![]() |
| Ilustrasi foto Cerita Pendek :Rintik Cinta di Ujung Sajadah |
Hujan turun sore itu, menetes perlahan seperti doa yang gugur dari langit. Aku berdiri di bawah atap mushola kampus, mencoba menenangkan dada yang tak kunjung reda sejak pertemuan terakhir kita. Kau datang dengan langkah pelan, membawa aroma hujan yang selalu kukenal sejak pertama kali kita berbicara tentang hal paling sepele: warna senja.
“Kau masih menungguku?” bisikmu.
Aku tersenyum hambar. “Bukankah aku selalu begitu?”
Kau menatapku, matamu seperti halaman kitab yang tak pernah bosan kubaca—penuh misteri, penuh luka yang kau sembunyikan demi tak melukai sesiapa pun.
“Orang-orang mulai bertanya,” katamu, lirih. “Tentang kita. Tentang kenapa aku terlalu sering bersamamu.”
Aku menghela napas. “Biarkan mereka. Yang tidak mengerti, tak punya hak mengatur langkah kita.”
Tapi aku tahu hatimu gemetar. Bukan karena hujan, bukan karena dingin. Melainkan karena kenyataan bahwa kita terpaut di antara dua dunia yang tidak pernah mau berdamai.
Kau menggenggam jemariku sebentar, sebelum menariknya pelan seolah takut Tuhan melihat. “Aku hanya tidak ingin kau terluka,” ucapmu.
Aku menatapmu lama, lalu berkata pelan, “Aku lebih takut kehilanganmu daripada apapun yang mereka katakan.”
Puisi kecilku pecah tanpa sengaja di bibirku:
Kau menunduk, seakan puisi itu menampar sesuatu jauh di dalam dirimu.
Malam berikutnya, kita bertemu lagi. Di taman belakang perpustakaan. Tempat yang pernah kau sebut sebagai ruang netral—bukan masjid, bukan gereja—hanya hening dan angin yang menua bersama waktu.
“Kita tak bisa terus begini,” katamu. Nada itu menggores seperti pisau.
“Aku tahu,” jawabku. “Tapi aku juga tahu, kita tak bisa berhenti.”
Kau duduk di bangku kayu yang mulai rapuh dimakan hujan. Aku berdiri di depammu, menatap wajah yang mulai penuh keraguan.
“Orang tuaku mulai curiga,” bisikmu. “Mereka bilang aku terlalu jauh melangkah. Mereka ingin aku berhenti bertemu denganmu.”
Aku tersenyum pahit. “Lalu? Kau akan menuruti mereka?”
Kau menggeleng cepat. “Tidak mudah. Kau tahu itu.”
“Tapi aku di sini,” kataku lirih. “Meski kau gentar, meski kau terbelah, aku tetap di sini.”
Kau menatapku lama, lalu berkata, “Aku ingin memperjuangkanmu. Tapi aku juga takut membuatmu kehilangan keluargamu.”
Aku menelan ludah. “Kau pikir aku juga tidak takut kehilangan keluargaku karena mencintaimu?”
Kau terdiam.
Dalam hening itu, aku mengucap sebuah puisi pendek, sepelan detak jantung yang ingin menyerah:
Kau menutup wajahmu dengan kedua tanganmu. Aku tahu kau menangis tanpa suara.
Hari yang menegangkan itu tiba ketika keluargamu memergoki kita di depan kampus. Suaramu bergetar saat kau mencoba menjelaskan, dan suara ayahmu menggema seperti palu hukuman.
“Kau tahu aturannya! Kau tahu batasnya!” teriak ayahmu.
Aku berdiri tegak meski lututku gemetar. “Pak… saya tidak bermaksud membawa dia menjauh dari keluarganya. Saya hanya—”
“Kau hanya apa?” potongnya. “Mengikat perasaannya? Menjeratnya ke masa depan yang tak mungkin kalian jalani?”
Aku menunduk. Sakitnya menusuk terlalu dalam. Kau memandangku dengan mata memohon, seolah berkata maafkan aku… maafkan mereka… maafkan keadaan.
Ibumu menggenggam lenganmu, menarikmu menjauh dariku. “Nak, jangan buat hidupmu rumit.”
Aku ingin berlari menghampirimu, tapi kakiku beku.
“Hentikan…” kau mencoba meronta. “Aku yang memilih dia. Bukan dia yang memaksa.”
Ayahmu menatapmu tajam. “Dan kau harus memilih keluargamu.”
Itulah pertama kalinya aku melihatmu benar-benar hancur.
Dua minggu berlalu tanpa kabar. Dua minggu yang terasa seperti hukuman panjang dari semesta. Aku tidak makan dengan benar, tidur pun seperti sekedar formalitas tubuh.
Aku merindukanmu.
Hingga suatu malam, kau berdiri di depan kostku, basah oleh hujan. Nafasmu cepat, matamu merah.
“Aku tak tahan,” katamu sambil memelukku tiba-tiba. “Aku tak bisa hidup seolah-olah kau tak ada.”
Aku memelukmu erat, seakan dunia akan runtuh jika aku melepaskan.
Kau menangis di bahuku. “Aku ingin memperjuangkan kita. Meski kita harus menyakiti beberapa orang. Meski kita harus menunggu lebih lama.”
Aku menatap wajahmu yang kacau oleh hujan dan air mata. “Kau benar-benar yakin?”
Kau mengangguk. “Aku mencintaimu, tapi bukan cinta yang minta jalan instan. Cinta kita… cinta yang harus berjalan pelan. Pelan tapi pasti menuju sesuatu.”
Aku tersenyum lirih. Untuk pertama kalinya sejak perdebatan itu, hatiku terasa hidup.
Dan aku membisikkan puisi terakhir malam itu:
Kau tersenyum. “Aku percaya itu.”
Dan untuk sekali lagi, hujan menjadi saksi bahwa meski dunia menolak, kita tetap memilih untuk bertahan—meski perlahan, meski sakit, meski belum tahu akhirnya akan seperti apa. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, kita tidak takut lagi.

Komentar
Posting Komentar