Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain
![]() |
Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain https://www.shutterstock.com/id/search/couple-in-love-dark-background |
Hujan turun tanpa aba-aba, seperti perasaan yang selama ini kutahan diam-diam. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya, dan jalanan di depanku memantulkan cahaya lampu seperti kenangan yang tak mau padam. Aku berdiri di bawah kanopi halte tua, memeluk tas kecil berisi payung yang sengaja tak kubuka. Aku ingin basah. Aku ingin hujan ikut merasakan apa yang sedang kupikul.
Kau berjanji datang sebelum magrib. Kau bilang hanya sebentar, hanya ingin memastikan aku baik-baik saja. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dari sanalah aku kembali berharap—hal paling berbahaya yang bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah kau tinggalkan.
Aku menunggumu.
Setiap tetes hujan yang jatuh adalah detik yang berjalan lambat. Aku menghafal pola air yang mengalir di aspal, seolah dengan begitu aku bisa mengalihkan pikiranku dari wajahmu. Tapi sia-sia. Kau selalu datang tanpa izin, bahkan ketika aku tak memanggil.
Aku menunggumu di hujan,dengan doa yang menggigil,jika kau tak datang hari ini,biarlah rinduku yang pulang lebih dulu.
Ponselku bergetar. Namamu muncul. Jantungku berdegup terlalu cepat, seperti ingin melompat keluar.
Aku membalas, “Aku di halte lama.”
Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Wiper bergerak cepat, memotong hujan. Pintu depan terbuka. Kau turun. Rambutmu sedikit basah, wajahmu tak banyak berubah. Masih wajah yang sama yang dulu kuhafal dalam gelap.
Aku melangkah maju. Kau tersenyum, senyum yang dulu selalu membuatku pulang lebih ringan. Tapi kini, ada jarak yang tak bisa kusebutkan ukurannya.
“Kau lama,” kataku, mencoba terdengar biasa.
“Kota ini selalu kejam saat hujan,” jawabmu.
Kita terdiam. Hujan menjadi suara paling jujur di antara kita.
Aku ingin memelukmu. Ingin bertanya kenapa kau pergi dulu tanpa pamit. Ingin menuntut jawaban. Tapi aku tahu, tak semua pertanyaan diciptakan untuk dijawab.
“Kau baik?” tanyamu akhirnya.
Aku mengangguk. “Aku belajar baik.”
Kau tersenyum tipis. Lalu menoleh ke dalam mobil. Di sanalah aku melihatnya.
Seorang perempuan duduk di kursi penumpang. Rambutnya panjang, wajahnya lembut, dan matanya menatapku dengan ragu—seperti aku adalah cerita lama yang tak sengaja ia temukan.
“Ini… istriku,” katamu pelan, nyaris seperti meminta maaf. “Namanya Alena.”
Dunia berhenti.
Hujan seketika terasa lebih dingin. Kata istri berputar di kepalaku, memukul dinding kenangan satu per satu. Aku tersenyum—senyum paling rapuh yang pernah kuberikan.
“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulutku.
Alena turun dari mobil. Ia menatapku dengan sopan, mengulurkan tangan. “Aku sering dengar tentangmu.”
Aku menjabat tangannya. Tangannya hangat. Terlalu hangat untuk seseorang yang baru saja merobohkan duniaku.
“Kau menunggumu di hujan?” tanyanya, nada suaranya tulus.
Aku mengangguk.
Hujan adalah saksi yang tak pernah lupa,ia tahu siapa yang datang,dan siapa yang pulang membawa nama baru.
Kau terlihat gelisah. “Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya… ingin kau tahu dariku, bukan dari orang lain.”
Aku tertawa kecil. “Dan kau pikir hujan ini adalah waktu yang tepat?”
Kau terdiam.
“Kau tahu,” lanjutku, “aku tak pernah membencimu. Aku hanya belajar hidup tanpa penjelasan.”
Alena memandangmu, lalu kembali padaku. “Maaf jika kehadiranku menyakitimu.”
Aku menggeleng. “Bukan kau yang salah. Aku hanya terlalu lama menunggu.”
Hujan makin deras. Orang-orang mulai berlarian. Tapi aku tetap di sana. Karena jika aku pergi sekarang, aku tahu, aku akan membawa penyesalan yang sama beratnya dengan rasa sakit ini.
“Kau bahagia?” tanyaku padamu.
Kau menatap Alena. “Aku mencoba.”
Jawaban itu menusuk lebih dalam dari kata ya atau tidak.
Aku mencintaimu dengan cara yang salah,menunggu tanpa kepastian,berharap pada seseorangyang diam-diam memilih pulang ke pelukan lain.
Aku menarik napas panjang. “Kalau begitu, pergilah. Jangan biarkan hujan ini mengingatkanku bahwa aku pernah berharap.”
Kau melangkah mendekat. “Aku selalu mengingatmu.”
“Jangan,” potongku cepat. “Biarkan aku tinggal di masa lalu. Di sana aku masih utuh.”
Kau ingin mengatakan sesuatu, tapi Alena memegang tanganmu. Isyarat kecil, tapi cukup jelas: waktumu bukan lagi di sini.
Kau masuk ke mobil. Mesin menyala. Lampu menyilaukan mataku. Mobil itu perlahan menjauh, membawa kau dan nama perempuan lain—nama yang kini akan kau panggil setiap pulang.
Aku berdiri sendiri di bawah hujan.
Payungku tetap tertutup.
Jika cinta adalah perjalanan,aku tersesat terlalu lama,menunggu seseorangyang ternyata sudah tiba di rumah orang lain.
Langit mulai gelap. Azan magrib terdengar samar. Aku melangkah pergi, membiarkan hujan membasuh wajahku. Untuk pertama kalinya, aku tak menoleh ke belakang.
Karena aku tahu, tidak semua yang kita tunggu pantas untuk kembali.
Dan malam itu, di antara hujan dan kenangan, aku belajar satu hal paling menyakitkan:
Bahwa menunggu adalah bentuk cinta paling setia—dan paling kejam.

Komentar
Posting Komentar