![]() |
| Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan |
Malam itu masjid terasa berbeda. Udara lebih berat, seolah setiap napas membawa beban doa yang tak terucap. Lampu-lampu menggantung pucat, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menunduk, larut dalam keheningan yang suci. Aku duduk di saf kedua dari belakang, sajadahku terlipat rapi, tanganku gemetar memegang tasbih. Di luar, angin Ramadan berdesir pelan. Di dalam, hatiku gaduh oleh satu nama.
Namamu.
Aku menyebut namamu setiap saat—dalam diam, dalam sujud, bahkan dalam jeda antara takbir dan salam. Aku tahu ini malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana langit turun mendekap bumi. Tapi aku juga tahu, di malam yang seharusnya suci ini, hatiku tercabik oleh cinta yang tak selesai.
Kamu duduk di saf depan. Aku bisa mengenalimu hanya dari siluet punggungmu. Bahumu sedikit miring ke kanan, caramu duduk selalu sama sejak dulu. Sejak kita sama-sama belajar mengeja doa di teras rumah ustaz, sejak aku mengenalmu bukan sebagai “dia”, tapi sebagai “rumah”.
Namun malam ini, ada orang lain di antara kita.
Namanya kusebut dalam pikiranku dengan enggan: dia.
Dia duduk di sampingmu. Mukanya teduh, sorot matanya tenang, seperti seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia menunduk khusyuk, seakan tak ada dunia selain Tuhan. Dan mungkin itulah sebabnya kamu memilihnya—karena ia mampu memberi ketenangan yang tak pernah bisa kuberikan.
Imam mulai mengalunkan ayat-ayat panjang. Suaranya bergetar, memecah keheningan, menusuk tepat ke dada. Aku berdiri, mengikuti gerakan shalat, tapi pikiranku tertinggal. Setiap ayat terasa seperti pertanyaan yang dilemparkan Tuhan langsung ke arahku: siapa yang sebenarnya kamu cintai—Aku, atau bayangan yang kamu peluk dalam doa?
Aku menunduk lebih dalam saat rukuk. Air mataku jatuh ke sajadah. Aku malu pada Tuhan, tapi aku lebih takut kehilanganmu.
Aku dan kamu tak pernah benar-benar bersama, tapi juga tak pernah benar-benar berpisah. Kita terjebak di antara kemungkinan dan penundaan. Kau pernah berkata padaku, “Aku menunggumu siap.” Dan aku—bodohnya—mengira waktu akan selalu berpihak.
Sampai dia datang.
Dia datang dengan keyakinan. Dengan doa-doa yang rapi. Dengan masa depan yang bisa kau sebutkan tanpa ragu. Sedangkan aku? Aku hanya datang membawa cinta yang besar, tapi tak tahu harus diletakkan di mana.
Di antara rakaat panjang itu, ingatanku berkelana. Aku teringat malam-malam kita dulu—sahur sederhana, gelas teh hangat, dan obrolan pelan tentang mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk kita. Kamu pernah bersandar di bahuku dan berkata, “Kalau suatu hari aku harus memilih, aku ingin memilih yang membuatku lebih dekat pada Tuhan.”
Kalimat itu kini menghantuiku.
Sujudku terasa lama. Keningku menekan sajadah, dan di situlah aku kalah. Aku tak lagi memohon apa pun selain satu hal: jika aku harus kehilanganmu, biarlah kehilanganku menjadi ibadah.
“Aku menyebut namamu setiap saat,” bisikku, entah pada siapa. Pada Tuhan, atau pada bayanganmu yang tak mau pergi dari pikiranku.
Saat imam mengangkat tangan untuk doa qunut, masjid seolah menahan napas. Tangis pecah di mana-mana. Aku mengangkat tangan, jemariku gemetar. Doaku kacau. Kata-katanya saling bertabrakan.
“Ya Allah… jika dia bukan untukku, maka jauhkan rinduku. Jika cintaku menghalangiku dari-Mu, maka hancurkan ia dengan cara-Mu. Tapi jika Engkau izinkan… jika Engkau izinkan aku menyebut namanya tanpa rasa bersalah… maka kuatkan aku.”
Aku melirik ke depan. Kamu masih di sana. Diam. Khusyuk. Dan dia—dia masih di sisimu.
Usai shalat, jamaah tak langsung beranjak. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berzikir, ada yang terisak dalam diam. Aku tetap duduk. Tak berani bangkit. Aku takut, jika aku berdiri, aku akan melihatmu berjalan pergi—bersamanya.
Dan ketakutanku terbukti.
Kamu berdiri lebih dulu. Dia mengikutimu. Kalian berjalan berdampingan menuju pintu masjid. Tak ada sentuhan, tapi jarak di antara kalian lebih dekat daripada jarak antara aku dan takdir.
Hatiku runtuh pelan-pelan.
Aku ingin memanggil namamu. Ingin berkata, “Lihat aku. Aku masih di sini.” Tapi lidahku kelu. Di malam yang paling mustajab ini, aku justru kehilangan keberanian.
Langit di luar masjid cerah. Bintang-bintang bertaburan, seolah ikut mengintip doa-doa manusia. Aku melangkah keluar belakangan. Angin menyapu wajahku, dingin, menyadarkan.
Kamu berhenti di pelataran. Entah mengapa, kamu menoleh.
Pandangan kita bertemu.
Hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat dadaku sesak.
Aku tersenyum—senyum paling ikhlas yang bisa kupaksakan. Kamu membalasnya, tipis. Lalu kamu pergi. Bersamanya.
Aku berdiri sendiri. Di malam Lailatul Qadar. Di antara ribuan doa yang naik ke langit, cintaku tertinggal di bumi.
Namun anehnya, di balik perih itu, ada sesuatu yang lapang. Seperti luka yang akhirnya diakui. Aku menengadah ke langit, menarik napas panjang.
“Aku menyebut namamu setiap saat,” kataku sekali lagi, kali ini tanpa tangis. “Dan malam ini, aku belajar menyebut nama-Mu lebih dulu, ya Allah.”
Aku berjalan pulang dengan langkah pelan. Cintaku tak terjawab, tapi doaku menemukan arah. Dan mungkin—hanya mungkin—itulah makna sebenar-benarnya dari malam yang lebih baik dari seribu bulan: kehilangan yang mendewasakan, dan cinta yang dikembalikan pada Pemiliknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar