BUAVITA DI TEPI KENANGAN
asap napas menyatu dengan gerimis.
Gelas dingin Buavita kau genggam,
manisnya mengalir seperti tawa kecil.
Aku menghafal detak waktu,
bangku basah, lampu senja,
dan caramu menatap langit runtuh.
Hujan menulis ulang janji,
membasuh luka yang belum bernama.
Setiap teguk menyimpan musim,
mengingatkanku pada rumah
yang tumbuh di antara bahu kita.
Jika hujan kembali,
biarlah kenangan ini
menjadi payung paling setia.
Di bawah payung patah,
kita belajar percaya,
bahwa sederhana bisa abadi,
bahwa hujan memilih saksi,
dan kenangan tak pernah menua.
namamu kusebut perlahan, menenangkan malam, memeluk rindu, hingga esok tersenyum
dalam hujan yang setia

Komentar
Posting Komentar