Bayangan yang Tak Ikut Pergi

Bayangan yang Tak Ikut Pergi
https://www.instagram.com/p/B6-cpS9gVC3/
Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi: menundukkan kepala dalam doa, menyebut namamu tanpa suara, dan menahan rindu agar tak berubah menjadi dosa. Namun cinta yang kuanggap suci itu tak pernah benar-benar sendiri. Ia selalu dibayangi wajah yang tak lagi ingin kuingat—mantanku, masa lalu yang belum mau mati.
Kamu datang dalam hidupku saat aku sedang belajar menyembuhkan diri. Kau bukan cinta yang berisik. Kau hadir seperti cahaya subuh—pelan, jujur, dan tidak memaksa. Kau tidak menanyakan masa laluku secara rinci, seolah kau tahu ada luka yang belum siap dibuka.
Namun justru karena itulah ketegangan itu tumbuh. Semakin kau diam, semakin masa laluku berteriak.
Malam itu hujan turun tanpa jeda. Aku dan kamu duduk berhadapan di ruang tamu yang sempit, hanya ditemani lampu kuning dan suara air yang menghantam atap.
“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.
Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Aku tahu kamu mencintaiku dengan cara yang berbeda,” lanjutmu. “Seperti ada yang kamu jaga mati-matian.”
Aku tersenyum kecil. “Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan.”
Kamu menatapku lama. Lalu kau berkata pelan, hampir seperti membaca puisi:
“Aku tak ingin jadi luka yang baru,
tapi aku juga lelah menjadi jeda.
Jika hatimu masih rumah bagi yang lama,
di mana aku harus meletakkan namaku?”
Kata-katamu menikam. Karena kau benar.
Mantan kekasihku—dia—adalah cinta pertama yang gagal total. Kami berpisah bukan karena tak saling cinta, tapi karena cinta kami tumbuh liar, melampaui batas, melupakan Tuhan, melupakan diri sendiri. Ketika semua runtuh, yang tersisa hanya rasa bersalah dan bayangan.
Dan bayangan itu masih sering datang.
Kadang saat aku tertidur, aku terbangun dengan namanya masih menggantung di ujung lidah. Kadang saat aku sholat, wajahnya muncul sebagai gangguan yang tak kuundang. Aku membencinya, tapi juga takut jika suatu hari aku berhenti mengingat—karena itu berarti luka itu benar-benar membekas.
“Kamu masih memikirkannya?” tanyamu malam itu.
Aku terdiam lama. Kejujuran terasa seperti pisau bermata dua.
“Tidak dengan cara mencintai,” jawabku akhirnya. “Tapi dengan cara dihantui.”
Kamu mengangguk, seolah telah menduga. Kau berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan yang semakin deras.
“Aku mencintaimu dengan cara yang ingin membawa kita ke arah yang halal,” katamu. “Tapi aku tidak ingin bersaing dengan kenangan.”
Aku bangkit mendekatimu. Tanganku gemetar.
“Aku tidak ingin kembali ke masa lalu,” kataku. “Aku ingin masa depan bersamamu.”
Kamu tersenyum pahit. Lalu kau berbisik, seperti doa yang nyaris patah:
“Jika aku adalah doa,
jangan sebut nama orang lain
saat kau mengaminkannya.”
Malam itu berakhir tanpa pelukan. Tanpa janji. Hanya jarak yang semakin terasa nyata.
Hari-hari setelahnya menjadi medan perang sunyi. Kamu menjauh, bukan dengan kasar, tapi dengan sopan yang menyakitkan. Pesanmu singkat. Sapaanmu dingin. Dan aku tahu, kamu sedang menimbang sesuatu yang besar.
Sementara itu, bayangan mantanku justru semakin sering muncul—seolah tahu aku sedang goyah. Aku membencinya karena muncul saat aku lemah.
Aku berusaha melawan. Aku memperbanyak doa. Aku menulis namamu di halaman terakhir buku harianku, berharap Tuhan membacanya. Aku memohon agar cinta ini disucikan, agar masa lalu dilepaskan sepenuhnya.
Namun ketegangan mencapai puncaknya ketika mantanku benar-benar datang—bukan dalam mimpi, tapi nyata.
Kami bertemu secara tak sengaja di sebuah toko buku. Ia tersenyum seolah waktu tak pernah merenggut apa pun.
“Kamu terlihat tenang,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Aku dengar kamu akan menikah,” lanjutnya.
Dadaku sesak. Aku tidak tahu dari mana ia tahu.
“Aku bahagia untukmu,” katanya, tapi matanya berkata sebaliknya. “Aku hanya ingin bilang… aku masih sering mengingatmu.”
Aku menatapnya dingin. “Tolong jangan.”
Ia tertawa kecil. “Kamu berubah.”
“Karena aku ingin selamat,” jawabku.
Malam itu aku menangis. Bukan karena rindu, tapi karena marah. Masa lalu itu seperti hantu yang tak mau diusir.
Aku menemui kamu keesokan harinya. Aku tidak ingin menunda lagi.
“Aku ingin kamu tahu segalanya,” kataku. “Aku bertemu dia.”
Wajahmu menegang.
“Tapi aku memilih datang ke sini,” lanjutku cepat. “Karena aku ingin memutus semua bayangan itu.”
Kamu terdiam lama. Lalu kau berkata lirih:
“Cinta suci bukan tentang tak punya masa lalu,
tapi tentang keberanian menutup pintunya.
Pertanyaannya…
apakah kau sudah menguncinya,
atau hanya menutupnya pelan-pelan?”
Air mataku jatuh. Aku berlutut di hadapanmu, bukan sebagai drama, tapi sebagai kejujuran.
“Aku ingin menguncinya,” kataku. “Tapi aku butuh waktu.”
Kamu menghela napas panjang. Ketegangan di udara seperti tali yang siap putus.
“Aku tidak takut terluka,” katamu akhirnya. “Aku hanya takut menjadi pelarian.”
Aku menggeleng keras. “Kamu bukan pelarian. Kamu tujuan.”
Hari itu tidak langsung berakhir bahagia. Kamu tidak serta-merta memelukku. Tapi kamu juga tidak pergi.
“Kita berjalan pelan,” katamu. “Jika suatu hari bayangan itu datang lagi, jangan sembunyikan dariku.”
Aku mengangguk. “Aku ingin mencintaimu tanpa bayang-bayang.”
Kamu tersenyum, kali ini lebih hangat.
“Jika suatu hari kau ragu,
pegang tanganku,
bukan kenanganmu.
Karena aku di sini,
bukan untuk menghapus masa lalu,
tapi menemanimu menatap masa depan.”
Aku tahu, cinta suci bukan berarti tanpa ujian. Justru ia diuji oleh bayangan yang ingin menyeret kita kembali. Dan mungkin, kesucian itu terletak pada pilihan—untuk tetap melangkah ke depan, meski masa lalu terus memanggil.
Dan hari itu, aku memilihmu. Bukan karena aku telah sembuh sepenuhnya, tapi karena aku ingin sembuh bersamamu.
Komentar
Posting Komentar