Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
Cerita Pendek :Bayang-Bayang di Balik Pembangunan Desa Foto: Ilustrasi jalan rusak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) https://www.cnbcindonesia.com/news/20230124155957-4-407862/jalanan-di-jambi-rusak-parah-bina-marga-ogah-turun-tangan Aku memandangi deretan genting baru di balai desa. Udara sore itu sedikit berdebu, bekas galian yang masih terbuka di tengah-tengah lapangan. Mungkin orang-orang desa akan memuji pembangunan ini sebagai langkah maju. Tapi aku tahu, semua ini hanya fatamorgana. Namaku Bima, dan aku salah satu dari sekian orang yang tahu apa yang terjadi di balik layar. Sejak dana desa mulai mengalir deras dari pusat, desaku memang berubah. Jalan-jalan baru dibuka, jembatan-jembatan diperbaiki, tapi yang lebih banyak terlihat adalah rumah kepala desa yang tiba-tiba saja menjulang tinggi, berdiri megah dengan cat mencolok di pinggir jalan. Semua orang tahu tapi memilih diam. Aku sendiri, sampai detik ini, hanya bisa meremas kepalan tangan tiap kali melintas di depan...