Selasa, 17 Maret 2026

BUAVITA DI TEPI KENANGAN

 




Di tepi hujan, kita duduk diam,

asap napas menyatu dengan gerimis.

Gelas dingin Buavita kau genggam,

manisnya mengalir seperti tawa kecil.

Aku menghafal detak waktu,

bangku basah, lampu senja,

dan caramu menatap langit runtuh.

Hujan menulis ulang janji,

membasuh luka yang belum bernama.

Setiap teguk menyimpan musim,

mengingatkanku pada rumah

yang tumbuh di antara bahu kita.

Jika hujan kembali,

biarlah kenangan ini

menjadi payung paling setia.

Di bawah payung patah,

kita belajar percaya,

bahwa sederhana bisa abadi,

bahwa hujan memilih saksi,

dan kenangan tak pernah menua.

namamu kusebut perlahan, menenangkan malam, memeluk rindu, hingga esok tersenyum

dalam hujan yang setia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Mengorbankan Cinta, Kau Menyebutnya Kebiasaan

Aku mencintaimu bukan seperti orang jatuh cinta. Aku mencintaimu seperti orang yang menyerahkan diri pada takdir—tanpa tawar-menawar, tanpa ...