Minggu, 03 Mei 2026

Aku Membunuhmu Dalam Doa,

 

Aku Membunuhmu Dalam Doa,
https://www.magnific.com/idn/gambar-ai-premium/sepasang-kekasih-duduk-di-dekat-api-unggun-di-pantai-pada-malam-hari-menatap-langit-berbintang_234459587.htm

Aku mencintaimu dengan cara yang membuat kepalaku sering sakit.
Bukan karena bahagia—
melainkan karena terlalu banyak hal yang harus kutahan agar cintaku tetap terlihat suci.

Aku menahan sentuhan.
Aku menahan cemburu.
Aku menahan keinginan paling manusiawi: memiliki.

Dan yang paling menyakitkan—aku menahan kecurigaan.

Kau selalu berkata,
“Jika cinta ini benar, ia tak akan meminta apa pun selain kesabaran.”

Aku mempercayaimu seperti orang bodoh yang mengira luka bisa sembuh hanya dengan doa.

Kau datang ke hidupku seperti bisikan yang terlalu pelan untuk ditolak. Wajahmu tenang, tutur katamu lembut, tapi matamu… matamu seperti ruangan terkunci yang tak pernah sepenuhnya terbuka. Aku mencintaimu justru karena itu—karena aku ingin menjadi orang pertama yang kau izinkan masuk.

“Kau percaya padaku?” tanyamu suatu malam.

“Dengan seluruh hidupku,” jawabku.

Kau tersenyum. Terlalu singkat.
Seolah senyum itu hanya kebiasaan, bukan perasaan.

Setiap malam aku menyebut namamu dalam doa, sementara kau menyebut namaku hanya ketika kita bertemu. Aku tak pernah menuntut lebih. Cinta suci, kataku pada diriku sendiri, memang harus menyakitkan.

Namun ada hal-hal kecil yang mengganggu pikiranku.

Pesanmu sering terlambat dibalas.
Tatapanmu sering kosong.
Dan kau selalu menghindari satu pertanyaan:
tentang masa lalumu.

“Ada hal-hal yang tak perlu dibuka,” katamu.
“Tak semua luka ingin disembuhkan.”

Kalimat itu menempel di kepalaku seperti paku.

Suatu hari, aku melihat bekas lebam di pergelangan tanganmu. Kau menariknya cepat-cepat ke balik lengan baju.

“Itu apa?”
“Tak sengaja.”

Kau berbohong terlalu rapi.

Sejak hari itu, aku mulai kehilangan tidur. Bukan karena rindu—melainkan karena pikiranku dipenuhi bayangan: siapa yang menyentuhmu sebelum aku, dan dengan cara apa?

Aku membenci diriku sendiri karena berpikir seperti itu. Aku memukul dinding, memaki cermin, memohon ampun dalam sujud panjang.

“Aku ingin mencintainya tanpa curiga,” tangisku.
Tapi Tuhan diam.

Malam itu kau mengajakku ke rumah kosong di pinggir kota. Katamu, kita perlu bicara tanpa gangguan. Aku datang dengan dada penuh doa dan kepala penuh ketakutan.

Rumah itu berbau lembap dan tua. Lampunya redup. Bayangan menempel di dinding seperti kenangan yang tak mau pergi.

“Kau kelihatan pucat,” katamu.
“Aku hanya lelah,” jawabku.

Kau duduk berhadapan denganku. Jarak kita hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma ketakutan dari napasmu.

“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.

Kalimat itu seharusnya melegakan.
Tapi justru membuat dadaku sesak.

“Ada seseorang,” lanjutmu.
“Dia tak pernah benar-benar pergi.”

Aku tertawa kecil. Histeris.
“Kenapa kau baru bilang sekarang?”

“Kau terlalu mencintaiku,” jawabmu lirih.
“Aku takut kau hancur.”

Aku ingin menamparmu.
Aku ingin memelukmu.
Aku ingin mati.

“Kau mencintaiku?” tanyaku.
“Ya.”
“Seperti apa?”

Kau terdiam lama. Lalu berkata,

“Seperti seseorang yang ingin selamat.”

Jawaban itu membunuhku perlahan.

Aku mencintaimu dengan cara orang tenggelam,
menggenggam apa pun meski itu batu.
Jika kau hanya ingin berenang,
aku akan mati lebih dulu.

Tiba-tiba suara langkah terdengar. Pintu berderit. Seorang lelaki masuk—wajahnya dingin, matanya tajam, tangannya membawa pisau kecil yang bersih, terlalu bersih.

“Jadi ini dia,” katanya.
“Orang yang kau doakan setiap malam.”

Aku berdiri. Tubuhku gemetar.
“Kau siapa?”

Dia tertawa.
“Aku yang membuatnya seperti ini.”

Kau menangis. Tapi tangismu aneh—tanpa usaha melawan. Seperti orang yang sudah lama menyerah.

“Dia tak bisa pergi dariku,” katamu padaku.
“Jika aku pergi, dia akan membunuhku.”

“Dan kau pikir aku tidak akan mati?” teriakku.

Lelaki itu melangkah mendekat.
“Dia milikku. Tapi aku tak keberatan berbagi penderitaan.”

Aku menoleh padamu.
“Kenapa kau membawaku ke sini?”

Kau menatapku dengan mata kosong.
“Aku ingin kau melihat.”

Melihat apa?

Bahwa cintaku hanyalah alat.
Bahwa kesucianku hanyalah dalih.
Bahwa aku dipilih bukan untuk dicintai—
melainkan untuk dikorbankan.

Pisau itu menusuk perutku. Pelan. Sengaja. Dia ingin aku merasakannya. Darah mengalir, hangat, lengket. Aku terjatuh berlutut.

Kau menjerit. Tapi tidak menghentikannya.

“Maaf,” katamu.
“Ini satu-satunya cara.”

Aku tertawa dalam darahku sendiri.
“Jadi… aku doa yang kau sembelih?”

Jika cinta harus mati,
mengapa harus aku yang dibunuh?
Bukankah aku sudah cukup suci,
untuk dibiarkan hidup?

Pisau itu menusuk lagi. Dadaku.
Pandangan kabur. Suara menjauh.

Aku menatapmu untuk terakhir kali.
“Kau akan hidup,” bisikku.
“Dengan darahku.”

Aku mati tidak sebagai pahlawan.
Tidak sebagai kekasih.
Tidak sebagai martir.

Aku mati sebagai kesalahan.

Dan cinta suci—
ternyata hanya nama lain dari pengorbanan yang dipaksakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Membunuhmu Dalam Doa,

  Aku Membunuhmu Dalam Doa, https://www.magnific.com/idn/gambar-ai-premium/sepasang-kekasih-duduk-di-dekat-api-unggun-di-pantai-pada-malam-h...