Cinta dalam Diam, Kelam dalam Sunyi Malam
.jpg)
Cinta dalam Diam, Kelam dalam Sunyi Malam
https://www.fakta.id/kata-kata-malam-yang-sunyi-dan-sepi-sendiri/
.jpg)
https://www.fakta.id/kata-kata-malam-yang-sunyi-dan-sepi-sendiri/
Malam selalu punya cara untuk membuat manusia jujur.
Dan malam itu—di bawah lampu jalan yang berkedip seperti napas orang sekarat—aku akhirnya tahu bahwa cinta dalam diam bisa membunuh lebih kejam daripada kebencian yang berteriak.
Aku mencintaimu tanpa pernah menyebut namamu dengan lantang.
Cinta itu kusembunyikan di balik kebiasaan kecil: menunggumu pulang, memastikan pesanmu terbaca, pura-pura tidak cemburu saat kau menyebut namanya.
Kau selalu berkata,
“Diam itu aman, aku.”
Aku mengangguk.
Padahal diam adalah liang kubur yang pelan-pelan kugali sendiri.
Kau milik dia.
Dan aku—hanya bayangan yang kau ajak bicara saat malam terlalu sunyi untuk ditanggung sendirian.
“Kau tidak lelah mencintai dalam diam?” tanyamu suatu malam.
Aku tertawa kecil.
“Yang lelah itu bukan mencinta, tapi berharap.”
Kau menunduk. Di antara kita, hujan jatuh seperti kalimat yang tak pernah selesai.
Lalu kau berbisik, dan suaramu pecah seperti kaca:
“Jika aku menyebut namamu,
akankah malam menghapus dosaku?”
Aku membalas dengan puisi yang kugenggam terlalu lama di dada:
“Aku tidak ingin menjadi doa,
karena doa selalu meminta.
Aku hanya ingin menjadi diam
yang kau pilih saat semua kata gagal.”
Kau menangis.
Dan di situlah aku tahu—cinta segitiga ini telah berubah menjadi simpul yang tak bisa dilepaskan tanpa darah.
Dia muncul di hidup kita seperti badai yang tak diundang.
Aku menyebutnya dia, karena menyebut namanya terlalu menyakitkan.
Dia kekasihmu.
Resmi. Dikenal semua orang. Dicintai terang-terangan.
Sedangkan aku—
aku hanya ada di malam hari.
Di pesan singkat yang kau hapus.
Di pertemuan singkat yang selalu kau sebut “kebetulan”.
“Aku mencintainya,” katamu suatu malam.
“Tapi aku juga… tidak bisa melepaskanmu.”
Kalimat itu bukan pengakuan.
Itu vonis.
“Cinta yang dibagi tiga
selalu mencari korban,”
bisik batinku.
Malam semakin gelap ketika kau meminta bertemu.
Sendirian.
Di rumah tua di ujung kota—tempat kenangan dan debu bersekongkol.
“Kau harus memilih,” kataku akhirnya.
Kau terdiam lama.
Lalu kau berkata pelan, terlalu pelan untuk disebut keputusan:
“Aku ingin hidup normal… tapi aku tak sanggup kehilanganmu.”
Aku tertawa. Kali ini pahit.
“Kau ingin dua jantung berdetak untukmu,
tanpa bertanya siapa yang akan berhenti lebih dulu.”
Langkah kaki terdengar.
Berat. Marah. Mendekat.
Dia.
Aku tidak tahu sejak kapan dia mengikuti.
Atau sejak kapan cemburu belajar memegang pisau.
“Aku sudah curiga,” katanya sambil menatapmu.
“Dan sekarang aku tahu.”
Kau gemetar.
Aku berdiri di antara kalian, bodoh, seolah tubuhku bisa menjadi dinding bagi luka yang akan datang.
“Kau berbohong padaku,” bentaknya padamu.
“Dan kau—” matanya beralih padaku, “—berani mencuri apa yang bukan milikmu.”
Aku ingin menjawab.
Tapi malam sudah terlalu penuh untuk kata-kata.
Pisau itu berkilat seperti bulan palsu.
Dan sebelum aku sadar, darah mengalir seperti pengakuan yang terlambat.
Dia menikamku.
Sekali.
Di dada.
Anehnya, aku tidak langsung jatuh.
Aku hanya menatapmu.
Kau menjerit.
“Jika ini akhir,
biarlah aku mati sebagai diam
yang pernah kau butuhkan,”
ucapku, nyaris tak bersuara.
Dia panik.
Kau menangis.
Dan dunia runtuh dalam hitungan detik.
Namun tragedi belum selesai.
Saat dia berbalik hendak lari,
kau mengambil pisau itu.
Aku melihat matamu.
Bukan mata perempuan yang mencinta.
Tapi mata manusia yang lelah menjadi pilihan kedua.
“Kau menghancurkan segalanya,” katamu pada dia.
Dan kau menikamnya.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Darah menyatu di lantai—tak ada lagi milik siapa.
Aku jatuh.
Napas mulai tercekat.
Kau memelukku, tubuhmu gemetar.
“Aku memilihmu,” isakmu.
“Terlambat, ya?”
Aku tersenyum lemah.
“Cinta yang datang terlambat
tetap cinta,
tapi tak pernah sempat hidup.”
Sirene terdengar jauh.
Lampu merah-biru menari di dinding seperti pesta yang tidak kami undang.
“Katakan sesuatu,” pintamu.
Aku mengumpulkan sisa suara.
“Aku tidak menyesal mencintaimu…
Aku hanya menyesal… melakukannya dalam diam terlalu lama.”
Air matamu jatuh ke wajahku.
“Jika aku boleh mengulang malam,
aku akan berteriak mencintaimu,
meski dunia runtuh lebih cepat.”
Aku ingin menjawab.
Tapi gelap lebih cepat dari kata.
Konon, cinta dalam diam itu suci.
Tapi malam itu mengajarkanku satu hal:
Cinta yang tidak diperjuangkan terang-terangan
akan mencari jalan keluar—
dan kadang, jalan itu bernama darah.
Dan kau…
akan selamanya hidup dengan sunyi
yang pernah kupeluk
dalam diam.
Komentar
Posting Komentar