Puisi:"Langkah dan Rindumu di Punggungan Cinta"



Langkah-langkahmu menapaki jalur tanah basah,
di antara akar-akar yang menggeliat
 seperti rindu yang tak pernah patah.
Kau di depan, membawa tas berisi logistik dan mimpi,
aku di belakang, membawa hati yang sejak 
awal ingin tinggal di dekapanmu lagi.

Angin menyapu rambutmu pelan,
seperti alam tahu bahwa aku diam-diam
sedang jatuh perlahan.
Kabut turun, menyelimuti jalur pendakian,
namun 
tak pernah bisa menyelimuti perasaanku 
yang kian terang dalam keremangan.

Kita duduk di sebuah batu besar,
melepas lelah sambil berbagi coklat 
dan cerita yang hambar jadi mekar.
Kau tertawa, dan di sela-sela 
napasmu yang lelah,
ada doa yang tak kau ucapkan tapi aku 
tangkap dengan indra 
yang lebih peka dari telinga.

Mencintaimu
 di jalur pendakian seperti mencintai semesta,
penuh tantangan, tapi aku ingin terus naik ke puncaknya.
Meski kadang langkahmu lebih cepat,
aku selalu tahu, kau akan berhenti 
dan menungguku di tikungan
 yang sunyi itu—tempat rindu beristirahat.

Di puncak nanti,
kita tidak hanya melihat lautan awan atau matahari pagi,
tapi juga melihat masa depan yang kita daki dengan hati,
dengan cinta yang tak takut pada terjalnya tebing
atau dinginnya malam di tenda kecil itu nanti.

Karena pendakian ini 
bukan hanya tentang menaklukkan gunung,
tapi tentang menyatu 
dalam peluh dan pelukan,
tentang merindu dalam dingin,
dan mencinta dalam diam yang saling menguatkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Cerita Pendek:Lonceng Akhir