![]() |
| Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar https://sediksi.com/gaya-foto-di-pantai-bersama-pasangan-hijab/ |
Aku menulis kisah ini bukan untuk mengabarkan kemenangan, melainkan untuk mengakui kekalahan yang paling sunyi: kalah oleh perasaan sendiri. Malam itu, malam yang konon lebih baik dari seribu bulan, aku berdiri di antara dua nama—dan tak satu pun mampu kusebut tanpa gemetar.
Masjid tua di ujung kampung menjadi saksi. Dindingnya kusam, karpetnya menyimpan aroma debu dan doa-doa lama. Lampu-lampu temaram menggantung seperti bintang yang kelelahan, berpendar kuning, mengantarkan langkah-langkah kami ke dalam keheningan. Di luar, angin berembus perlahan, membawa sisa-sisa hujan sore, seolah semesta ikut menahan napas menunggu keputusan.
Aku datang lebih awal. Sejak sore, hatiku tak tenang. Ada desakan aneh yang memintaku untuk mengosongkan diri, tapi justru kepalaku dipenuhi satu nama—namamu. Aku menyebutnya berulang-ulang dalam batin, bukan sebagai mantra, melainkan sebagai pengakuan yang tak pernah rampung. Aku takut malam ini Tuhan mendengarnya.
Di saf perempuan, aku duduk bersila, menunduk. Mukena putih menutup kepalaku, tapi tak sanggup menutup kegelisahan. Dari balik tirai tipis, aku tahu kamu ada di sana. Aku tak melihatmu, namun aku merasakan kehadiranmu seperti cahaya yang tak menyilaukan—hangat, menetap, dan membuatku lupa pada arah kiblat sesaat.
Lalu ada dia.
Ia datang setelah azan isya. Langkahnya tenang, wajahnya bersih dari prasangka. Dia adalah yang selalu mengajarkanku untuk menyederhanakan rindu menjadi doa. Yang mengatakan bahwa cinta sejati tak harus gaduh, cukup setia dalam diam. Dia—yang namanya sering kusebut di hadapan manusia, tapi jarang kusebut di hadapan Tuhan.
Aku terjebak di antara dua jalan yang tampak sama-sama lurus. Yang satu menuntunku pada ketenteraman, yang lain membakar dadaku dengan api yang tak pernah padam. Malam Lailatul Qadar itu, aku berharap Tuhan memberiku tanda. Tapi Tuhan, rupanya, lebih suka memberiku keberanian.
Tarawih dimulai. Imam melantunkan ayat-ayat dengan suara yang merambat pelan, seperti air yang mencari celah. Setiap sujud, aku menahan napas. Setiap bangkit, aku menelan air mata. Aku ingin meminta sesuatu yang jelas—tapi kata-kata doaku tercerai-berai, tersangkut di langit-langit masjid.
“Aku tak meminta dipilihkan,” bisikku dalam sujud panjang. “Aku hanya ingin dikuatkan.”
Namun, ketika dahi menyentuh sajadah, nama yang meluncur dari bibirku bukanlah nama yang seharusnya. Itu namamu. Lagi. Dan lagi. Seperti pengkhianatan kecil yang terus kuulang.
Di sela rakaat, aku mencuri pandang. Dari balik tirai, bayanganmu tampak samar. Kamu berdiri tegak, khusyuk, seolah tak membawa apa pun selain iman. Aku iri pada ketenanganmu. Aku ingin menjadi seperti itu—utuh, tak terbelah.
Qiyamul lail dimulai. Masjid kian lengang, tapi jantungku kian ramai. Di sepertiga malam terakhir, doa-doa mengalir seperti sungai yang tak sabar mencapai muara. Orang-orang menangis, tersedu, memohon ampun dan harapan. Aku ikut menangis, tapi alasanku berbeda. Aku menangisi diriku sendiri.
Aku teringat pertemuan pertama denganmu. Bagaimana caramu tersenyum tanpa maksud, bagaimana suaramu menenangkan tanpa janji. Aku teringat percakapan-percakapan yang tak pernah selesai, pesan-pesan yang kubaca berulang-ulang, dan jeda-jeda yang membuatku berharap. Kamu tak pernah meminta apa-apa, tapi kehadiranmu menuntut segalanya.
Sementara dia—ia selalu ada ketika aku jatuh. Ia tak pandai merangkai kata, tapi tangannya kokoh ketika menggenggam. Ia menungguku dengan kesabaran yang tak pernah kutanyakan asalnya. Di hadapannya, aku merasa aman. Tapi entah mengapa, rasa aman itu tak selalu berarti damai.
Di tengah doa panjang, aku merasakan getar di bahuku. Seorang ibu tua di sampingku terisak, memegang tasbihnya erat-erat. Aku membantunya bangkit, lalu kami saling tersenyum kecil. Senyum itu sederhana, tapi menyentuh. Seperti pengingat bahwa hidup tak selalu tentang memilih yang paling membakar, tapi yang paling menguatkan.
Ketika doa hampir usai, imam memohon agar kami dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar. Aku menutup mata. Dalam gelap, aku melihat dua wajah. Keduanya menatapku, menunggu. Aku gemetar. Aku takut salah memilih, takut melukai, takut kehilangan.
“Aku lelah,” kataku dalam hati. “Tuhan, aku lelah mencintai dengan separuh.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menyebut nama-Nya lebih keras daripada namamu. Aku menyebut-Nya dengan suara yang bergetar, dengan dada yang sesak, dengan hati yang nyaris runtuh. Aku menyerahkan semua. Aku lepaskan kendali yang selama ini kugenggam terlalu erat.
Usai doa, orang-orang saling bersalaman. Masjid dipenuhi senyum yang basah oleh air mata. Aku berdiri, merapikan mukena, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian. Di luar, angin berembus lebih dingin. Langit tampak lebih dekat, seolah mendengar semua rahasia yang baru saja ditumpahkan.
Aku melihatmu di serambi. Kamu berdiri sendiri, menatap langit. Ketika mata kita bertemu, aku tahu—kamu tahu. Tak ada kata yang perlu diucapkan. Ada jarak yang tak bisa lagi kututup dengan alasan. Aku melangkah mendekat, lalu berhenti.
“Terima kasih,” kataku pelan. “Untuk semua yang tak pernah kau minta.”
Kamu tersenyum, senyum yang selalu membuatku ingin tinggal. Tapi kali ini, senyum itu terasa seperti perpisahan yang dewasa. Kamu mengangguk, lalu berpaling. Aku tak memanggilmu. Aku membiarkan langkahmu menjauh, membawa sebagian diriku yang harus kulepaskan.
Aku berbalik dan menemukan dia menungguku. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh tanya. Aku mendekat, dan untuk pertama kalinya, aku tak ragu menggenggam tangannya. Genggaman itu sederhana, tak membakar, tapi hangat. Seperti rumah yang akhirnya kutemukan.
“Kita pulang,” katanya.
Aku mengangguk. Dalam perjalanan, aku menoleh sekali ke masjid yang kian sunyi. Aku berterima kasih pada malam yang mengajarkanku kejujuran. Lailatul Qadar tak memberiku jawaban instan, tapi memberiku keberanian untuk berhenti berdusta pada diri sendiri.
Di kamar, sebelum tidur, aku berdoa lagi. Aku menyebut namamu sekali—sebagai kenangan yang kusimpan rapi. Lalu aku menyebut nama-Nya berkali-kali—sebagai janji untuk hidup dengan utuh.
Dan di antara gelap dan terang, aku akhirnya mengerti: cinta yang benar tak selalu membuat kita berdebar, tapi membuat kita berani memilih kebaikan, meski harus melepaskan yang paling kita sebut dalam diam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar