Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Puisi:Cinta yang Kutabur, Hanya Menjadi Luka di Pelukanmu
pngtree.com

pngtree.com
Aku pernah menanam cinta di matamu,
dengan harapan ia tumbuh menjadi taman bahagia.
Setiap senyumku, setiap pelukanku,
adalah benih yang kutabur dengan sepenuh jiwa.
Namun yang lahir bukan bunga,
melainkan duri yang melukai tanganku sendiri.
Kau genggam hatiku seolah merawatnya,
padahal diam-diam kau sisipkan luka di antara jemari kita.
Aku mencintaimu dengan sepenuh keyakinan,
tapi cintaku hanya menjadi air mata
yang mengalir di pelukanmu,
pelukan yang tak lagi hangat,
pelukan yang hanya menyisakan perih.
Kini aku tahu,
tak semua yang kita tanam akan berbunga.
Ada yang layu,
ada yang berubah jadi luka,
meski ditumbuhkan dengan cinta paling tulus.
Komentar
Posting Komentar