Langsung ke konten utama

Cerita Pendek “Di Antara Kita, Ada Darah yang Jatuh”

  Cerita Pendek “Di Antara Kita, Ada Darah yang Jatuh” Angin malam mengusap lembut kulitku ketika aku menatapmu dari jarak beberapa langkah. Kau berdiri di pinggir danau kecil itu—tempat di mana semua cerita kita dulu dimulai. Wajahmu tampak pucat diterpa rembulan, dan entah mengapa, malam ini tatapanmu tak lagi meneduhkan. Ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya… sesuatu yang tak pernah berhasil kau akui. “Aku datang,” kataku pelan. Kau menoleh, dan suara napasmu terdengar retak. “Terima kasih… Aku pikir kamu tidak akan mau bertemu lagi.” Aku mendekat, tapi tidak terlalu dekat. Ada jarak panjang yang tak terlihat di antara kita. Jarak yang dibangun oleh seseorang yang sama-sama kita kenal—dia yang pernah merusak semuanya. “Bukan aku yang menghilang,” bisikku. “Kau yang memilih pergi bersama dia.” Kau menunduk. “Aku tahu, dan aku salah. Tapi tolong dengarkan aku dulu.” Sebelum kau sempat melanjutkan, bayangannya muncul dari kegelapan. Wajahnya—wajah yang dulu kuanggap saha...

Cerita Pendek “Di Antara Kita, Ada Darah yang Jatuh”

 

Cerita Pendek “Di Antara Kita, Ada Darah yang Jatuh”

Angin malam mengusap lembut kulitku ketika aku menatapmu dari jarak beberapa langkah. Kau berdiri di pinggir danau kecil itu—tempat di mana semua cerita kita dulu dimulai. Wajahmu tampak pucat diterpa rembulan, dan entah mengapa, malam ini tatapanmu tak lagi meneduhkan. Ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya… sesuatu yang tak pernah berhasil kau akui.

“Aku datang,” kataku pelan.

Kau menoleh, dan suara napasmu terdengar retak. “Terima kasih… Aku pikir kamu tidak akan mau bertemu lagi.”

Aku mendekat, tapi tidak terlalu dekat. Ada jarak panjang yang tak terlihat di antara kita. Jarak yang dibangun oleh seseorang yang sama-sama kita kenal—dia yang pernah merusak semuanya.

“Bukan aku yang menghilang,” bisikku. “Kau yang memilih pergi bersama dia.”

Kau menunduk. “Aku tahu, dan aku salah. Tapi tolong dengarkan aku dulu.”

Sebelum kau sempat melanjutkan, bayangannya muncul dari kegelapan. Wajahnya—wajah yang dulu kuanggap sahabat—muncul bersamaan dengan langkah berat menuju kita.

Dialah orang ketiga itu.
Dialah penanda hancurnya semua hal indah yang pernah kita punya.

“Jadi… kalian sudah mulai bicara tanpa aku?” katanya sambil tersenyum sinis.

Aku merasakan amarah merayap seperti api yang menyala lambat. “Kenapa dia harus ada di sini?”

Kau menggigit bibir. “Karena semuanya harus dijelaskan malam ini. Tentang aku… tentang kamu… dan tentang dia.”

Dia mendekat, terlalu dekat, seakan ingin menusuk udara di antara kita. “Aku hanya ingin memastikan kamu tidak lagi menyusahkannya. Dia sudah memilihku.”

Aku tersenyum getir. “Lucu. Dia memintaku datang. Bukan kamu.”

Kau memejamkan mata, lalu berkata dengan suara bergetar:


“Untuk hati yang pernah patah,

aku tak punya obat selain kejujuran.

Untuk cinta yang pernah tumbuh,

biarkan malam ini jadi pengakuan.”

Aku menunggu. Namun sebelum kau bicara, dia memotong cepat.

“Cukup puisi murahan itu. Dia bersamaku sekarang, dan kamu—kamu hanya masa lalu yang tidak penting.”

Aku melangkah maju. “Kalau begitu, jelaskan. Kau mencintainya karena apa? Karena dia rapuh? Atau karena kau ingin memilikiku hidup-hidup dalam kesengsaraan?”

Matanya menyipit. “Kamu mencintainya dengan cara yang salah. Dia datang padaku karena kamu terlalu sibuk dengan egomu.”

Aku ingin membalas, tapi kau tiba-tiba bersuara.

“Berhenti!” jeritmu. “Kalian… kalian berdua tidak pernah benar-benar memahamiku.”

Kau menatapku, lalu menatapnya. “Aku mencintai kalian berdua… dengan cara yang berbeda.”

Seketika dunia runtuh.

Aku merasa dadaku dihantam sesuatu yang tak kasat mata. “Kau… mencintai kami berdua?”

Kau meneteskan air mata. “Aku mencoba memilih. Tapi setiap kali aku memilih satu, aku merasa kehilangan bagian diriku yang lain.”

Dia tertawa pendek, getir, tapi penuh ancaman. “Dan sekarang? Siapa yang kau pilih malam ini?”

Aku menahan napas. Inilah saatnya.
Namun kau justru menangkup wajahmu, dan dengan suara patah itu kau berbisik:

“Aku adalah luka,
dan kalian adalah dua tangan
yang sama-sama ingin membalut
tapi saling melukai.”

Dia mendekat, menarik bahumu, memaksamu mendongak. “Katakan. Sekarang.”

Aku maju, menepis tangannya kasar. “Jangan paksa dia!”

Dan di sanalah segalanya pecah.

Dia mendorongku. Aku menahan diri. Tapi dorongan kedua membuatku kehilangan keseimbangan. Tanah licin. Malam gelap. Danau di belakangku.

“Aku tidak akan biarkan kamu ambil dia dariku,” katanya dengan suara rendah.

Aku bangkit lagi. “Cinta yang dipaksa bukan cinta. Kau hanya—”

Sebelum kalimatku selesai, kilau logam kecil terlihat di tangannya.

Pisau.
Tajam. Berkilat.
Menggetarkan udara.

Kau menjerit, “Jangan! Kau sudah gila!”

Tapi semuanya terlambat.
Dia melompat ke arahku, teriakanmu menggema di antara pepohonan.

Aku menangkis dengan sekuat tenaga. Dunia menjadi kacau. Tubuh kami bertubrukan. Suara air danau bergolak.

Dan kemudian—
Sepi.

Saat kusadari apa yang terjadi, aku melihat tubuhnya tergeletak. Darah merembes di dadanya. Pisau itu—pisau yang ia bawa—menancap tepat di dirinya sendiri akibat dorongan keras saat kita berebut.

Aku terdiam. Kau terisak keras.

“Apa yang sudah kalian lakukan…” bisikmu lemah.

Aku menatap matanya yang perlahan kehilangan cahaya. “Aku… aku tidak berniat…”

Dia mencoba bicara, tapi hanya suara napas pendek yang keluar. Dan di detik terakhir hidupnya, dia berbisik:

“Dia… milikmu. Jagalah dia… lebih baik… dari aku.”

Lalu senyap.
Tak ada lagi napas.
Tak ada lagi dendam.
Hanya malam yang terasa menutup cepat dan berat.

Kau berlari memelukku, menangis di dadaku. Tubuhmu bergetar hebat.

“Aku tidak ingin kehilangan kamu… aku tidak ingin semua ini terjadi…”

Aku memelukmu erat meski tangan dan seluruh tubuhku masih gemetar. “Ini kecelakaan… Bukan salahmu.”

Kau menatapku dengan mata basah yang memecah hatiku.


“Jika cinta harus memilih,

biarkan aku memilih luka yang hidup

daripada kenangan yang mati.”


Aku mengusap air matamu.

“Kau tidak sendirian. Malam ini akan selalu menjadi rahasia kita. Bukan cerita tentang siapa yang menang… tapi tentang siapa yang tersisa.”

Kau memelukku lebih erat, seakan takut aku juga akan menghilang seperti dia.

Aku menarik napas panjang, menatap gelap danau yang menyimpan bayangannya.

Cinta segitiga selalu berakhir pada satu pilihan.

Dan malam itu, pilihan itu jatuh bersimbah darah.

Namun kau—
Kau tetap tinggal bersamaku.

Walau dunia mungkin tak akan pernah tahu bahwa cinta kita…
lahir dari tragedi yang tak akan pernah kita lupakan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...