![]() |
| ilustrasi foto Cerita Pendek: Namamu di Antara Dua Luka |
Aku selalu percaya cinta datang untuk menyembuhkan. Tapi malam itu, di bawah langit yang seolah retak oleh hujan, aku belajar bahwa cinta juga bisa menjadi pisau paling tajam yang menusuk tanpa ampun.
Aku mengenal Nara sejak hujan pertama bulan Januari. Ia datang ke hidupku seperti doa yang dikabulkan diam-diam. Senyumnya sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia yang ribut ini menjadi sunyi sesaat.
“Kamu percaya takdir?” tanyanya suatu sore, ketika kami duduk di bangku taman kota.
Aku tersenyum. “Aku percaya pertemuan. Soal takdir, aku masih ragu.”
Ia tertawa kecil. “Berarti aku hanya kebetulan bagimu?”
“Tidak,” jawabku cepat. “Kamu alasan.”
Sejak saat itu, kami menjadi dua orang yang saling menemukan rumah dalam percakapan. Kami berbagi cerita, luka, dan mimpi-mimpi kecil yang kami lipat rapi agar tidak terlalu berharap. Aku jatuh cinta tanpa sadar. Terlalu dalam, terlalu cepat.
Namun cinta jarang datang sendirian.
Di antara kami, ada Raka—sahabatku sejak bangku kuliah. Ia orang yang mengenalku lebih lama daripada Nara mengenalku. Ia tahu caraku mencintai, caraku cemburu, bahkan caraku berbohong pada diri sendiri.
“Aku rasa Nara menyukaimu,” katanya suatu malam saat kami minum kopi.
Aku menghela napas. “Aku juga menyukainya.”
Raka terdiam. Matanya menunduk, jari-jarinya meremas cangkir.
“Ada apa?” tanyaku.
Ia mengangkat wajahnya, tersenyum paksa. “Tidak apa-apa. Aku hanya… takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan.”
Aku tak mengerti saat itu. Aku kira ia takut kehilanganku sebagai sahabat. Aku salah besar.
Beberapa minggu kemudian, Nara mulai berubah. Ia sering membalas pesanku singkat, kadang hanya satu kata. Senyumnya masih ada, tapi matanya seperti menyimpan rahasia yang tak lagi ingin dibagi denganku.
“Kamu kenapa?” tanyaku suatu malam.
Ia menggigit bibirnya. “Aku bingung.”
“Bingung tentang apa?”
“Perasaan,” jawabnya lirih.
Aku mendekat. “Kita bisa membicarakannya.”
Ia menatapku lama. “Aku tidak ingin menyakitimu.”
Kalimat itu seperti hujan es yang jatuh di dadaku. Dingin. Perih.
“Kamu mencintai orang lain?” tanyaku, hampir berbisik.
Ia terdiam. Diamnya adalah pengakuan paling kejam.
“Aku tidak merencanakannya,” katanya akhirnya. “Aku tidak ingin ini terjadi.”
“Siapa dia?”
Ia menutup mata. Air mata jatuh tanpa suara.
“Raka.”
Dunia seketika runtuh. Nama itu bergema di kepalaku, memantul-mantul seperti palu yang menghantam nalar. Sahabatku. Orang yang kupercaya menjaga punggungku, ternyata berdiri tepat di hadapanku—menyimpan pisau.
“Sejak kapan?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Sejak aku sering bertemu dengannya. Ia mendengarkanku… dengan cara yang berbeda.”
Aku tertawa getir. “Berarti selama ini aku hanya penonton?”
“Tidak,” katanya cepat. “Kamu berarti. Tapi perasaanku terbelah.”
Aku berdiri. Kakiku gemetar, tapi aku memaksa diri tegak.
“Aku tidak bisa berada di tengah-tengah ini,” kataku. “Pilihlah.”
Nara menangis. “Aku benci harus memilih.”
Namun cinta tak pernah adil. Ia selalu menuntut keputusan.
Aku pergi malam itu dengan dada kosong. Kupikir aku akan kehilangan Nara. Tapi ternyata aku kehilangan lebih dari itu.
Beberapa hari kemudian, Raka menemuiku.
“Aku tidak bermaksud mengkhianatimu,” katanya.
Aku menatapnya tajam. “Tapi kamu melakukannya.”
“Aku mencintainya,” ucapnya jujur.
“Dan kamu pikir itu membenarkan segalanya?”
Ia menunduk. “Aku siap mundur jika itu membuatmu utuh kembali.”
Aku tertawa pahit. “Terlambat.”
Kami bertiga terjebak dalam lingkaran luka yang saling melukai. Hingga suatu malam, Nara mengirim pesan singkat:
Aku ingin bertemu. Terakhir.
Kami bertemu di jembatan tua—tempat pertama kali aku mengajaknya berjalan. Hujan turun deras, seolah langit pun ikut menangis.
“Aku memilih,” katanya dengan suara gemetar.
Aku menatapnya, berharap, sekaligus takut.
“Aku memilih pergi,” lanjutnya. “Aku tidak ingin salah satu dari kalian hancur karena aku.”
“Nara, jangan bodoh,” kataku.
Ia tersenyum sedih. “Aku sudah terlalu bodoh sejak jatuh cinta pada dua orang.”
Raka melangkah maju. “Kami bisa memperbaiki ini.”
Ia menggeleng. “Tidak semua yang rusak harus diperbaiki. Ada yang harus diakhiri.”
Ia melangkah mundur, terlalu dekat dengan tepi jembatan.
“Nara!” aku berteriak.
“Aku mencintaimu,” katanya menatapku. “Dengan caraku. Dan aku juga mencintainya.”
Lalu segalanya terjadi begitu cepat. Langkahnya terpeleset. Tangannya terulur. Aku mencoba meraih, tapi hujan, licin, dan jarak mengkhianati kami.
Tubuhnya jatuh. Suara air menelan namanya.
Aku berteriak sampai suaraku patah. Raka terduduk, menangis seperti anak kecil.
Sejak malam itu, cinta tidak lagi sama bagiku. Aku kehilangan Nara, dan kehilangan Raka—bukan karena ia pergi, tapi karena kami tak lagi bisa saling menatap tanpa melihat bayangan kematian.
Dan aku—aku adalah orang yang hidup paling lama dengan luka itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar