Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut
![]() |
| Di Antara Mahallul Qiyam dan Nama yang Tak Berani Kusebut |
Mahallul qiyam selalu memiliki getar yang berbeda. Ketika syair shalawat dilantunkan, ketika tubuh serempak bangkit dari duduk, seolah ada sesuatu yang ikut berdiri di dalam dada—rindu, harap, dan ketakutan yang tak bisa kusebutkan.
“Qāma nabiyyunā… qāma nabiyyunā…”
Suara rebana beradu pelan. Aroma minyak wangi dan karpet masjid bercampur dengan desah napas jamaah. Aku menunduk, tanganku terlipat di depan dada, bibirku melafalkan shalawat, tapi hatiku tidak sepenuhnya di sini.
Ia di depanku.
Naila.
Berjilbab putih, berdiri tenang dengan mata terpejam. Wajahnya teduh, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan kesunyian. Setiap kali mahallul qiyam dilantunkan, Naila selalu menangis—bukan tangis keras, hanya air mata yang jatuh pelan, seperti doa yang tak ingin diketahui siapa pun.
Sahabatku. Teman seperjuangan sejak mondok dulu. Orang yang paling kukenal luar dalam. Orang yang—tanpa ia tahu—berdiri di antara aku dan perasaanku sendiri.
Shalawat semakin menguat. Semua berdiri, semua larut. Tapi dadaku justru semakin sempit.
Dan Faris… ia datang dengan niat yang lebih terang, lebih berani, lebih siap.
“Antum kenapa pucat?” bisik Faris beberapa hari lalu, seusai latihan hadrah.
Aku tersenyum tipis. “Kurang tidur.”
Ia tertawa kecil. “Antum harus jaga badan. Apalagi… sebentar lagi aku mau serius.”
“Serius apa?” tanyaku, meski jantungku sudah tahu jawabannya.
Kalimat itu seperti rebana yang dipukul terlalu keras di kepalaku.
“MasyaAllah,” jawabku. Itu saja. Tak lebih. Tak kurang.
Sejak hari itu, setiap mahallul qiyam terasa seperti ujian. Setiap kali berdiri, aku bukan hanya berdiri untuk Rasulullah—aku juga berdiri di antara dua pilihan: jujur atau mengalah.
Shalawat selesai. Jamaah duduk kembali. Aku masih terpaku berdiri beberapa detik lebih lama, berusaha menguasai napas.
“Mas,” suara lembut memanggil.
Aku menoleh. Naila berdiri tak jauh dariku, tangannya menggenggam kitab maulid.
“Iya?”
“Boleh bicara sebentar?”
Kami berjalan ke serambi masjid. Lampu temaram. Malam dingin. Angin membawa sisa-sisa shalawat ke telinga kami.
“Ada apa?” tanyaku.
Aku terkejut. “Kenapa tanya begitu?”
Aku tahu ia tidak menyebut nama. Tapi aku tahu rasa itu.
“Cinta tidak selalu najis,” kataku pelan. “Yang membuatnya berat adalah ketika kita menyimpannya sendirian.”
Naila menatapku. Lama. Dalam. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi ditahan oleh adab.
“Faris… sudah bicara padaku,” katanya akhirnya.
Dadaku mengeras. “Lalu?”
“Aku minta waktu.”
Aku mengangguk. “Antum berhak.”
Ia menarik napas panjang. “Mas,” suaranya bergetar, “kalau ada seseorang yang lebih dulu mencintai, tapi memilih diam karena takut melukai siapa pun… apakah Allah melihatnya?”
Pertanyaan itu membuat lututku lemas.
“Allah melihat segalanya,” jawabku lirih. “Bahkan yang kita kubur paling dalam.”
Malam itu, aku pulang dengan kepala penuh. Aku tahu, diamku justru membuat segalanya semakin rumit.
Beberapa hari kemudian, di acara maulid besar, mahallul qiyam kembali dilantunkan. Kali ini lebih panjang, lebih khusyuk. Jamaah penuh. Rebananya lebih keras. Suaranya menggema hingga ke dadaku.
Aku berdiri. Naila berdiri. Faris berdiri.
Dan di saat semua orang larut dalam shalawat, aku justru merasa paling jauh dari ketenangan.
Tanganku gemetar.
Selesai acara, Faris menghampiriku.
“Antum kenapa murung terus?” tanyanya.
Aku menatap sahabatku itu. Untuk pertama kalinya, aku tak ingin lagi bersembunyi.
“Faris,” kataku, “aku juga mencintai Naila.”
Ia terdiam. Lama. Wajahnya berubah, tapi tidak marah.
“Sejak kapan?” tanyanya pelan.
“Sejak lama,” jawabku jujur. “Tapi aku memilih diam.”
Faris menghela napas. “Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena aku takut kehilangan sahabat.”
Ia tersenyum pahit. “Dan aku takut kehilangan kejujuran.”
Kami duduk di tangga masjid, sunyi di antara kami.
“Aku tidak akan memaksakan apa pun,” kata Faris akhirnya. “Biarkan Naila memilih dengan tenang.”
Aku mengangguk. “Aku pun begitu.”
Beberapa malam kemudian, Naila mengundang kami berdua bicara.
“Aku sudah istikharah,” katanya dengan suara mantap. “Dan aku belajar satu hal: cinta yang baik tidak membuat kita saling melukai.”
Ia menatap Faris. “Antum orang baik. Sangat.”
Lalu menatapku. “Mas… antum memilih diam, tapi doa antum paling keras.”
Aku menahan napas.
“Aku memilih orang yang mencintaiku tanpa harus merebut,” lanjutnya. “Orang yang menunggu di mahallul qiyam, bukan di persaingan.”
Air mataku jatuh.
Malam itu, aku kembali berdiri di mahallul qiyam. Kali ini tanpa gemetar.

Komentar
Posting Komentar