Tampilkan postingan dengan label romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romantis. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2026

Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan

Ilustrasi foto  Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan

Malam selalu punya cara sendiri untuk membuka rahasia.
Terutama malam ketika masjid sunyi, lampu diredupkan, dan manusia berdiri menghadap Tuhan dengan luka yang tak sempat diceritakan.

Aku berdiri di saf ketiga, sajadahku sudah basah sebelum takbir pertama dikumandangkan. Bukan karena air wudu, tapi karena dadaku terlalu penuh. Malam itu adalah malam qiyamul lail ke tujuh di bulan Ramadhan, dan aku tahu—doaku malam ini bukan hanya tentang dosa, tapi tentang cinta yang terjepit di antara iman dan perasaan.

Namanya Alya.

Ia berdiri di saf perempuan, dibatasi hijab hijab panjang dan tembok tipis masjid. Tapi aku mengenalnya dari suaranya. Doanya selalu lirih, seolah takut didengar manusia, tapi ingin didengar langit.

Dan satu hal yang membuat dadaku semakin sesak:
Alya bukan hanya milikku untuk didoakan.
Ia juga didoakan oleh sahabatku sendiri—Rizal.

Imam mengangkat tangan.

“Allahu Akbar.”

Aku ikut mengangkat tangan, tapi pikiranku tertinggal di percakapan sore tadi, di teras masjid.

“Antum kenal Alya, kan?” tanya Rizal sambil menatap halaman mushaf.

Aku diam. Terlalu lama.

Rizal tersenyum kecil. “Aku berniat ta’aruf dengannya setelah Ramadhan.”

Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti pisau yang perlahan menekan dadaku.

“MasyaAllah,” jawabku akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Semoga Allah mudahkan.”

Padahal dalam hatiku, aku ingin berteriak: aku lebih dulu mengenalnya, aku lebih dulu jatuh, aku lebih dulu menahan rasa ini demi adab.

Di rakaat pertama, imam membaca ayat tentang kesabaran. Aku ingin tertawa pahit. Seolah Allah sengaja menelanjangiku di hadapan-Nya sendiri.

Ketika sujud, keningku menempel sajadah, dan air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Ya Allah… jika dia bukan untukku, tolong cabut perasaan ini perlahan. Jangan biarkan aku menjadi pendosa karena cinta yang kupelihara diam-diam.

Namun doa itu tidak selesai. Dadaku justru semakin sesak.

Di rakaat ketiga, aku mendengar isak tertahan dari saf perempuan. Aku mengenal suara itu. Alya. Ia menangis seperti seseorang yang sedang kalah oleh dirinya sendiri.

Selesai shalat, masjid tetap sunyi. Banyak yang memilih berdiam, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an. Aku memilih duduk di serambi, berharap udara malam bisa menenangkan pikiranku.

Tapi langkah kaki mendekat.

“Mas,” suara itu lembut, ragu.

Aku menoleh. Alya berdiri dengan jilbab abu-abu, matanya sembab, tapi sorotnya jujur.

“Iya?” jawabku.

Ia duduk dengan jarak yang terjaga. Diam beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Kalau seseorang menyimpan perasaan terlalu lama… apakah itu salah di mata Allah?”

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras dari pengakuan langsung.

Aku menelan ludah. “Tergantung… perasaan itu dijaga atau dibiarkan melampaui batas.”

Alya menunduk. “Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut cintaku justru menjauhkan aku dari Allah.”

Kalimat itu menusuk, karena aku berada di ketakutan yang sama.

“Alya,” kataku pelan, “cinta tidak pernah salah. Yang sering salah adalah cara kita memeluknya.”

Ia mengangkat wajahnya. Mata kami bertemu. Detik itu, aku tahu: perasaan ini tidak sepihak.

Namun langkah kaki lain terdengar.

“MasyaAllah, ternyata antum di sini.”

Rizal.

Aku dan Alya refleks berdiri. Suasana berubah kaku.

“Aku hanya ingin memastikan Alya pulang dengan aman,” lanjut Rizal sambil tersenyum. “Malam begini rawan.”

Alya mengangguk. “Iya… aku juga mau pamit.”

Sebelum pergi, ia menatapku sekali lagi. Tatapan itu seperti kalimat yang tak berani diucapkan.

Malam berikutnya, aku kembali ke qiyamul lail. Tapi kali ini aku datang lebih awal, duduk sendirian, dan menulis satu keputusan dalam hatiku.

Di sepertiga malam terakhir, saat imam berdoa panjang, aku mengangkat tangan dengan gemetar.

Ya Allah… aku mencintainya. Tapi jika cinta ini akan melukai saudaraku, jika cinta ini akan mengotori niat ibadahku, maka ambillah aku dari persaingan ini. Menang atau kalah, aku ingin tetap Engkau ridai.

Air mataku jatuh deras. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyerah.

Beberapa hari kemudian, Rizal menemuiku.

“Antum… aku ingin jujur,” katanya. “Alya menolakku.”

Aku terdiam.

“Ia bilang,” lanjut Rizal lirih, “‘Ada nama lain yang selalu kusebut dalam doaku, dan aku tidak ingin memulai dengan kebohongan.’”

Dadaku bergetar.

Rizal tersenyum, tapi matanya basah. “Jaga dia baik-baik. Jangan ulangi kesalahanku.”

Malam itu, aku kembali ke masjid. Alya sudah menungguku di serambi, dengan wajah tenang.

“Aku tidak ingin cinta yang berisik,” katanya pelan. “Aku hanya ingin seseorang yang mau berjuang diam-diam, seperti doanya.”

Aku mengangguk, suaraku hampir tak keluar.
“Mari kita serahkan segalanya pada Allah. Jika memang waktunya, biarlah Dia yang menyatukan.”

Di bawah langit yang gelap, di antara sisa-sisa doa qiyamul lail, aku belajar satu hal:

Cinta paling menegangkan bukanlah yang diperjuangkan dengan suara keras,
melainkan yang diuji dalam diam—
di hadapan Tuhan,
tanpa saksi,
tanpa kepastian,
selain iman.


Selasa, 15 Oktober 2024

Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati

Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati
Ilustrasi foto Cerita Pendek:Di Antara Dua Hati (https://pixabay.com/id/illustrations/gadis-bermimpi-mimpi-melamun-sedih-7356696/)



Aku duduk di tepi jendela kafe kecil yang sering kita kunjungi. Aroma kopi memenuhi udara, mengingatkanku pada perbincangan kita yang dulu penuh canda tawa. Sekarang, kafe ini menjadi saksi bisu atas kebingungan dan kekacauan yang melanda hatiku.


Di sinilah tempat aku pertama kali menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara kita, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persahabatan. Aku selalu berpikir bahwa aku mengenalmu luar dalam, namun ternyata tidak. Kau menyimpan rahasia yang akhirnya membuatku terjebak dalam cinta segitiga yang tak pernah kuinginkan.


Kita sering bertemu, berdua saja. Saat itu, aku merasa aman. Dunia serasa menyempit hanya untuk kita. Namun, seiring waktu, perasaan itu berubah. Bukan karena aku ingin, tapi karena kehadiran orang ketiga—dia, seseorang yang datang tanpa aku duga, yang merenggut sebagian dari duniamu yang dulu utuh milikku.


"Kamu tahu, ada hal yang harus aku ceritakan padamu," ucapmu suatu hari dengan nada lembut tapi penuh keraguan. Mata cokelatmu yang biasanya tenang kini tampak gelisah, seolah enggan mengungkapkan sesuatu yang akan mengubah segalanya.


"Apa itu?" tanyaku sambil meneguk kopiku, berusaha terlihat santai meskipun aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Kau tahu, ada seseorang yang... aku pikir, aku mulai jatuh cinta padanya." Kalimat itu meluncur seperti belati tajam, menghujam relung hatiku.


Dadaku terasa sesak. Aku tersenyum getir. "Siapa?"


Mata kita bertemu sesaat sebelum kau menunduk, menghindari pandanganku. "Dia... temanku yang baru, Aksa."


Nama itu seperti petir di siang bolong. Aksa? Teman yang baru saja kau kenalkan beberapa minggu lalu? Aku ingat betapa hangatnya caramu berbicara tentang dia, bagaimana kau tertawa setiap kali menceritakan kisah konyol yang kau alami dengannya. Tapi aku tak pernah berpikir ini akan terjadi. 


Kau melanjutkan, "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Rasanya salah, tapi aku tak bisa mengabaikannya. Setiap kali aku bersamanya, aku merasa… berbeda."


Seketika, hatiku terasa hancur berkeping-keping, tapi aku berusaha menahan diri. "Dan aku?" tanyaku dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.


"Kamu selalu istimewa," jawabmu cepat. "Kamu adalah sahabat terbaikku. Aku tidak bisa kehilanganmu."


Sahabat? Kalimat itu bagai menambah garam di lukaku yang masih basah. Di sini, di antara kopiku yang mulai mendingin dan deru obrolan orang-orang di sekitarku, aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku tidak pernah menjadi lebih dari itu bagimu. Aku hanya sahabat—sementara hatiku mendambakan lebih.


***


Waktu berlalu, dan meskipun aku mencoba melupakan percakapan itu, aku selalu merasa ada sesuatu yang berubah. Pertemuan kita tidak lagi sehangat dulu. Kamu seringkali datang dengan pikiran yang melayang jauh, dan tanpa sadar, setiap kali kita berbicara, Aksa selalu menjadi topik pembicaraan yang tak terhindarkan. Aku mulai membenci namanya, membenci bayangan sosoknya yang entah bagaimana telah merenggutmu dariku.


Suatu hari, kau mengajakku bertemu di tempat biasa. Kali ini, aku datang dengan firasat buruk. Perasaanku tidak pernah salah. Ketika aku tiba, kau sudah duduk di sudut kafe, terlihat gusar.


"Aku ingin bicara lagi," katamu tanpa basa-basi. 


Aku duduk di depanmu, bersiap untuk apa pun yang akan kau katakan. "Apa ini tentang Aksa?"


Kamu mengangguk pelan. "Aku merasa bersalah karena tidak jujur padamu. Aku tahu perasaanmu, aku bukan bodoh. Dan aku sangat menghargai persahabatan kita. Tapi semakin lama aku menghabiskan waktu bersamanya, semakin sulit bagiku untuk mengabaikan perasaanku sendiri."


Aku tersenyum getir. "Jadi, apa yang kamu inginkan dari semua ini?"


"Aku ingin semuanya tetap seperti dulu. Aku tidak ingin kehilangan kamu, tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri tentang perasaanku pada Aksa."


Aku menelan ludah, mencoba meredam rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku. "Kamu tidak bisa memiliki keduanya," kataku dengan tegas, meskipun hatiku hancur saat kata-kata itu keluar dari mulutku. "Jika kamu memilih dia, aku harus pergi. Aku tidak bisa hanya menjadi teman saat aku tahu aku ingin lebih dari itu."


Suasana hening sejenak, hanya ada suara detak jantungku yang bergemuruh di telinga. Kau terdiam, dan di saat itulah aku tahu jawabannya. Kau tidak perlu mengucapkannya. Pilihanmu sudah jelas.


***


Beberapa minggu kemudian, kita jarang bertemu. Kau mulai semakin sibuk dengan duniamu yang baru, dan aku memutuskan untuk menjaga jarak. Aku berusaha menerima kenyataan, meskipun hatiku tak henti-hentinya mempertanyakan mengapa semua ini harus terjadi.


Namun, suatu sore, ketika aku sedang duduk di kafe yang sama, tiba-tiba kau datang. Matamu sembab, wajahmu penuh dengan ekspresi campur aduk antara penyesalan dan kebingungan.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaku ragu.


"Aku... Aku sudah putus dengan Aksa," jawabmu pelan, seperti butiran hujan yang jatuh di kaca jendela.


Aku terdiam. Hatiku berdebar. "Kenapa?"


"Aku salah. Aku pikir aku mencintainya, tapi ternyata tidak. Aku bingung, dan aku menyadari bahwa aku telah menyakiti orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku menyakiti kamu."


Seketika, amarah dan cinta berkecamuk dalam diriku. Bagaimana bisa kau datang lagi, seolah-olah semuanya bisa kembali seperti semula? "Kamu pikir semuanya akan selesai begitu saja?" tanyaku, suaraku bergetar menahan emosi.


"Aku tahu tidak semudah itu," jawabmu lirih. "Tapi aku ingin mencoba memperbaiki semuanya."


Aku menatapmu dalam-dalam, mencoba mencari jawaban di balik mata cokelatmu yang kini dipenuhi penyesalan. Mungkin aku masih mencintaimu, mungkin tidak. Namun yang aku tahu, cinta yang pernah ada di antara kita takkan pernah sama lagi.


Mungkin cinta segitiga ini tidak akan pernah benar-benar selesai.

Senin, 07 Oktober 2024

CERITA PENDEK:CINTA TAK TERBALAS

 

CERITA PENDEK:CINTA TAK TERBALAS

Ilusi foto CERITA PENDEK:CINTA TAK TERBALAS (https://pixabay.com/id/photos/pantai-matahari-terbenam-wanita-7714610/)


Matahari tenggelam di balik cakrawala, memancarkan warna jingga yang lembut, sementara aku duduk di tepi danau tempat kita sering bertemu. Aku menunggu, seperti biasa. Selalu menunggu. Angin sore mengibaskan rambutku, memberikan sentuhan dingin di pipiku yang mulai memerah oleh perasaan yang tak lagi dapat kutahan. Aku tahu aku harus mengatakan semuanya hari ini, atau aku akan kehilangan kesempatan itu selamanya.


Kau adalah sosok yang selalu kupuja dalam diam. Sejak kita bertemu beberapa tahun lalu, perasaanku tumbuh begitu dalam dan tak bisa lagi kubendung. Namun, seiring berjalannya waktu, aku semakin menyadari bahwa tidak ada kepastian dalam hubungan kita. Kau sering datang dan pergi, dengan senyuman yang manis, kata-kata yang membuatku merasa istimewa, namun kemudian menghilang dalam kesibukan dunia yang tidak pernah kujamah. Aku hanyalah seorang gadis biasa, sedang kau adalah seseorang yang selalu tampak terlalu jauh untuk kugapai.


Di sisi lain, aku tak pernah menyerah. Setiap detik bersamamu adalah kebahagiaan yang tak tergantikan. Maka hari ini, aku ingin mengatakan padamu, dengan segala keberanian yang tersisa, bahwa aku mencintaimu. Lebih dari sekadar sahabat, lebih dari sekadar teman.


Langkah kaki terdengar dari arah belakangku. Aku menoleh dan melihatmu berjalan mendekat dengan senyummu yang begitu akrab. Senyum itu selalu berhasil membuat hatiku berdetak lebih cepat, meskipun seringkali membawa kebingungan. Apa yang kau pikirkan tentang kita selama ini? Apa aku hanya seorang teman bagimu?


"Kau sudah lama menunggu?" tanyamu dengan nada tenang, seperti biasanya.


Aku menggeleng, mencoba menyembunyikan kegugupanku. "Baru saja," jawabku sambil tersenyum kecil, meski hati ini sudah lama menunggu jawaban dari kebingungan yang terus menghantui.


Kau duduk di sampingku, melihat ke arah danau yang tenang. "Aku senang kita bisa bertemu hari ini," katamu.


"Aku juga," kataku. Tetapi di dalam pikiranku, kata-kata lain terus bergulir. *Aku mencintaimu*. Haruskah aku mengatakannya sekarang? Atau menunggu sedikit lagi?


Detik-detik berlalu dalam keheningan, dan akhirnya aku tak tahan lagi. Aku harus melakukannya sekarang atau tidak sama sekali. "Aku ingin bicara sesuatu," kataku dengan suara sedikit bergetar.


Kau menoleh, matamu menatapku dengan penuh perhatian, tapi tanpa ekspresi yang jelas. "Apa itu?"


Jantungku berdebar semakin kencang, tapi aku memaksa diri untuk melanjutkan. "Selama ini... aku menyimpan perasaan untukmu. Lebih dari sekadar teman. Aku mencintaimu." Suaraku terdengar lirih, hampir seperti bisikan.


Keheningan jatuh di antara kita. Aku bisa merasakan jantungku berdetak di telinga, dan perutku terasa melilit. Aku menunggu reaksi darimu, tapi yang aku terima hanyalah ekspresi bingung dan kaget yang sulit kubaca.


"Aku...," kau menghela napas panjang, "Aku tidak tahu harus berkata apa." 


Kata-kata itu menghantamku seperti badai. Hati ini terasa remuk, tapi aku tetap menunggu penjelasan. "Kau tidak tahu? Apa maksudmu?" tanyaku, suaraku terdengar serak.


"Aku menghargai perasaanmu. Kamu adalah orang yang sangat berarti bagiku. Tapi...," kata-katamu terhenti sejenak, seolah-olah kau mencoba menemukan cara terbaik untuk menyampaikan sesuatu yang sulit.


"Tapi apa?" desakku.


"Tapi aku tidak bisa mencintaimu seperti yang kamu inginkan. Aku tidak pernah melihatmu lebih dari seorang teman," jawabmu akhirnya, matamu penuh rasa bersalah.


Dunia di sekelilingku seolah runtuh. Udara yang kurasakan seperti hilang, dan aku hanya bisa terdiam, mencerna kenyataan yang baru saja kau sampaikan. Segala harapan yang selama ini kugenggam erat, mendadak hancur berkeping-keping.


"Tidak bisakah kau mencoba...?" tanyaku dengan nada lirih, memohon agar kau memberiku sedikit harapan.


"Aku minta maaf. Aku tidak ingin menyakitimu, tapi aku sudah mencintai orang lain," katamu pelan. "Aku sebenarnya ingin memberitahumu tadi, tapi... Aku akan menikah minggu depan."


Hening. Aku tidak bisa berkata-kata. Pikiran itu seperti pisau yang menusuk tepat di hatiku. Menikah? Orang lain? Tidak, ini tidak mungkin. Hatiku terasa seperti dirobek-robek. Semua perjuangan, harapan, doa yang kubangun selama ini... semuanya sia-sia.


"Aku ingin kamu tahu bahwa kau tetap penting bagiku," lanjutmu, tapi aku hampir tidak mendengarnya. Semua yang kau katakan terdengar jauh, seperti bayangan samar yang menghilang di balik kabut. Air mata mulai menggenang di mataku, dan aku tidak bisa lagi menahannya. Kau melihatnya, dan aku bisa merasakan rasa bersalahmu semakin dalam.


"Tolong... maafkan aku," katamu, namun itu tidak lagi berarti.


Aku berdiri, menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang sudah jatuh. "Aku tidak bisa berada di sini," kataku akhirnya, suaraku nyaris tak terdengar.


Aku meninggalkanmu di sana, di tepi danau yang dulunya penuh dengan kenangan indah. Setiap langkah terasa berat, tapi aku harus pergi. Jika aku terus berada di dekatmu, aku akan terus terluka. Kau telah membuat keputusanmu, dan aku tidak bisa mengubah itu.


Malam itu, di bawah langit yang gelap, aku berjalan tanpa arah, dengan hati yang kosong dan terluka. Cinta yang kupikir akan membuatku bahagia, ternyata justru menghancurkanku. Perjuanganku selama ini sia-sia. Tapi aku tahu, pada akhirnya, aku harus melepaskan. Tidak ada lagi yang bisa kuperjuangkan. Kau sudah memilih jalanmu, dan aku harus mencari jalan untuk menyembuhkan diriku sendiri, meskipun itu terasa mustahil.


Di penghujung malam, aku menyadari bahwa terkadang, meski kita mencintai seseorang dengan seluruh hati, cinta itu tidak selalu terbalas. Dan pada akhirnya, mungkin itu bukan tentang bagaimana kita bisa memilikinya, tetapi bagaimana kita bisa belajar untuk melepaskannya, demi kebahagiaan yang lebih besar—bahkan jika itu bukan kebahagiaan kita.


Namun, meskipun begitu, di balik setiap air mata dan luka, aku tahu aku akan bangkit kembali. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok, tetapi suatu hari nanti. Dan saat hari itu tiba, aku akan tersenyum pada kenangan ini, meski pahit, dan mengucapkan selamat tinggal dengan hati yang telah sembuh.

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...