerminkan satu suara: "Kami tidak menolak bayar pajak, tapi tolong jangan aniaya kami dengan kebijakan sewenang-wenang!"

Kenaikan pajak yang dianggap tidak masuk akal ini memicu kegelisahan besar di kalangan masyarakat, terutama petani, pedagang kecil, buruh, dan pemilik rumah sederhana. Banyak dari mereka mengaku kaget ketika menerima surat pemberitahuan pajak terbaru, dengan nominal yang tiga kali lipat lebih besar dari tahun sebelumnya.



Realitas di Lapangan Tak Seindah Kertas Rencana

Ironisnya, meski pemerintah daerah berdalih bahwa kenaikan pajak ini untuk "penyesuaian NJOP" dan "peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)", kenyataan di lapangan justru menunjukkan kondisi yang bertolak belakang.

"Jalan rusak masih banyak, pelayanan lambat, dan kami masih harus bayar BPJS sendiri. Jadi untuk apa uang pajak ini?" ujar seorang warga Desa Trangkil yang enggan disebut namanya.

Ini bukan lagi sekadar soal angka, tapi soal keadilan dan kemanusiaan. Pemerintah seolah lupa bahwa pajak adalah beban kolektif yang harus dibarengi dengan tanggung jawab moral: memberi manfaat nyata kepada rakyat. Kenaikan sebesar 250 persen bukanlah angka kecil, apalagi jika dilakukan tanpa sosialisasi yang layak, dan tanpa melibatkan masyarakat dalam proses perumusannya.



Minim Transparansi, Rakyat Dipaksa Diam?

Kebijakan ini menjadi potret buram bagaimana pemerintahan lokal sering kali bersandar pada kalkulasi angka di atas meja, tanpa menjejakkan kaki di tanah di mana rakyat berdiri. Tidak ada keterbukaan tentang dasar penentuan NJOP, tidak ada forum dengar pendapat yang melibatkan warga, dan lebih parah lagi, banyak perangkat desa pun mengaku tidak tahu-menahu soal perubahan drastis ini.

"Kami bukan menolak bayar pajak. Tapi kami juga punya hak untuk tahu kenapa pajaknya naik segini banyak," kata seorang ibu rumah tangga dari Kecamatan Juwana.

Inilah bentuk ketimpangan komunikasi antara pemerintah dan rakyat. Saat kebijakan publik dibuat seperti perintah sepihak, kepercayaan pun runtuh. Dan yang lebih mengkhawatirkan, ini membuka celah bagi krisis legitimasi kepemimpinan daerah.


Apa yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah?

Pemerintah Kabupaten Pati semestinya tidak bertahan dalam keangkuhan kebijakan, melainkan duduk bersama masyarakat, mengevaluasi ulang keputusan ini, dan membuat kebijakan berbasis data riil — bukan sekadar ambisi angka.

Jika memang ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan PAD, maka itu bisa dilakukan secara bertahap, transparan, dan adil. Bukan dengan cara mendadak yang membuat rakyat kebingungan dan merasa diperas.

Selain itu, penting bagi pemerintah untuk mengingat bahwa penerimaan negara dari sektor pajak seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup rakyat. Jika pelayanan tetap buruk, infrastruktur tetap rusak, dan suara rakyat diabaikan, maka rakyat punya hak penuh untuk menggugatnya secara hukum dan konstitusional.


Kesimpulan: Rakyat Bukan Mesin Uang

Aksi warga Pati adalah bukti nyata bahwa rakyat mulai sadar dan berani menyuarakan ketidakadilan. Mereka tidak melawan hukum, mereka melawan kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan sosial.

Kenaikan pajak 250 persen tanpa pertimbangan kondisi ekonomi masyarakat adalah bentuk penindasan yang terselubung atas nama pembangunan. Dan bila pemerintah masih menutup mata dan telinga, maka bukan tak mungkin demo ini akan menjadi inspirasi perlawanan rakyat di daerah-daerah lain.

Rakyat bukan mesin uang. Pajak bukan alat penindas. Pemerintah harus kembali kepada esensi dasarnya: melayani, bukan menghisap.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...