Langsung ke konten utama

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah

 

Ilustrasi foto Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah


Hujan turun sore itu, menetes perlahan seperti doa yang gugur dari langit. Aku berdiri di bawah atap mushola kampus, mencoba menenangkan dada yang tak kunjung reda sejak pertemuan terakhir kita. Kau datang dengan langkah pelan, membawa aroma hujan yang selalu kukenal sejak pertama kali kita berbicara tentang hal paling sepele: warna senja.

“Kau masih menungguku?” bisikmu.

Aku tersenyum hambar. “Bukankah aku selalu begitu?”

Kau menatapku, matamu seperti halaman kitab yang tak pernah bosan kubaca—penuh misteri, penuh luka yang kau sembunyikan demi tak melukai sesiapa pun.

“Orang-orang mulai bertanya,” katamu, lirih. “Tentang kita. Tentang kenapa aku terlalu sering bersamamu.”

Aku menghela napas. “Biarkan mereka. Yang tidak mengerti, tak punya hak mengatur langkah kita.”

Tapi aku tahu hatimu gemetar. Bukan karena hujan, bukan karena dingin. Melainkan karena kenyataan bahwa kita terpaut di antara dua dunia yang tidak pernah mau berdamai.

Kau menggenggam jemariku sebentar, sebelum menariknya pelan seolah takut Tuhan melihat. “Aku hanya tidak ingin kau terluka,” ucapmu.

Aku menatapmu lama, lalu berkata pelan, “Aku lebih takut kehilanganmu daripada apapun yang mereka katakan.”

Puisi kecilku pecah tanpa sengaja di bibirku:

Jika mencintaimu adalah luka,
maka biarkan aku berdarah.
Sebab yang mengalir hanyalah namamu,
yang tak pernah berhasil kuhapus dari nadiku.

Kau menunduk, seakan puisi itu menampar sesuatu jauh di dalam dirimu.


Malam berikutnya, kita bertemu lagi. Di taman belakang perpustakaan. Tempat yang pernah kau sebut sebagai ruang netral—bukan masjid, bukan gereja—hanya hening dan angin yang menua bersama waktu.

“Kita tak bisa terus begini,” katamu. Nada itu menggores seperti pisau.

“Aku tahu,” jawabku. “Tapi aku juga tahu, kita tak bisa berhenti.”

Kau duduk di bangku kayu yang mulai rapuh dimakan hujan. Aku berdiri di depammu, menatap wajah yang mulai penuh keraguan.

“Orang tuaku mulai curiga,” bisikmu. “Mereka bilang aku terlalu jauh melangkah. Mereka ingin aku berhenti bertemu denganmu.”

Aku tersenyum pahit. “Lalu? Kau akan menuruti mereka?”

Kau menggeleng cepat. “Tidak mudah. Kau tahu itu.”

“Tapi aku di sini,” kataku lirih. “Meski kau gentar, meski kau terbelah, aku tetap di sini.”

Kau menatapku lama, lalu berkata, “Aku ingin memperjuangkanmu. Tapi aku juga takut membuatmu kehilangan keluargamu.”

Aku menelan ludah. “Kau pikir aku juga tidak takut kehilangan keluargaku karena mencintaimu?”

Kau terdiam.

Dalam hening itu, aku mengucap sebuah puisi pendek, sepelan detak jantung yang ingin menyerah:

Malam tahu kita saling mencari,
meski doa-doa kita berbeda arah.
Tapi apakah Tuhan akan benar-benar marah,
jika dua hati saling menatah rindu?

Kau menutup wajahmu dengan kedua tanganmu. Aku tahu kau menangis tanpa suara.


Hari yang menegangkan itu tiba ketika keluargamu memergoki kita di depan kampus. Suaramu bergetar saat kau mencoba menjelaskan, dan suara ayahmu menggema seperti palu hukuman.

“Kau tahu aturannya! Kau tahu batasnya!” teriak ayahmu.

Aku berdiri tegak meski lututku gemetar. “Pak… saya tidak bermaksud membawa dia menjauh dari keluarganya. Saya hanya—”

“Kau hanya apa?” potongnya. “Mengikat perasaannya? Menjeratnya ke masa depan yang tak mungkin kalian jalani?”

Aku menunduk. Sakitnya menusuk terlalu dalam. Kau memandangku dengan mata memohon, seolah berkata maafkan aku… maafkan mereka… maafkan keadaan.

Ibumu menggenggam lenganmu, menarikmu menjauh dariku. “Nak, jangan buat hidupmu rumit.”

Aku ingin berlari menghampirimu, tapi kakiku beku.

“Hentikan…” kau mencoba meronta. “Aku yang memilih dia. Bukan dia yang memaksa.”

Ayahmu menatapmu tajam. “Dan kau harus memilih keluargamu.”

Itulah pertama kalinya aku melihatmu benar-benar hancur.


Dua minggu berlalu tanpa kabar. Dua minggu yang terasa seperti hukuman panjang dari semesta. Aku tidak makan dengan benar, tidur pun seperti sekedar formalitas tubuh.

Aku merindukanmu.

Hingga suatu malam, kau berdiri di depan kostku, basah oleh hujan. Nafasmu cepat, matamu merah.

“Aku tak tahan,” katamu sambil memelukku tiba-tiba. “Aku tak bisa hidup seolah-olah kau tak ada.”

Aku memelukmu erat, seakan dunia akan runtuh jika aku melepaskan.

Kau menangis di bahuku. “Aku ingin memperjuangkan kita. Meski kita harus menyakiti beberapa orang. Meski kita harus menunggu lebih lama.”

Aku menatap wajahmu yang kacau oleh hujan dan air mata. “Kau benar-benar yakin?”

Kau mengangguk. “Aku mencintaimu, tapi bukan cinta yang minta jalan instan. Cinta kita… cinta yang harus berjalan pelan. Pelan tapi pasti menuju sesuatu.”

Aku tersenyum lirih. Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu, hatiku terasa hidup.

Dan aku membisikkan puisi terakhir malam itu:

Jika dunia melarang kita bersatu,
maka biarkan kita berjalan perlahan.
Sebab aku percaya, cinta yang sabar,
akan menemukan jalannya.

Kau tersenyum. “Aku percaya itu.”

Dan untuk sekali lagi, hujan menjadi saksi bahwa meski dunia menolak, kita tetap memilih untuk bertahan—meski perlahan, meski sakit, meski belum tahu akhirnya akan seperti apa. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, kita tidak takut lagi.

Kita hanya mencintai.
Dan memperjuangkan.
Tanpa berhenti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...