Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
Langkah-langkahmu menapaki jalur tanah basah,
di antara akar-akar yang menggeliat
seperti rindu yang tak pernah patah.
Kau di depan, membawa tas berisi logistik dan mimpi,
aku di belakang, membawa hati yang sejak
awal ingin tinggal di dekapanmu lagi.
Angin menyapu rambutmu pelan,
seperti alam tahu bahwa aku diam-diam
sedang jatuh perlahan.
Kabut turun, menyelimuti jalur pendakian,
namun
tak pernah bisa menyelimuti perasaanku
yang kian terang dalam keremangan.
Kita duduk di sebuah batu besar,
melepas lelah sambil berbagi coklat
dan cerita yang hambar jadi mekar.
Kau tertawa, dan di sela-sela
napasmu yang lelah,
ada doa yang tak kau ucapkan tapi aku
tangkap dengan indra
yang lebih peka dari telinga.
Mencintaimu
di jalur pendakian seperti mencintai semesta,
penuh tantangan, tapi aku ingin terus naik ke puncaknya.
Meski kadang langkahmu lebih cepat,
aku selalu tahu, kau akan berhenti
dan menungguku di tikungan
yang sunyi itu—tempat rindu beristirahat.
Di puncak nanti,
kita tidak hanya melihat lautan awan atau matahari pagi,
tapi juga melihat masa depan yang kita daki dengan hati,
dengan cinta yang tak takut pada terjalnya tebing
atau dinginnya malam di tenda kecil itu nanti.
Karena pendakian ini
bukan hanya tentang menaklukkan gunung,
tapi tentang menyatu
dalam peluh dan pelukan,
tentang merindu dalam dingin,
dan mencinta dalam diam yang saling menguatkan.

Komentar
Posting Komentar