Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan

Ilustrasi foto  Di Antara Doa yang Tak Pernah Disebutkan

Malam selalu punya cara sendiri untuk membuka rahasia.
Terutama malam ketika masjid sunyi, lampu diredupkan, dan manusia berdiri menghadap Tuhan dengan luka yang tak sempat diceritakan.

Aku berdiri di saf ketiga, sajadahku sudah basah sebelum takbir pertama dikumandangkan. Bukan karena air wudu, tapi karena dadaku terlalu penuh. Malam itu adalah malam qiyamul lail ke tujuh di bulan Ramadhan, dan aku tahu—doaku malam ini bukan hanya tentang dosa, tapi tentang cinta yang terjepit di antara iman dan perasaan.

Namanya Alya.

Ia berdiri di saf perempuan, dibatasi hijab hijab panjang dan tembok tipis masjid. Tapi aku mengenalnya dari suaranya. Doanya selalu lirih, seolah takut didengar manusia, tapi ingin didengar langit.

Dan satu hal yang membuat dadaku semakin sesak:
Alya bukan hanya milikku untuk didoakan.
Ia juga didoakan oleh sahabatku sendiri—Rizal.

Imam mengangkat tangan.

“Allahu Akbar.”

Aku ikut mengangkat tangan, tapi pikiranku tertinggal di percakapan sore tadi, di teras masjid.

“Antum kenal Alya, kan?” tanya Rizal sambil menatap halaman mushaf.

Aku diam. Terlalu lama.

Rizal tersenyum kecil. “Aku berniat ta’aruf dengannya setelah Ramadhan.”

Kalimat itu sederhana. Tapi rasanya seperti pisau yang perlahan menekan dadaku.

“MasyaAllah,” jawabku akhirnya, berusaha terdengar tenang. “Semoga Allah mudahkan.”

Padahal dalam hatiku, aku ingin berteriak: aku lebih dulu mengenalnya, aku lebih dulu jatuh, aku lebih dulu menahan rasa ini demi adab.

Di rakaat pertama, imam membaca ayat tentang kesabaran. Aku ingin tertawa pahit. Seolah Allah sengaja menelanjangiku di hadapan-Nya sendiri.

Ketika sujud, keningku menempel sajadah, dan air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Ya Allah… jika dia bukan untukku, tolong cabut perasaan ini perlahan. Jangan biarkan aku menjadi pendosa karena cinta yang kupelihara diam-diam.

Namun doa itu tidak selesai. Dadaku justru semakin sesak.

Di rakaat ketiga, aku mendengar isak tertahan dari saf perempuan. Aku mengenal suara itu. Alya. Ia menangis seperti seseorang yang sedang kalah oleh dirinya sendiri.

Selesai shalat, masjid tetap sunyi. Banyak yang memilih berdiam, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an. Aku memilih duduk di serambi, berharap udara malam bisa menenangkan pikiranku.

Tapi langkah kaki mendekat.

“Mas,” suara itu lembut, ragu.

Aku menoleh. Alya berdiri dengan jilbab abu-abu, matanya sembab, tapi sorotnya jujur.

“Iya?” jawabku.

Ia duduk dengan jarak yang terjaga. Diam beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Kalau seseorang menyimpan perasaan terlalu lama… apakah itu salah di mata Allah?”

Pertanyaan itu menghantamku lebih keras dari pengakuan langsung.

Aku menelan ludah. “Tergantung… perasaan itu dijaga atau dibiarkan melampaui batas.”

Alya menunduk. “Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut cintaku justru menjauhkan aku dari Allah.”

Kalimat itu menusuk, karena aku berada di ketakutan yang sama.

“Alya,” kataku pelan, “cinta tidak pernah salah. Yang sering salah adalah cara kita memeluknya.”

Ia mengangkat wajahnya. Mata kami bertemu. Detik itu, aku tahu: perasaan ini tidak sepihak.

Namun langkah kaki lain terdengar.

“MasyaAllah, ternyata antum di sini.”

Rizal.

Aku dan Alya refleks berdiri. Suasana berubah kaku.

“Aku hanya ingin memastikan Alya pulang dengan aman,” lanjut Rizal sambil tersenyum. “Malam begini rawan.”

Alya mengangguk. “Iya… aku juga mau pamit.”

Sebelum pergi, ia menatapku sekali lagi. Tatapan itu seperti kalimat yang tak berani diucapkan.

Malam berikutnya, aku kembali ke qiyamul lail. Tapi kali ini aku datang lebih awal, duduk sendirian, dan menulis satu keputusan dalam hatiku.

Di sepertiga malam terakhir, saat imam berdoa panjang, aku mengangkat tangan dengan gemetar.

Ya Allah… aku mencintainya. Tapi jika cinta ini akan melukai saudaraku, jika cinta ini akan mengotori niat ibadahku, maka ambillah aku dari persaingan ini. Menang atau kalah, aku ingin tetap Engkau ridai.

Air mataku jatuh deras. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyerah.

Beberapa hari kemudian, Rizal menemuiku.

“Antum… aku ingin jujur,” katanya. “Alya menolakku.”

Aku terdiam.

“Ia bilang,” lanjut Rizal lirih, “‘Ada nama lain yang selalu kusebut dalam doaku, dan aku tidak ingin memulai dengan kebohongan.’”

Dadaku bergetar.

Rizal tersenyum, tapi matanya basah. “Jaga dia baik-baik. Jangan ulangi kesalahanku.”

Malam itu, aku kembali ke masjid. Alya sudah menungguku di serambi, dengan wajah tenang.

“Aku tidak ingin cinta yang berisik,” katanya pelan. “Aku hanya ingin seseorang yang mau berjuang diam-diam, seperti doanya.”

Aku mengangguk, suaraku hampir tak keluar.
“Mari kita serahkan segalanya pada Allah. Jika memang waktunya, biarlah Dia yang menyatukan.”

Di bawah langit yang gelap, di antara sisa-sisa doa qiyamul lail, aku belajar satu hal:

Cinta paling menegangkan bukanlah yang diperjuangkan dengan suara keras,
melainkan yang diuji dalam diam—
di hadapan Tuhan,
tanpa saksi,
tanpa kepastian,
selain iman.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Lonceng Akhir