Langsung ke konten utama

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

 

Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah.

Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan.

“Aku keluar sebentar,” katamu.

“Akan lama?” tanyaku.

“Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan.

Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.”

Kau menatapku lama. “Kau takut?”

Aku menggeleng. “Aku rindu.”

Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu langit. Tapi malam-malam ini, senyummu tampak lelah, seolah ada beban yang tak sanggup kau ceritakan.

Sebelum pergi, kau mendekat dan membisikkan sesuatu yang terdengar seperti puisi patah:

Jika suatu malam aku tak kembali,
jangan kau cari aku pada doa yang sama.
Cukup panggil namaku di dadamu,
aku akan mendengarnya… meski dari dunia yang lain.

Aku menggigil, dan bukan karena dingin.


Tepat pukul 00.07, ketukan itu datang.
Pelan.
Berirama.
Menembus dinding hatiku seperti bisikan masa lalu.

Aku memberanikan diri berjalan menuju jendela. Tangan gemetar, napas tercekat. Ketika tirai kusibak, tidak ada siapa pun di luar sana—hanya angin malam yang menggerakkan daun mangga dan aroma tanah basah.

Tetapi di kaca jendela… ada embun yang membentuk dua huruf:
A dan K
Inisialku dan… inisialmu.

Jantungku berdegup liar. “Apa ini ulahmu?” gumamku.

Tapi tidak. Kau tidak mungkin bergerak secepat itu. Dan kau tidak mungkin membuat embun dari luar jendela lantai dua.

Aku memejamkan mata dan membisikkan puisi kecil:

Jika ini pertanda,
jangan biarkan ia menjadi luka.
Biarkan ia jadi jalan,
yang membawaku kembali padamu.

Namun malam itu tak memberiku jawab apa-apa.


Pagi berikutnya, kau pulang tanpa suara. Matamu merah seperti orang yang belum tidur semalam.

“Kau melihatnya lagi?” tanyamu sebelum sempat duduk.

“Aku melihat embun itu.”

Kau mengusap wajahmu. “Aku takut ini semakin parah.”

“Apa maksudmu?” tanyaku, menggenggam tanganmu.

Tanganmu dingin.

“Aku tidak bisa terus membiarkanmu sendirian setiap malam. Tapi aku juga tidak bisa berhenti pergi.”

“Kenapa?” suaraku pecah. “Kau sembunyikan apa dariku?”

Kau menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin runtuh. “Aku berdoa di tempat berbeda darimu. Aku memanggil Tuhan yang berbeda. Dan aku… terjebak di antara dua suara: suaramu dan suara keluarga yang tak pernah merestui.”

“Apa hubungannya dengan ketukan itu?”

Kau menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Tapi setiap kali aku berniat kembali padamu, ada sesuatu yang memanggilku ke luar rumah.”

Aku menahan napas. “Sesuatu? Atau seseorang?”

Kau terdiam.

“Itu suara perempuan,” katamu akhirnya. “Suara yang memanggilku sambil mengetuk kaca.”

Aku memucat. “Perempuan?”

“Iya… tapi suaranya asing. Bukan manusia. Seperti… doa yang tersesat.”

Aku merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Kau menukas, “Aku tidak ingin kau takut. Tapi aku juga tidak ingin berbohong.”

Aku menatapmu dengan mata yang mulai basah. “Aku tidak takut hantu, aku takut kehilanganmu.”

Kau menggenggam dahiku, membisik:

Jika aku pergi dari pelukanmu,
bukan karena aku ingin hilang.
Tapi karena ada doa yang memanggilku,
dari tempat yang tak bisa kujelaskan kepadamu.

Air mataku akhirnya pecah.

Malam ketiga, semua berubah.

Ketukan itu datang lagi. Tapi kali ini lebih keras. Lebih cepat. Lebih mendesak. Dan anehnya, malam itu kau tidak sempat pergi. Kau berdiri di tengah kamar, menunggu, wajahmu tegang seperti sedang menantang sesuatu yang tidak terlihat.

“Jangan buka jendelanya,” katamu.

Tapi ketukan itu semakin keras. Tirai berkibar meski jendela tertutup rapat.

Aku bersembunyi di belakangmu. Kau meraih tanganku, menguatkannya dengan genggaman yang bergetar.

“Aku tahu siapa yang mengetuk itu,” katamu lirih.

“Apa? Siapa?!”

Kau menelan ludah. “Ibuku.”

Aku terdiam.

“Tapi ibumu… sudah meninggal,” bisikku.

Kau mengangguk perlahan. “Dan dia tidak pernah menerima pernikahan kita. Tidak pernah menerima perbedaan kita.”

Ketukan itu berhenti.
Hening.
Tapi aku bisa mendengar sesuatu lain. Suara seperti napas seseorang… di balik kaca.

“Aku harus membukanya,” katamu melangkah.

Aku menariknya. “Jangan! Kau tidak tahu apa yang terjadi!”

“Aku harus. Jika tidak, dia tidak akan pernah berhenti datang.”

Aku memelukmu dari belakang, memohon, “Aku tidak takut pada ibumu… aku takut kehilangan kau.”

Kau menoleh, menatapku dengan mata yang penuh luka. “Kau tidak akan kehilangan aku.”

Tapi saat kau membuka jendela, angin dingin menyapu masuk, dan aku melihat sesuatu yang membuat tubuhku membeku: bayangan perempuan berdiri di bawah pohon mangga, wajahnya buram, tubuhnya seperti asap.

Dan dia memanggil namamu.

Kau melangkah maju, seolah terpanggil. Aku menarikmu, memaksa tubuhmu kembali. “Kau tidak ke mana-mana!”

Kau gemetar hebat. “Dia ingin aku pulang… bukan ke rumah, tapi ke keyakinanku. Ke doa yang pernah kutinggalkan.”

Aku menangis. “Kalau begitu… biarkan aku ikut.”

Kau memelukku. “Kau tidak bisa. Tuhan kita berbeda.”

“Lalu bagaimana dengan cinta kita?!”

Kau membalas dengan suara paling pedih yang pernah kudengar:

Cinta kita bukan salah,
yatapi ia lahir di dua langit yang tak pernah bertemu.
Dan kadang… cinta yang suci pun harus kalah,
di persimpangan doa.

Aku terjatuh di lantai, menangis seperti anak kecil.

Kau menutup jendela itu perlahan, membelai kepalaku, dan berbisik:

“Aku tidak pergi. Aku tidak akan menghilang. Tapi aku harus berdamai dengan dia, dengan masa lalu, dengan doaku… sebelum aku bisa kembali padamu sepenuhnya.”

Aku mengangguk sambil menangis.

Di luar sana, bayangan itu perlahan memudar.

Dan ketukan itu tidak datang lagi—tapi meninggalkan luka yang tidak akan pernah hilang sepenuhnya.

Aku tahu malam itu, kita tidak kalah.
Tapi kita juga tidak menang.

Kita hanya dua manusia yang mencoba mencintai, di tengah langit yang tidak pernah benar-benar berpihak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...