
Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”
Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah.
Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan.
“Aku keluar sebentar,” katamu.
“Akan lama?” tanyaku.
“Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan.
Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.”
Kau menatapku lama. “Kau takut?”
Aku menggeleng. “Aku rindu.”
Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu langit. Tapi malam-malam ini, senyummu tampak lelah, seolah ada beban yang tak sanggup kau ceritakan.
Sebelum pergi, kau mendekat dan membisikkan sesuatu yang terdengar seperti puisi patah:
Aku menggigil, dan bukan karena dingin.
Aku memberanikan diri berjalan menuju jendela. Tangan gemetar, napas tercekat. Ketika tirai kusibak, tidak ada siapa pun di luar sana—hanya angin malam yang menggerakkan daun mangga dan aroma tanah basah.
Jantungku berdegup liar. “Apa ini ulahmu?” gumamku.
Tapi tidak. Kau tidak mungkin bergerak secepat itu. Dan kau tidak mungkin membuat embun dari luar jendela lantai dua.
Aku memejamkan mata dan membisikkan puisi kecil:
Namun malam itu tak memberiku jawab apa-apa.
Pagi berikutnya, kau pulang tanpa suara. Matamu merah seperti orang yang belum tidur semalam.
“Kau melihatnya lagi?” tanyamu sebelum sempat duduk.
“Aku melihat embun itu.”
Kau mengusap wajahmu. “Aku takut ini semakin parah.”
“Apa maksudmu?” tanyaku, menggenggam tanganmu.
Tanganmu dingin.
“Aku tidak bisa terus membiarkanmu sendirian setiap malam. Tapi aku juga tidak bisa berhenti pergi.”
“Kenapa?” suaraku pecah. “Kau sembunyikan apa dariku?”
Kau menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin runtuh. “Aku berdoa di tempat berbeda darimu. Aku memanggil Tuhan yang berbeda. Dan aku… terjebak di antara dua suara: suaramu dan suara keluarga yang tak pernah merestui.”
“Apa hubungannya dengan ketukan itu?”
Kau menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Tapi setiap kali aku berniat kembali padamu, ada sesuatu yang memanggilku ke luar rumah.”
Aku menahan napas. “Sesuatu? Atau seseorang?”
Kau terdiam.
“Itu suara perempuan,” katamu akhirnya. “Suara yang memanggilku sambil mengetuk kaca.”
Aku memucat. “Perempuan?”
“Iya… tapi suaranya asing. Bukan manusia. Seperti… doa yang tersesat.”
Aku merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Kau menukas, “Aku tidak ingin kau takut. Tapi aku juga tidak ingin berbohong.”
Aku menatapmu dengan mata yang mulai basah. “Aku tidak takut hantu, aku takut kehilanganmu.”
Kau menggenggam dahiku, membisik:
Air mataku akhirnya pecah.
Malam ketiga, semua berubah.
Ketukan itu datang lagi. Tapi kali ini lebih keras. Lebih cepat. Lebih mendesak. Dan anehnya, malam itu kau tidak sempat pergi. Kau berdiri di tengah kamar, menunggu, wajahmu tegang seperti sedang menantang sesuatu yang tidak terlihat.
“Jangan buka jendelanya,” katamu.
Tapi ketukan itu semakin keras. Tirai berkibar meski jendela tertutup rapat.
Aku bersembunyi di belakangmu. Kau meraih tanganku, menguatkannya dengan genggaman yang bergetar.
“Aku tahu siapa yang mengetuk itu,” katamu lirih.
“Apa? Siapa?!”
Kau menelan ludah. “Ibuku.”
Aku terdiam.
“Tapi ibumu… sudah meninggal,” bisikku.
Kau mengangguk perlahan. “Dan dia tidak pernah menerima pernikahan kita. Tidak pernah menerima perbedaan kita.”
“Aku harus membukanya,” katamu melangkah.
Aku menariknya. “Jangan! Kau tidak tahu apa yang terjadi!”
“Aku harus. Jika tidak, dia tidak akan pernah berhenti datang.”
Aku memelukmu dari belakang, memohon, “Aku tidak takut pada ibumu… aku takut kehilangan kau.”
Kau menoleh, menatapku dengan mata yang penuh luka. “Kau tidak akan kehilangan aku.”
Tapi saat kau membuka jendela, angin dingin menyapu masuk, dan aku melihat sesuatu yang membuat tubuhku membeku: bayangan perempuan berdiri di bawah pohon mangga, wajahnya buram, tubuhnya seperti asap.
Dan dia memanggil namamu.
Kau melangkah maju, seolah terpanggil. Aku menarikmu, memaksa tubuhmu kembali. “Kau tidak ke mana-mana!”
Kau gemetar hebat. “Dia ingin aku pulang… bukan ke rumah, tapi ke keyakinanku. Ke doa yang pernah kutinggalkan.”
Aku menangis. “Kalau begitu… biarkan aku ikut.”
Kau memelukku. “Kau tidak bisa. Tuhan kita berbeda.”
“Lalu bagaimana dengan cinta kita?!”
Kau membalas dengan suara paling pedih yang pernah kudengar:
Aku terjatuh di lantai, menangis seperti anak kecil.
Kau menutup jendela itu perlahan, membelai kepalaku, dan berbisik:
“Aku tidak pergi. Aku tidak akan menghilang. Tapi aku harus berdamai dengan dia, dengan masa lalu, dengan doaku… sebelum aku bisa kembali padamu sepenuhnya.”
Aku mengangguk sambil menangis.
Di luar sana, bayangan itu perlahan memudar.
Dan ketukan itu tidak datang lagi—tapi meninggalkan luka yang tidak akan pernah hilang sepenuhnya.
Kita hanya dua manusia yang mencoba mencintai, di tengah langit yang tidak pernah benar-benar berpihak.
Komentar
Posting Komentar