![]() |
| Foto Cerita PIlustrasi endek: Aku Mencintaimu di Saat yang Salah |
Aku menuliskan kisah ini bukan untuk mencari simpati, melainkan agar
ingatanku punya tempat beristirahat. Karena cinta yang kupendam terlalu lama
berubah menjadi luka yang tak tahu cara sembuh. Dan namamu—selalu muncul di
antara doa dan penyesalan.
Aku mengenalmu pada malam yang dingin, ketika hujan turun seperti ingin
menghapus kota. Kamu berdiri di bawah lampu jalan, wajahmu setengah cahaya,
setengah gelap. Sejak saat itu aku tahu, mencintaimu akan membuatku akrab
dengan kehilangan.
“Kamu percaya cinta bisa menyelamatkan seseorang?” tanyamu saat pertama
kali kami berbincang.
Aku menggeleng pelan. “Aku percaya cinta hanya mengajarkan cara
bertahan.”
Kamu tersenyum getir. “Berarti kita sama-sama sudah lelah.”
Aku jatuh cinta bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu retak—dan
retakan itu memantulkan diriku sendiri. Aku mencintaimu dalam diam, dalam
tatapan panjang, dalam kalimat-kalimat yang tak pernah selesai.
Namun aku bukan satu-satunya.
Ada Dira—sahabatku sejak lama. Ia adalah orang yang tahu caraku
mencintai dengan membabi buta, caraku terluka tanpa suara. Ia sering menepuk
pundakku dan berkata, “Tenang, semua akan baik-baik saja,” seolah ia yakin pada
dunia lebih dari siapa pun.
Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga.
“Dia orang yang sering kuceritakan,” kataku.
Kamu tersenyum padanya. Terlalu lama. Terlalu dalam.
Sejak hari itu, aku mulai merasa asing di antara dua orang yang kucintai.
Kamu dan Dira sering berbicara tanpa melibatkanku. Tertawa dengan bahasa yang
tak kumengerti. Aku menjadi penonton dalam kisah yang kupikir milikku.
“Ada apa antara kalian?” tanyaku suatu malam.
Kamu menunduk. “Aku tak bermaksud.”
“Tak bermaksud apa?” suaraku bergetar.
“Aku merasa hidup saat bersamanya,” jawabmu jujur. “Dan aku merasa tenang
saat bersamamu.”
Aku tertawa lirih. “Kamu ingin hidup atau ingin tenang?”
Kamu menangis. “Aku ingin bahagia.”
Bahagia—kata itu selalu meminta korban.
Dira akhirnya bicara.
“Aku mencintainya,” katanya tanpa menatapku. “Dan aku membenciku karena
itu.”
“Kamu tahu aku mencintainya,” jawabku.
“Aku tahu. Tapi perasaan tidak mengenal etika.”
Kami bertiga terjebak dalam lingkaran dosa yang tak kami rencanakan.
Cinta berubah menjadi saling menyakiti tanpa pisau. Hingga kamu mengajak kami
bertemu di bangunan tua dekat sungai—tempat orang-orang biasanya membuang
kenangan.
“Aku ingin mengakhiri ini,” katamu.
“Dengan memilih?” tanyaku.
“Atau dengan pergi,” jawabmu.
Angin malam menusuk tulang. Sungai mengalir deras, gelap, dan
dingin—seperti hatiku saat itu.
“Kamu tak harus pergi,” kata Dira.
“Kalian berdua pantas hidup tanpa rasa bersalah,” jawabmu. “Dan aku
sumbernya.”
Aku melangkah mendekat. “Kalau kamu pergi, aku mati perlahan.”
Kamu menatapku, lama. “Kamu sudah mati sejak mencintaiku.”
Kalimat itu lebih tajam dari pisau mana pun.
Kamu berdiri di tepi bangunan. Aku berlari. Dira berteriak. Dunia seakan
berhenti bernapas.
“Aku mencintaimu,” teriakku. “Dengan seluruh luka yang kupunya!”
Kamu tersenyum—senyum terakhir yang masih menghantuiku hingga kini.
“Aku tahu,” katamu. “Itulah sebabnya aku harus pergi.”
Tubuhmu jatuh. Sunyi datang setelahnya. Sunyi yang tidak ramah, tidak
memeluk—hanya menghakimi.
Aku berteriak sampai suaraku hilang. Dira jatuh terduduk, tangannya
gemetar. Sungai membawa namamu menjauh, dan aku tak bisa apa-apa selain
menyaksikan cinta tenggelam bersama waktu.
Kini, aku hidup dengan napas yang tertunda. Setiap malam, aku mendengar
suaramu memanggil namaku dari dasar ingatan. Aku mencintaimu, tapi cinta itu
membunuhmu—dan meninggalkanku hidup sebagai hukuman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar