Langsung ke konten utama

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama”


Cerita Pendek:“Di Ujung Doa yang Tak Sama”
https://www.viva.co.id/foto/966355-cinta-beda-agama-dalam-pandangan-anak-kekinian

Hujan turun seperti tirai abu-abu yang menutupi kota sore itu. Di bawah atap kecil halte dekat kampus, aku melihatmu berdiri dengan tangan menggenggam buku doa yang selalu kau bawa. Kau menoleh ketika aku datang, dan senyummu—rapuh namun cerah—langsung menghangatkan sesuatu di dalam diriku.

“Kau basah semua, Rin,” katamu sambil mengulurkan jaketmu.

Aku menolaknya pelan. “Biarkan saja. Hujan membuatku merasa... masih hidup.”

“Kau selalu bicara hal aneh.” Kau tersenyum kecil.

“Karena hanya denganmu aku bisa bicara seaneh itu.”

Aku tak bermaksud menggoda, tapi pipimu memerah halus. Sejak hari pertama kita bertemu di perpustakaan, takdir seperti terus mempertemukan kita. Hujan, buku-buku tua, dan perdebatan kecil tentang Tuhan yang kita sembah dengan cara berbeda—semua menjadi jembatan yang tak pernah bosan kita lewati berdua.

Namun semakin dekat kita, semakin besar rasa takutmu tumbuh.


Suatu malam, kita duduk di tepi danau kampus. Lampu taman memantulkan cahaya kuning pucat di permukaan air. Kau memandang jauh, seolah menatap masa depan yang bahkan tak mau menyambutmu.

“Aku takut, Rin,” katamu akhirnya.

“Apa yang kau takutkan?”

“Cinta yang tak bisa kuperjuangkan sampai akhir.”

Aku menoleh padamu, hatiku mencubit dirinya sendiri. “Kenapa kau bicara seolah kita sudah kalah?”

“Karena aku tahu batasku,” suaramu bergetar. “Ayahku tegas. Ibuku penyakitan. Mereka ingin aku menikah dengan seseorang yang seiman. Tidak ada ruang buat ‘kita’ dalam jalan hidup yang mereka pilihkan.”

Aku menahan napas. “Dan jalan yang kau pilih?”

Kau menatapku. Ada cinta, tapi juga luka.

“Aku memilihmu. Tapi dunia memilih menghukumku.”

Aku menunduk, menahan air mata. “Aku tak ingin jadi alasan keluargamu terluka.”

“Kau bukan alasan. Kau... ujian.”


Keesokan harinya kau menghilang. Ponselmu mati. Pesan-pesanku centang satu. Rumor menyebar: kau dipindahkan ke kota lain, tinggal bersama pamanmu. Katanya ayahmu sakit setelah mendengar kita menjalin hubungan.

Selama dua minggu aku kehilangan arah. Semua tempat yang pernah kita singgahi terasa seperti makam kenangan yang tak lagi bernyawa.

Hingga malam itu, hujan kembali turun deras. Aku berteduh di depan gedung lama fakultas ketika bayanganmu muncul dari balik air yang tercurah.

Kau berdiri di sana, basah kuyup, wajahmu pucat, tapi matamu… matamu masih sama—penuh cinta yang tak pernah padam.

“Rin…” suaramu pecah. “Aku pulang.”

Aku berlari menghampirimu. “Kenapa kau pergi tanpa bilang?”

“Ayahku menyuruhku memilih. Dia bilang kalau aku tetap bersamamu… aku bukan lagi anaknya.”

Hujan semakin deras. Butiran air jatuh di wajahmu seperti air mata yang tak sempat keluar.

“Aku mencoba patuh,” lanjutmu, “tapi setiap malam aku memikirkanmu. Aku merasa hampa. Maka aku kembali. Meski harus kehilangan semuanya.”

“Jangan bicara begitu—”

“Aku serius.” Kau menggenggam tanganku, dingin, gemetar. “Aku hanya punya satu permintaan.”

“Apa?”

“Tetap temani aku… sampai aku kuat.”

Aku mengangguk. “Aku di sini. Aku tidak kemana-mana.”


Tapi dunia tak pernah benar-benar membiarkan kita memilih dengan bebas.

Tiga hari setelah kau kembali, kami berencana bertemu di taman kampus. Detik-detik sebelum hujan turun, aku menerima telepon dari nomor tak dikenal.

Suara perempuan di seberang sana bergetar. “Ini… dari rumah sakit. Kenalkah Anda seseorang bernama—”

Dunia seolah berhenti.

Aku berlari tanpa berpikir, napas tersengal, hujan menampar wajahku. Di ruang IGD, aku melihatmu terbaring, wajahmu pucat, bibirmu membiru, dadamu naik turun lemah.

“Apa yang terjadi?” suaraku pecah.

“Kecelakaan motor,” jawab perawat. “Dia menabrak tikungan. Terlihat seperti sedang terburu-buru.”

Aku menggenggam tanganmu.

Kau membuka mata perlahan. “Aku… aku ingin datang menemui…mu…”

“Kau bodoh,” aku menangis. “Kenapa memaksakan diri?”

“Kau bilang… kau tidak kemana-mana…” Kau tersenyum, tapi darah mengalir di sudut bibirmu. “Aku ingin cepat… sampai…”

“Jangan bicara lagi. Simpan tenagamu.”

“Tuhan… kita berbeda…” suaramu melemah. “Tapi cintaku… sama…”

Tanganmu meremas tanganku terakhir kalinya.

Dan saat hujan berhenti di luar jendela, matamu pun ikut terpejam—tenang, seolah akhirnya menemukan jawaban yang tak pernah bisa kita temukan di dunia ini.


Sekarang, setiap hujan turun, aku berdiri di tempat kita biasa berteduh. Aku membawa payung hitammu—satu-satunya benda yang tertinggal dari dirimu.

Aku tahu cinta kita tak sempat menang. Tapi di antara dua doa yang tak pernah sama arah, kita pernah saling menemukan.

Dan itu cukup untuk membuatku terus mengingatmu… meski dunia memilih memisahkan kita lebih cepat dari yang pernah kubayangkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...