Tampilkan postingan dengan label artikelguru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikelguru. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juni 2025

Delapan Puluh Kalimat Api: Menyusuri Jejak Amran Sulaiman yang Melibas Deru Viral

ilustrasi foto
Ilustrasi foto (merdeka.com)


Di tengah deras arus berita yang tenggelam dalam riuh rendah click‑bait, sosok Amran Sulaiman muncul bagai lembayung jingga setelah hujan—tenang, tapi membangkitkan harap. Viral belakangan ini bukan sekadar karena gelora pidato di kampus atau tangisan petani atas kelangkaan pupuk. Ia viral karena ia nyaring, baunya asam, menyayat, namun menyembuhkan.


Lahir sebagai Putra Bone, Berdiri sebagai Putra Negeri 🌱

Amran Sulaiman lahir pada 27 April 1968 di Bone, Sulawesi Selatan, dari keluarga besar—ia anak ketiga dari dua belas bersaudara (en.wikipedia.org). Bersama debu desa, ia tumbuh dan mengenyam sekolah dasar di Barru, lalu kembali menuntaskan pendidikan di Bone. Rentetan tahun memahat karakter: sederhana, gigih, rindu akan perubahan.


Akademisi dan Penemu, dari ‘Tikus Diracun Amran’ Hingga Gelar Doctor Cum Laude

Setelah merampungkan strata satu hingga doktoral di Universitas Hasanuddin—seluruhnya cum laude—ia merambah dunia penelitian, mencipta racun tikus yang dipatenkan dengan akronim “Tiran” (Tikus Diracun Amran) (en.wikipedia.org). Berkat itu, ia mendirikan perusahaan, mengokohkan kekayaan mendekati US$1 miliar pada 2014 (en.wikipedia.org). Tapi bukan karena harta ia dikenal—melainkan karena ia tetap mengajar, tetap pulang kampung, tetap bersahaja.


Mentan Dua Periode, antara Pujian dan Duka Swasembada

Menjadi Menteri Pertanian dua kali—2014–2019 dan kembali pada Oktober 2023—ia didaulat membawa paradigma baru pertanian Indonesia (jawapos.com, en.wikipedia.org). Namun perjalanan tak semulus jalan beraspal: upaya swasembada beras merembas duka impor—2,2 juta ton impor beras dan 4,6 juta ton gula pada 2018 sempat mencoreng namanya (amp.kompas.com). Presiden Jokowi bahkan sempat memberi ultimatum pemecatan dalam 3 tahun jika target gagal (amp.kompas.com).

Meski gagal total saat itu, ia tak mundur. Ia kembali dipanggil Presiden dan dipercaya lagi—menjadi mentan saya, tidak diubah—nama besar masih tegar di tangan Jokowi (kompas.com).


Viral Demi Kebenaran: Teguran Wapres, Mafia Pangan dan Petani Disikat

Yang membuat namanya kian menderu di jagad maya adalah keberaniannya bicara terang-terangan soal mafia pangan. Sebuah potongan video di Unhas Makassar —durasi 26 detik—meledak di X dan TikTok: “Pernah ditegur Wakil Presiden gara‑gara ada mafia beras, kami tutup perusahaannya,” katanya tegas (sketsanusantara.id).

Ia lanjutkan: “Ternyata semua adalah pemimpin‑pemimpin besar ada di dalamnya.” Ungkapan itu digulung pujian netizen. Ia pun mendapat klarifikasi tegas: teguran itu bukan dari masa jabatan Wapres Gibran, tapi Wapres sebelumnya—a moment penting, agar narasi tak disenjajahi fitnah (jawapos.com).

Ringkasnya: ia bukan menabuh genderang fitnah, ia meneriakkan fakta.


Pecatan dan Pembasmi Korupsi di Internal Kementan

Tak hanya soal mafia eksternal. Di dalam tubuh Kementerian Pertanian terjadi goyah internal. Kabarnya, dua pejabat minta fee proyek Rp 27 miliar dan sudah mengantongi Rp 10 miliar; Amran langsung pecat keduanya (detik.com). Prabowo Subianto—yang juga Menteri Pertahanan—menyebut: “tidak tahu ada berapa belas pejabat dia sudah dipecat” (kompas.tv).

Lebih tangguh: ia pernah menolak suap Rp 500 miliar dari seorang jenderal, serta Rp 100 miliar lainnya dalam koper mobil Alphard hitam; ia suruh kembalikan (merdeka.com). Di bawah komando Amran, Kementan jadi medan perlawanan terhadap korupsi—sebuah panggung di mana integritas diuji, bukan diukur dari fatwa sofware.


Aksi Nyata: Copot Pejabat Pupuk, Cetak Sawah, Autentik dan Teriak

Tak hanya verbal. Ia turun tangan lebih dulu. Di Kalsel ia targetkan cetak 500.000 hektare sawah; video permintaan copot pejabat pupuk karena petani tak menerima—viral (jawapos.com, ntvnews.id).

Ia mertamaki, memanggil Dirut Pupuk Indonesia dan minta copot manajer nakal: “ini perintah, tidak boleh ditawar.” Aksinya mendapat tanggapan positif, karena bukan sandiwara—ini pertunjukan keadilan nyata di depan lensa kamera dan rakyat.


Viral karena Penyusun Figur: Dari Paten hingga Pidato yang Menyandar

Amran bukan figur yang viral karena sekadar gaya. Ia mencipta paten, membangun agribisnis besar, sekaligus menghayati akar sastra: pernah jual ikan, jadi tukang batu, penjual ubi—kisah yang amat menggetarkan saat diwisuda UNM (ntvnews.id, kabarika.id). Ia ingatkan bahwa anak muda harus bermimpi, berproses, dan tahan banting.

Bahasa pidatonya seolah puisi gerak:

“Never give up until I win… kita harus ubah mindset dan habit…” (kabarika.id)

Ia menabur bara inspirasi di dada generasi baru, memanggil mereka menjadi berlian setelah melalui tekanan hidup, seperti emas di perut bumi—ia bertanya:

“Anda mau jadi berlian atau mau jadi pecundang?” (kabarika.id)

Sastra dalam Aksi: Kata, dan Ketegasan sebagai Nyala

Bila kita menyelami artikulasi Amran, kita pun akan temukan mystique seorang penyair kolektif: ia tak menulis puisi, tapi pidatonya merasuk seperti syair, menyayat seperti rawan, dan membakar seperti api yang tak pernah padam. “Ubah mindset dan habit” bukan kalimat klise—itu siulan revolusi di balik perubahan pertanian.

Ia tegur mafia pangan seperti seorang panglima; ia tendang koruptor internal seperti tentara berseragam perang; ia suruh copot pejabat pupuk seperti hakim melepaskan cerai demi rakyat. Semua aksi itu berpadu, menjadi satu: Amran bukan hanya viral, ia jadi simbol harapan.


Meretas Kepalsuan dan Menyulam Harapan

Dalam pusaran berita yang kadang selesai dibikin sejarah dalam satu hari, Amran membina keberlanjutan. Ia bukan sekadar memberi pidato heroik saat wisuda—ia membuktikannya, dari 2014 sampai hari ini. Viral-nya Amran bukan hampa; itu hampa kontroversi kosong. Ada substansi, visi, dan nyali.

Setiap kali ia dipuji kotor oleh netizen, bisa jadi ia diselimuti senyuman: perjuangan yang ia bawa sudah menapak bumi dan menusuk langit. Seperti sajak tanpa rima yang paling menyakitkan, ia menjejakkan nyawa di setiap titik tindakan.


Penutup: Kita Menanti Puisi Era Pangan

Kumpulan kisah ini meyakinkan: Amran adalah rekaman aksen atas kata “berani”. Berani bersuara, berani bertindak, berani takut—dan ia takut, bukan terhadap petani, bukan terhadap Wapres Gibran atau serangan sosial media. Ia takut gagal menepati janji rakyat.

Viral-nya wajahnya, merangkai kepingan rouge tentang seorang pria Sulawesi Selatan, akademisi, pengusaha, menteri yang tetap turun ke sawah dan gudang pupuk. Seperti matahari sore yang menolak tertelan cakrawala, ia teguh menerangi setiap ladang, setiap lumbung, dan setiap hati.

Judul artikel ini tak sekadar permainan kata. Ini renungan: Amran Sulaiman, Mentan yang Viral, dan Sajak Nyata di Ladang Negeri—karena dalam aksinya ia menulis syair harapan, bukan sandiwara politik yang mexu; karena dalam viral itu, kita melihat refleksi kemilau biji pertanian yang bisa menjelma menjadi emas republik.


Jumat, 21 Februari 2025

Alur Cerita Film paling romantis:Ipar adalah Maut

Ipar adalah Maut
Ilustrasi gambar ipar Adalah maut byradar Bogor.com


Malam itu hujan turun deras. Kilat menyambar sesekali, membelah langit dengan cahaya yang menyilaukan. Aku menatap ke luar jendela apartemen kecilku, memikirkan betapa cepat hidupku berubah sejak Rania menikah dengan adikku, Aldi. Aku selalu percaya bahwa keluarga adalah tempat paling aman, tapi kehadiran Rania mengubah segalanya.


Rania bukan wanita biasa. Sejak pertama kali Aldi memperkenalkannya, aku sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sorot matanya tajam, bibirnya selalu melengkung dalam senyum yang terasa terlalu sempurna. Dia seperti aktris yang memainkan peran dalam kehidupan nyata—terlalu anggun, terlalu manis, terlalu tanpa cela.


Awalnya aku mencoba mengabaikan perasaanku. Mungkin hanya cemburu semata karena Aldi menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia. Tapi seiring waktu, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi.


Aku mulai kehilangan barang-barang kecil di apartemenku. Awalnya hanya hal-hal remeh—sebuah buku yang aku yakin telah aku letakkan di rak, kunci motor yang tiba-tiba muncul di meja makan setelah aku mencarinya seharian. Kemudian, aku menemukan sesuatu yang lebih mengerikan: lipstik merah di cermin kamar mandi. Aku tinggal sendiri. Tidak ada yang bisa meninggalkan jejak itu kecuali seseorang yang memiliki akses ke apartemenku.


Puncaknya terjadi sebulan lalu, saat aku menerima paket misterius. Sebuah kaset VHS dengan tulisan tangan di labelnya: “Putar dan lihatlah.” Aku hampir tertawa. Siapa di zaman ini masih menggunakan kaset VHS? Namun, rasa penasaran mengalahkan logika. Aku harus meminjam pemutar VHS dari seorang teman sebelum akhirnya bisa melihat isi rekaman itu.


Layar televisi menyala dengan suara berderak. Gambar goyah, seperti diambil dari kamera tua yang sudah aus. Aku melihat apartemenku, sudut-sudutnya yang aku kenali dengan baik. Lalu, seseorang muncul di layar. Seorang wanita dengan gaun hitam, berdiri membelakangi kamera. Perlahan, dia menoleh, dan jantungku hampir berhenti saat aku melihat wajahnya—Rania.


Dia berjalan ke arah tempat tidurku, meraba bantal dengan ujung jarinya, lalu mengangkat sesuatu. Sebilah pisau. Aku melihatnya membelai pisau itu, lalu tanpa ragu, menusukkannya ke kasur beberapa kali. Setelah puas, dia menoleh langsung ke arah kamera, tersenyum, seolah sadar bahwa aku akan menontonnya suatu hari nanti.


Tanganku gemetar saat aku mematikan televisi. Jantungku berdetak kencang, pikiranku berputar-putar. Rania pernah masuk ke apartemenku. Dia menyentuh tempat tidurku. Dia membawa pisau. Apa artinya semua ini?


Aku mencoba menghubungi Aldi, tetapi tidak dijawab. Mungkin dia sibuk. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya gurauan buruk, atau mungkin aku hanya berhalusinasi. Namun, firasat buruk itu tidak kunjung hilang.


Dua hari kemudian, Aldi menghilang.


Polisi datang, mengetuk pintu apartemenku, menanyakan apakah aku tahu keberadaan adikku. Aku hanya bisa menggeleng, tenggorokanku terasa kering. Mereka bilang Rania melaporkan Aldi tidak pulang sejak dua hari lalu. Aku ingin tertawa sinis—seolah-olah dia bukan penyebab dari semua ini.


Malam itu, aku menerima pesan dari nomor tak dikenal. Hanya satu kalimat: “Kau selanjutnya.”


Tanganku mencengkeram ponsel erat. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa hanya menunggu. Maka, aku mulai mencari tahu lebih dalam tentang Rania. Aku menyelidiki latar belakangnya, bertanya kepada teman-teman lamanya, mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang telah menikah dengan adikku.


Yang aku temukan jauh lebih mengerikan dari dugaanku.


Rania pernah menikah sebelumnya, dengan seorang pria bernama Daniel. Daniel ditemukan tewas di apartemennya sendiri, dengan puluhan luka tusukan di tubuhnya. Kasus itu tidak pernah terpecahkan. Polisi tidak memiliki cukup bukti untuk menahan siapa pun, meskipun banyak yang mencurigai istrinya—Rania.


Aku merasa dunia berputar. Aldi dalam bahaya. Atau lebih buruk lagi, mungkin dia sudah...


Tidak. Aku menolak memikirkannya. Aku harus bertindak.


Malam itu, aku memutuskan pergi ke rumah Aldi dan Rania. Aku memanjat pagar belakang, mengendap-endap di antara bayangan, berharap tidak ketahuan. Jendela dapur tidak terkunci, aku menyelinap masuk. Rumah itu gelap, sunyi. Aku menahan napas saat mendengar langkah kaki dari lantai atas.


Aku mengikuti suara itu, menaiki tangga dengan hati-hati. Pintu kamar utama sedikit terbuka. Aku mengintip ke dalam.


Rania berdiri di tengah kamar, di hadapannya ada kursi. Di kursi itu, Aldi duduk dengan tangan terikat, mulutnya dibekap kain. Matanya melebar saat melihatku, tubuhnya menggeliat mencoba memberontak.


Aku tidak sempat berpikir. Aku menerjang masuk, mendorong Rania dengan sekuat tenaga. Dia terjatuh, tetapi dengan cepat bangkit dan berbalik menghadapku. Di tangannya ada pisau—pisau yang sama yang kulihat di rekaman.


“Aku sudah menunggumu,” katanya, tersenyum tenang, seolah ini semua hanya permainan kecil baginya.


Aku tidak menunggu dia menyerang lebih dulu. Aku meraih lampu meja dan menghantamkannya ke kepalanya. Rania jatuh, pisau terlepas dari tangannya. Aku bergegas membebaskan Aldi, yang langsung menarikku untuk kabur keluar kamar.


Kami berlari keluar rumah, berteriak meminta bantuan. Lampu-lampu rumah tetangga mulai menyala. Tak lama kemudian, suara sirene memenuhi udara. Polisi tiba, menangkap Rania yang masih tergeletak di lantai dengan kepala berdarah.


Aldi memelukku erat, tubuhnya gemetar. Aku menatap ke arah rumah itu, ke arah wanita yang hampir membunuh adikku.


Keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman. Tapi malam itu, aku belajar bahwa tidak semua orang yang masuk dalam hidup kita membawa nia

t baik. Kadang, ipar benar-benar bisa menjadi maut.


Rabu, 25 September 2024

Opini:Guru Melakukan Kekerasan di Sekolah,Guru di laporkan Wali Murid.Siapa yang harus di salahkan?

 

Ilusi foto Opini:Guru Melakukan Kekerasan di Sekolah,Guru di laporkan Wali Murid.Siapa yang harus di salahkan?scren//https://pixabay.com/id/photos/sekolah-guru-pendidikan-asia-1782427/

Kasus kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa di sekolah sering kali menjadi sorotan di dunia pendidikan. Belakangan, semakin banyak wali murid yang memilih melaporkan guru ke pihak berwajib atas tuduhan kekerasan terhadap anak mereka. Namun, apakah melaporkan guru ke polisi adalah langkah yang tepat? Di artikel ini, saya akan mengungkapkan ketidaksetujuan terhadap tindakan orang tua yang langsung membawa masalah ini ke ranah hukum, serta mengajak kita untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih konstruktif dan berdasarkan fakta. Saya juga akan mengutip beberapa contoh kasus untuk menyoroti isu ini.

 

Kekerasan di Lingkungan Pendidikan: Masalah Nyata yang Memerlukan Solusi

 

Tidak dapat disangkal bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan adalah masalah serius. Ketika seorang guru melakukan tindakan kekerasan, baik secara fisik maupun verbal, hal tersebut jelas melanggar norma-norma pendidikan yang harusnya mengedepankan pendekatan mendidik, bukannya menghukum dengan kekerasan. Namun, masalah ini tidak selalu sesederhana hitam dan putih. Ada berbagai faktor yang terlibat dalam hubungan antara guru dan siswa, termasuk konteks situasional, budaya sekolah, dan karakteristik individual siswa.

 

Pada kenyataannya, tidak semua kasus kekerasan yang dilaporkan orang tua ke pihak berwajib mencerminkan kekerasan yang kejam atau berniat jahat. Banyak kasus yang sebenarnya terjadi dalam situasi di mana guru merasa tertekan oleh perilaku siswa yang tidak terkendali, kurangnya dukungan dari pihak sekolah, serta tantangan emosional dan psikologis dalam mengelola kelas. Meskipun ini bukan alasan untuk membenarkan kekerasan, namun penting untuk melihat masalah secara menyeluruh sebelum langsung menempuh jalur hukum.

 

Ketidaksetujuan Terhadap Pelaporan Guru ke Pihak Berwajib

 

Satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah tindakan orang tua yang langsung melaporkan guru ke polisi merupakan solusi terbaik bagi anak, guru, dan sekolah itu sendiri. Ada beberapa alasan mengapa langkah ini sering kali justru memperburuk situasi daripada memperbaikinya.

 

1.Melibatkan Hukum Dapat Mengganggu Proses Pendidikan

 

Sekolah adalah tempat di mana guru dan siswa seharusnya bekerja sama dalam suasana yang kondusif untuk belajar dan berkembang. Ketika masalah disiplin atau konflik antara siswa dan guru dibawa ke ranah hukum, hal itu dapat menciptakan ketegangan yang berlarut-larut di dalam lingkungan sekolah. Guru yang dilaporkan ke polisi sering kali merasa tertekan secara emosional dan psikologis, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kinerja mereka di kelas. Ini juga bisa membuat guru-guru lain merasa takut dan enggan untuk mengambil tindakan disipliner terhadap siswa yang bermasalah, meskipun tindakan tersebut dibutuhkan.

 

Selain itu, siswa yang terlibat juga sering kali mengalami dampak emosional yang cukup signifikan. Proses hukum tidaklah sederhana dan sering kali memerlukan waktu lama untuk diselesaikan. Hal ini dapat memengaruhi suasana belajar anak serta hubungan mereka dengan guru-guru lain dan teman-teman sekelasnya.

 

2.Penyelesaian Melalui Jalur Mediasi dan Internal Sekolah Lebih Efektif

 

Kasus-kasus kekerasan yang terjadi di sekolah sering kali dapat diselesaikan dengan lebih baik melalui mekanisme internal yang ada di lingkungan sekolah atau dengan melibatkan dinas pendidikan. Sekolah memiliki sistem disipliner, dewan guru, dan konselor yang dapat membantu menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih mendidik dan memperhatikan kebutuhan siswa serta guru. Mediasi antara orang tua, siswa, dan guru juga merupakan langkah yang jauh lebih baik sebelum memutuskan untuk melibatkan pihak berwajib.

 

Misalnya, dalam kasus kekerasan fisik ringan yang mungkin terjadi karena miskomunikasi atau ketidakpahaman antara guru dan siswa, mediasi dapat membantu memperjelas situasi serta mendorong penyelesaian yang damai. Guru dapat diberikan kesempatan untuk merefleksikan tindakannya dan menerima pembinaan, sementara siswa bisa belajar mengenai pentingnya disiplin dan etika dalam berinteraksi dengan orang dewasa.

 

3.Melibatkan Hukum Berpotensi Merusak Karir Guru

 

Salah satu dampak paling nyata dari melaporkan guru ke pihak berwajib adalah risiko merusak reputasi dan karier mereka. Guru yang dilaporkan sering kali akan menghadapi stigma sosial, bahkan sebelum ada putusan hukum yang menyatakan mereka bersalah. Proses hukum dapat berlangsung lama dan mengakibatkan ketidakpastian bagi guru yang bersangkutan. Hal ini bisa sangat merugikan, terutama jika masalah sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih positif.

 

Contoh Kasus: Guru di Sidoarjo yang Dilaporkan karena Menegur Siswa

 

Sebagai contoh, mari kita lihat kasus di Sidoarjo pada 2018, di mana seorang guru bernama Nur Khalim dilaporkan ke pihak berwajib setelah menegur seorang siswa yang merokok di kelas. Guru tersebut, yang mencoba mendisiplinkan siswa, justru mendapat perlawanan verbal dan fisik dari siswa. Namun, orang tua siswa kemudian melaporkan sang guru ke polisi atas tuduhan kekerasan terhadap anaknya.

 

Kasus ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan perdebatan mengenai batas-batas otoritas guru dalam mendisiplinkan siswa. Banyak pihak merasa bahwa tindakan orang tua yang melaporkan guru ke polisi adalah berlebihan, mengingat konteks kejadian di mana guru tersebut hanya mencoba menegakkan aturan dan mendisiplinkan siswa. Pada akhirnya, kasus ini diselesaikan melalui mediasi, di mana kedua belah pihak setuju untuk berdamai.

 

Perlunya Pendekatan yang Lebih Seimbang

 

Dari contoh kasus di atas, jelas bahwa membawa masalah disiplin di sekolah ke ranah hukum tidak selalu menghasilkan solusi yang terbaik. Sebaliknya, hal tersebut sering kali malah menimbulkan lebih banyak masalah bagi semua pihak yang terlibat. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk lebih bijak dalam menangani masalah yang melibatkan anak mereka di sekolah.

 

Sebelum melibatkan pihak berwajib, orang tua sebaiknya berusaha menyelesaikan masalah melalui dialog dengan guru, kepala sekolah, atau dewan sekolah. Komunikasi yang baik antara orang tua dan pihak sekolah adalah kunci dalam mengatasi konflik dengan cara yang damai dan konstruktif.

 

 Kesimpulan

 

Meskipun kekerasan di lingkungan pendidikan adalah masalah yang tidak bisa diabaikan, melaporkan guru ke pihak berwajib bukanlah solusi terbaik. Langkah ini sering kali memperburuk situasi, mengganggu proses belajar-mengajar, dan merusak reputasi guru. Orang tua sebaiknya mempertimbangkan pendekatan yang lebih bijaksana, seperti mediasi dan penyelesaian internal melalui mekanisme sekolah. Dengan cara ini, masalah dapat diselesaikan dengan lebih baik, tanpa perlu melibatkan hukum yang dapat membawa dampak buruk bagi semua pihak.

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...