Delapan Puluh Kalimat Api: Menyusuri Jejak Amran Sulaiman yang Melibas Deru Viral
Ilustrasi foto (merdeka.com) Di tengah deras arus berita yang tenggelam dalam riuh rendah click‑bait, sosok Amran Sulaiman muncul bagai lembayung jingga setelah hujan—tenang, tapi membangkitkan harap. Viral belakangan ini bukan sekadar karena gelora pidato di kampus atau tangisan petani atas kelangkaan pupuk. Ia viral karena ia nyaring, baunya asam, menyayat, namun menyembuhkan. Lahir sebagai Putra Bone, Berdiri sebagai Putra Negeri 🌱 Amran Sulaiman lahir pada 27 April 1968 di Bone, Sulawesi Selatan, dari keluarga besar—ia anak ketiga dari dua belas bersaudara ( en.wikipedia.org ). Bersama debu desa, ia tumbuh dan mengenyam sekolah dasar di Barru, lalu kembali menuntaskan pendidikan di Bone. Rentetan tahun memahat karakter: sederhana, gigih, rindu akan perubahan. Akademisi dan Penemu, dari ‘Tikus Diracun Amran’ Hingga Gelar Doctor Cum Laude Setelah merampungkan strata satu hingga doktoral di Universitas Hasanuddin—seluruhnya cum laude—ia merambah dunia penelitian, mencipta racu...