![]() |
| Cerita Pendek “Di Antara Kita, Ada Darah yang Jatuh” |
Angin malam mengusap lembut kulitku ketika aku menatapmu dari jarak beberapa langkah. Kau berdiri di pinggir danau kecil itu—tempat di mana semua cerita kita dulu dimulai. Wajahmu tampak pucat diterpa rembulan, dan entah mengapa, malam ini tatapanmu tak lagi meneduhkan. Ada sesuatu yang bersembunyi di baliknya… sesuatu yang tak pernah berhasil kau akui.
“Aku datang,” kataku pelan.
Kau menoleh, dan suara napasmu terdengar retak. “Terima kasih… Aku pikir kamu tidak akan mau bertemu lagi.”
Aku mendekat, tapi tidak terlalu dekat. Ada jarak panjang yang tak terlihat di antara kita. Jarak yang dibangun oleh seseorang yang sama-sama kita kenal—dia yang pernah merusak semuanya.
“Bukan aku yang menghilang,” bisikku. “Kau yang memilih pergi bersama dia.”
Kau menunduk. “Aku tahu, dan aku salah. Tapi tolong dengarkan aku dulu.”
Sebelum kau sempat melanjutkan, bayangannya muncul dari kegelapan. Wajahnya—wajah yang dulu kuanggap sahabat—muncul bersamaan dengan langkah berat menuju kita.
“Jadi… kalian sudah mulai bicara tanpa aku?” katanya sambil tersenyum sinis.
Aku merasakan amarah merayap seperti api yang menyala lambat. “Kenapa dia harus ada di sini?”
Kau menggigit bibir. “Karena semuanya harus dijelaskan malam ini. Tentang aku… tentang kamu… dan tentang dia.”
Dia mendekat, terlalu dekat, seakan ingin menusuk udara di antara kita. “Aku hanya ingin memastikan kamu tidak lagi menyusahkannya. Dia sudah memilihku.”
Aku tersenyum getir. “Lucu. Dia memintaku datang. Bukan kamu.”
Kau memejamkan mata, lalu berkata dengan suara bergetar:
“Untuk hati yang pernah patah,
aku tak punya obat selain kejujuran.
Untuk cinta yang pernah tumbuh,
biarkan malam ini jadi pengakuan.”
Aku menunggu. Namun sebelum kau bicara, dia memotong cepat.
“Cukup puisi murahan itu. Dia bersamaku sekarang, dan kamu—kamu hanya masa lalu yang tidak penting.”
Aku melangkah maju. “Kalau begitu, jelaskan. Kau mencintainya karena apa? Karena dia rapuh? Atau karena kau ingin memilikiku hidup-hidup dalam kesengsaraan?”
Matanya menyipit. “Kamu mencintainya dengan cara yang salah. Dia datang padaku karena kamu terlalu sibuk dengan egomu.”
Aku ingin membalas, tapi kau tiba-tiba bersuara.
“Berhenti!” jeritmu. “Kalian… kalian berdua tidak pernah benar-benar memahamiku.”
Kau menatapku, lalu menatapnya. “Aku mencintai kalian berdua… dengan cara yang berbeda.”
Seketika dunia runtuh.
Aku merasa dadaku dihantam sesuatu yang tak kasat mata. “Kau… mencintai kami berdua?”
Kau meneteskan air mata. “Aku mencoba memilih. Tapi setiap kali aku memilih satu, aku merasa kehilangan bagian diriku yang lain.”
Dia tertawa pendek, getir, tapi penuh ancaman. “Dan sekarang? Siapa yang kau pilih malam ini?”
Dia mendekat, menarik bahumu, memaksamu mendongak. “Katakan. Sekarang.”
Aku maju, menepis tangannya kasar. “Jangan paksa dia!”
Dan di sanalah segalanya pecah.
Dia mendorongku. Aku menahan diri. Tapi dorongan kedua membuatku kehilangan keseimbangan. Tanah licin. Malam gelap. Danau di belakangku.
“Aku tidak akan biarkan kamu ambil dia dariku,” katanya dengan suara rendah.
Aku bangkit lagi. “Cinta yang dipaksa bukan cinta. Kau hanya—”
Sebelum kalimatku selesai, kilau logam kecil terlihat di tangannya.
Kau menjerit, “Jangan! Kau sudah gila!”
Aku menangkis dengan sekuat tenaga. Dunia menjadi kacau. Tubuh kami bertubrukan. Suara air danau bergolak.
Saat kusadari apa yang terjadi, aku melihat tubuhnya tergeletak. Darah merembes di dadanya. Pisau itu—pisau yang ia bawa—menancap tepat di dirinya sendiri akibat dorongan keras saat kita berebut.
Aku terdiam. Kau terisak keras.
“Apa yang sudah kalian lakukan…” bisikmu lemah.
Aku menatap matanya yang perlahan kehilangan cahaya. “Aku… aku tidak berniat…”
Dia mencoba bicara, tapi hanya suara napas pendek yang keluar. Dan di detik terakhir hidupnya, dia berbisik:
“Dia… milikmu. Jagalah dia… lebih baik… dari aku.”
Kau berlari memelukku, menangis di dadaku. Tubuhmu bergetar hebat.
“Aku tidak ingin kehilangan kamu… aku tidak ingin semua ini terjadi…”
Aku memelukmu erat meski tangan dan seluruh tubuhku masih gemetar. “Ini kecelakaan… Bukan salahmu.”
Kau menatapku dengan mata basah yang memecah hatiku.
“Jika cinta harus memilih,
biarkan aku memilih luka yang hidup
daripada kenangan yang mati.”
Aku mengusap air matamu.
“Kau tidak sendirian. Malam ini akan selalu menjadi rahasia kita. Bukan cerita tentang siapa yang menang… tapi tentang siapa yang tersisa.”
Kau memelukku lebih erat, seakan takut aku juga akan menghilang seperti dia.
Aku menarik napas panjang, menatap gelap danau yang menyimpan bayangannya.
Cinta segitiga selalu berakhir pada satu pilihan.
Dan malam itu, pilihan itu jatuh bersimbah darah.

Komentar
Posting Komentar