Nama yang Masih Bergema dalam Doa

Nama yang Masih Bergema dalam Doa
Nama yang Masih Bergema dalam Doa
https://id.pinterest.com/aisyahhh3232/kekasih-bayangan/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling kutakuti: diam-diam, tertib, dan penuh kehati-hatian. Tidak ada pelukan sebelum janji, tidak ada sentuhan selain doa yang kusebutkan pelan setiap selesai salat. Aku menyebut namamu seperti orang yang takut bersuara terlalu keras, khawatir Tuhan mengira aku meminta terlalu banyak.

Namun di sela doa itu, selalu ada bayangan yang menyusup. Nama lain. Wajah yang seharusnya sudah pergi, tetapi masih sering mengetuk ingatan tanpa permisi.

Kamulah cinta yang ingin kujaga kesuciannya. Tapi mantanku adalah bayangan yang tak mau mati.

Malam itu, kita duduk berhadapan di teras rumahmu. Lampu jalan redup, dan angin membawa bau tanah basah. Kamu tidak langsung bicara. Kamu selalu begitu—menunggu sampai hatimu siap melukai atau terluka.

“Aku ingin bertanya sesuatu,” katamu akhirnya.

Aku mengangguk, meski jantungku mulai berlari.

“Kamu pernah benar-benar selesai dengan masa lalumu?”

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke dada.

“Aku sudah berusaha,” jawabku.

Kamu tersenyum tipis. “Aku tidak bertanya apakah kamu berusaha. Aku bertanya apakah kamu sudah selesai.”

Aku menunduk. Diamku adalah jawabannya.

Kamu menarik napas panjang, lalu berkata lirih, seolah membaca puisi untuk dirimu sendiri:

“Aku tidak takut menjadi yang terakhir,
aku hanya takut mencintai
sementara hatimu masih
menoleh ke belakang.”

Kata-katamu menyesakkan. Aku ingin menyangkal, tapi kebohongan akan mencemari cinta yang ingin kujaga tetap suci.

“Aku tidak mencintainya lagi,” kataku cepat. “Tapi kenangannya… masih sering datang.”

Kamu menatapku lama. “Kenangan tidak datang tanpa diundang.”

Kalimat itu menusuk.

Mantan kekasihku adalah luka yang kututup rapi, bukan sembuh yang kuikhlaskan. Kami berpisah dengan cara yang salah—penuh emosi, penuh dosa, penuh janji yang tidak ditepati. Sejak itu aku belajar menata hidup, belajar mencintai Tuhan sebelum manusia, dan di sanalah aku bertemu kamu.

Kamu hadir seperti peneduh. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa. Kamu mencintaiku dengan cara yang tenang, seolah cinta adalah amanah, bukan nafsu.

Namun justru karena itu, ketegangan tumbuh.

Aku takut kehilanganmu. Kamu takut hanya menjadi pelarian.

Hari-hari setelah percakapan itu terasa berat. Kamu tidak menjauh, tapi tidak juga mendekat. Setiap pesanmu terasa formal, seolah kamu sedang menimbang apakah aku pantas untuk dilanjutkan.

Aku mencoba lebih khusyuk berdoa. Aku mencoba memotong ingatan yang tumbuh liar. Tapi bayangan mantanku seperti bayanganku sendiri—ke mana pun aku pergi, ia ikut.

Suatu malam, aku bermimpi. Dalam mimpi itu aku berdiri di antara dua pintu. Satu bertuliskan namamu. Satu lagi bertuliskan masa lalu. Aku tahu pintu mana yang ingin kubuka, tapi kakiku gemetar.

Aku terbangun dengan napas tersengal.

Paginya, pesan darimu masuk.

“Kita perlu bicara.”

Kami bertemu di sebuah masjid kecil selepas isya. Tempat yang seharusnya paling aman, justru menjadi arena paling jujur.

“Kamu kelihatan lelah,” katamu.

“Aku sedang berperang,” jawabku.

“Dengan siapa?”

“Dengan diriku sendiri.”

Kamu terdiam, lalu duduk di sampingku, menjaga jarak yang sopan.

“Aku mencintaimu,” katamu akhirnya. “Tapi aku tidak ingin cintaku berdiri di atas bayangan orang lain.”

Aku menggenggam sajadahku kuat-kuat.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku, hampir menangis.

Kamu memejamkan mata, lalu berkata dengan suara gemetar:

“Jika aku adalah doa yang kau pinta,
jangan sisipkan nama lain
di sela aminmu.
Tuhan mendengar segalanya,
termasuk keraguan.”

Air mataku jatuh. Aku merasa kecil, rapuh, dan bersalah.

“Aku ingin mencintaimu dengan bersih,” kataku. “Tapi bayangan itu datang tanpa izin.”

Kamu menatapku. “Tidak ada bayangan yang lebih kuat dari cahaya. Tapi kamu harus memilih ke mana kamu menghadap.”

Ketegangan mencapai puncaknya beberapa hari kemudian.

Mantan kekasihku menghubungiku. Pesan singkat. Netral. Tapi cukup untuk mengoyak.

“Aku hanya ingin tahu kamu baik-baik saja.”

Pesan itu seperti membuka pintu yang sudah hampir terkunci.

Aku tidak membalas. Tapi aku gemetar. Dan yang paling menyakitkan: aku ingin menceritakannya padamu, tapi aku takut.

Akhirnya, aku datang juga.

“Aku dihubungi olehnya,” kataku jujur.

Kamu terdiam lama. Wajahmu tenang, tapi matamu lelah.

“Dan kamu datang ke sini,” katamu pelan. “Itu berarti sesuatu.”

“Aku memilih jujur,” kataku. “Karena aku tidak ingin cinta ini tercemar.”

Kamu tersenyum kecil, pahit tapi hangat.

“Cinta suci bukan tentang
tidak pernah tergoda,
tapi tentang keberanian
mengaku dan memilih.”

Aku menatapmu dengan mata basah. “Aku memilihmu.”

Kamu berdiri. Mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat untuk membuat napasku tercekat.

“Aku tidak akan memintamu melupakan,” katamu. “Aku hanya ingin menjadi tempatmu pulang, bukan tempatmu bersembunyi.”

Aku mengangguk.

Malam itu tidak berakhir dengan janji manis. Tidak ada pelukan. Tapi ada sesuatu yang lebih berat dan lebih jujur: komitmen untuk berjalan pelan, dengan cahaya di depan, bukan bayangan di belakang.

Saat kita berpisah, kamu berkata:

“Jika suatu hari bayangan itu datang lagi,
jangan lari dariku.
Pegang tanganku.
Kita hadapi bersama,
atau kita lepaskan dengan ikhlas.”

Aku pulang dengan langkah gemetar, tapi hati yang lebih tenang.

Cinta suci bukanlah cinta tanpa masa lalu. Ia adalah cinta yang berani mengakui luka, memilih kesembuhan, dan menolak kembali ke kegelapan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku berdoa tanpa menyebut nama selain namamu.

Bayangan itu masih ada. Tapi aku tidak lagi berjalan sendirian.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Puisi:Kenangan di Tepi Meja