ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah” Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...
Langkah-langkahmu menapaki jalur tanah basah,
di antara akar-akar yang menggeliat
seperti rindu yang tak pernah patah.
Kau di depan, membawa tas berisi logistik dan mimpi,
aku di belakang, membawa hati yang sejak
awal ingin tinggal di dekapanmu lagi.
Angin menyapu rambutmu pelan,
seperti alam tahu bahwa aku diam-diam
sedang jatuh perlahan.
Kabut turun, menyelimuti jalur pendakian,
namun
tak pernah bisa menyelimuti perasaanku
yang kian terang dalam keremangan.
Kita duduk di sebuah batu besar,
melepas lelah sambil berbagi coklat
dan cerita yang hambar jadi mekar.
Kau tertawa, dan di sela-sela
napasmu yang lelah,
ada doa yang tak kau ucapkan tapi aku
tangkap dengan indra
yang lebih peka dari telinga.
Mencintaimu
di jalur pendakian seperti mencintai semesta,
penuh tantangan, tapi aku ingin terus naik ke puncaknya.
Meski kadang langkahmu lebih cepat,
aku selalu tahu, kau akan berhenti
dan menungguku di tikungan
yang sunyi itu—tempat rindu beristirahat.
Di puncak nanti,
kita tidak hanya melihat lautan awan atau matahari pagi,
tapi juga melihat masa depan yang kita daki dengan hati,
dengan cinta yang tak takut pada terjalnya tebing
atau dinginnya malam di tenda kecil itu nanti.
Karena pendakian ini
bukan hanya tentang menaklukkan gunung,
tapi tentang menyatu
dalam peluh dan pelukan,
tentang merindu dalam dingin,
dan mencinta dalam diam yang saling menguatkan.
Komentar
Posting Komentar