Puisi:“Doa yang Percaya pada Dusta” Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi, seperti malam yang setia menunggu fajar tanpa pernah menuntut matahari untuk berjanji. Kau datang membawa kata-kata manis yang kuterima seperti doa, kugenggam seperti kebenaran, tanpa kusadari sebagian darinya adalah dusta yang dibungkus rindu. Aku percaya pada matamu, pada jeda napasmu saat menyebut namaku, pada tanganmu yang seolah tahu cara menenangkan dunia di dadaku. Namun cinta rupanya tak selalu jujur, kadang ia menyamar sebagai harapan hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh keyakinan sendiri. Kau bersumpah tinggal, namun diam-diam menyiapkan perpisahan. Kau menanam janji di hatiku lalu membiarkannya mati tanpa air kejujuran. Aku bertanya pada diriku: apakah aku terlalu mencinta, atau kau terlalu pandai berpura-pura? Kini aku belajar mencintaimu dari kejauhan, bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai kenangan yang pernah kuanggap masa depan. Aku merapikan luka tanpa berh...
![]() |
| Puisi:“Doa yang Percaya pada Dusta” |
Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi,
seperti malam yang setia menunggu fajar
tanpa pernah menuntut matahari untuk berjanji.
Kau datang membawa kata-kata manis
yang kuterima seperti doa,
kugenggam seperti kebenaran,
tanpa kusadari sebagian darinya adalah dusta
yang dibungkus rindu.
Aku percaya pada matamu,
pada jeda napasmu saat menyebut namaku,
pada tanganmu yang seolah tahu
cara menenangkan dunia di dadaku.
Namun cinta rupanya tak selalu jujur,
kadang ia menyamar sebagai harapan
hanya untuk mengajarkan
bagaimana rasanya ditinggalkan
oleh keyakinan sendiri.
Kau bersumpah tinggal,
namun diam-diam menyiapkan perpisahan.
Kau menanam janji di hatiku
lalu membiarkannya mati tanpa air kejujuran.
Aku bertanya pada diriku:
apakah aku terlalu mencinta,
atau kau terlalu pandai berpura-pura?
Kini aku belajar mencintaimu dari kejauhan,
bukan sebagai kekasih,
melainkan sebagai kenangan
yang pernah kuanggap masa depan.
Aku merapikan luka
tanpa berharap kau kembali,
sebab cinta yang didustai
tak pantas diperjuangkan dua kali.
Namun dengarlah,
meski hatiku retak oleh kebohonganmu,
aku tidak membencimu.
Aku hanya mengikhlaskan diriku sendiri,
memaafkan rasa percaya yang terlalu polos,
dan membiarkan cinta ini pulang
tanpa membawa namamu lagi.

Komentar
Posting Komentar