Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label sedangtrending

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Delapan Puluh Kalimat Api: Menyusuri Jejak Amran Sulaiman yang Melibas Deru Viral

Ilustrasi foto (merdeka.com) Di tengah deras arus berita yang tenggelam dalam riuh rendah click‑bait, sosok Amran Sulaiman muncul bagai lembayung jingga setelah hujan—tenang, tapi membangkitkan harap. Viral belakangan ini bukan sekadar karena gelora pidato di kampus atau tangisan petani atas kelangkaan pupuk. Ia viral karena ia nyaring, baunya asam, menyayat, namun menyembuhkan. Lahir sebagai Putra Bone, Berdiri sebagai Putra Negeri 🌱 Amran Sulaiman lahir pada 27 April 1968 di Bone, Sulawesi Selatan, dari keluarga besar—ia anak ketiga dari dua belas bersaudara ( en.wikipedia.org ). Bersama debu desa, ia tumbuh dan mengenyam sekolah dasar di Barru, lalu kembali menuntaskan pendidikan di Bone. Rentetan tahun memahat karakter: sederhana, gigih, rindu akan perubahan. Akademisi dan Penemu, dari ‘Tikus Diracun Amran’ Hingga Gelar Doctor Cum Laude Setelah merampungkan strata satu hingga doktoral di Universitas Hasanuddin—seluruhnya cum laude—ia merambah dunia penelitian, mencipta racu...

Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu

  Ilustrasi gambar Puisi:Dalam Hujan Aku Mengenangmu (pixabay.com) Di balik tirai hujan yang menderu   ada kisah yang tak pernah berlalu.   Rintik-rintik itu mengetuk hati,   mengingatkanku pada sepi yang tak henti.   Kau hadir dalam tiap tetes yang jatuh,   seperti embun di pagi yang penuh jenuh.   Kala hujan turun, aku kembali merindu,   pada hadirmu yang kini entah di mana berlalu.   Hujan adalah pertemuan kita yang abadi,   suara gemericiknya seperti suara hati,   yang pelan-pelan mengalirkan luka,   namun juga menyembuhkan rindu yang ada.   Setiap deras, setiap titik,   membawaku jauh ke masa lalu yang klasik,   saat kita duduk di bawah langit kelabu,   berbagi tawa, cerita, dan rindu.   Kini hujan datang tanpa tawamu,   namun kenangan itu masih kerap menghibur pilu.   Kau yang pernah memeluk dalam k...

Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati

Ilustrasi foto Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati ( https://pixabay.com/id/illustrations/gadis-bermimpi-mimpi-melamun-sedih-7356696/) Aku duduk di tepi jendela kafe kecil yang sering kita kunjungi. Aroma kopi memenuhi udara, mengingatkanku pada perbincangan kita yang dulu penuh canda tawa. Sekarang, kafe ini menjadi saksi bisu atas kebingungan dan kekacauan yang melanda hatiku. Di sinilah tempat aku pertama kali menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara kita, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persahabatan. Aku selalu berpikir bahwa aku mengenalmu luar dalam, namun ternyata tidak. Kau menyimpan rahasia yang akhirnya membuatku terjebak dalam cinta segitiga yang tak pernah kuinginkan. Kita sering bertemu, berdua saja. Saat itu, aku merasa aman. Dunia serasa menyempit hanya untuk kita. Namun, seiring waktu, perasaan itu berubah. Bukan karena aku ingin, tapi karena kehadiran orang ketiga—dia, seseorang yang datang tanpa aku duga, yang merenggut sebagian dari duniamu yang dulu...

Cerita Pendek: Perdebatan sang koki terhadap Kecap: Sedap vs. Bango

Ilusi foto Cerita Pendek: Perdebatan sang koki terhadap Kecap: Sedap vs. Bango https://pixabay.com/id/photos/ayam-goreng-daging-kambing-goreng-721996 9/ Di sebuah dapur rumah makan sederhana di pinggiran kota, dua orang juru masak sedang sibuk menyiapkan hidangan untuk para pelanggan. Pak Darto, koki senior yang telah bekerja selama lebih dari dua puluh tahun, berdiri di dekat kompor dengan cekatan mengaduk-aduk wajan. Di sudut lain, Budi, juru masak muda yang baru direkrut, sedang memotong sayuran dengan teliti. Namun, aroma yang biasanya menenangkan di dapur itu mulai berubah ketika topik yang dianggap remeh tiba-tiba memicu perdebatan sengit: kecap. Pak Darto, dengan wajah penuh keyakinan, memandang ke arah Budi yang sedang bersiap menambahkan kecap ke dalam adonan semur. Namun, mata Pak Darto menyipit ketika melihat botol yang dipegang Budi. "Eh, itu kecap apa yang kamu pakai, Bud?" tanya Pak Darto sambil meletakkan spatula dan melipat tangan di depan dada. Budi tersenyum...