Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
freepik.com
Puisi:Kau Pergi, Tapi Namamu Masih Menetap di sini
Kau pernah datang dengan senyum sederhana,
membawa hangat yang tak mampu dilawan oleh dinginnya malam.
Aku menaruh percaya, menaruh cinta,
di sela detik yang perlahan berubah jadi harapan.
Namun kini, langkahmu menjauh.
Suaramu hanya gema yang tersisa di sudut ingatan.
Aku menatap jalan yang pernah kita lalui,
dan setiap bayanganmu masih menempel di dinding hatiku.
Kau pergi, tapi namamu tak pernah ikut bersama langkahmu.
Ia tertinggal di dadaku,
berdenyut bersama setiap helaan napas,
menjadi luka yang indah, sekaligus doa yang tak selesai.
Jika suatu hari kau kembali membaca mataku,
kau akan tahu,
aku masih menyebut namamu
meski hanya dalam diam yang bergetar.
Komentar
Posting Komentar