ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah” Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...
ilustrasi Puisi: Gadis Senja Siti Puji Astutik_xni
Di tepi senja yang merona jingga,
kulihat engkau, Siti Puji Astutik,
berdiri dengan tatapan yang dalam,
seolah mencari jejak cinta sejati
yang masih tersembunyi di antara awan.
Langkahmu lembut, tapi hatimu gelisah,
kau menanti seseorang yang belum tentu tiba,
seperti burung yang terus terbang
mengejar cahaya terakhir sebelum malam.
Aku ingin berkata padamu,
bahwa dunia ini memang panas, terlalu terik,
namun untukmu yang terlalu cantik,
setiap keringat menjadi puisi,
setiap luka berubah menjadi rindu.
Siti, gadis senja yang menawan,
biarlah aku yang menemanimu mencari,
agar cinta sejati tak lagi hanya mimpi,
tapi nyata dalam dekap yang abadi.
Komentar
Posting Komentar