.jpeg) |
| Cerita Pendek:Rintik yang Membawa Namamu |
Hujan turun sejak sore.
Pelan, tapi pasti, membasahi setiap jalan, setiap atap, dan setiap kenangan yang belum juga kering dalam hatiku. Aku berdiri di bawah payung biru tua, menatap jalan setapak yang dulu pernah kita lalui berdua—di mana tawa dan janji pernah menggema di antara aroma tanah basah.
Di seberang jalan, kulihat siluet seseorang yang sangat kukenal. Tubuh jangkung itu, langkah tergesa yang tetap elegan di antara rintik.
Kau.
Raka.
Aku terpaku. Dunia seolah menahan napasnya ketika kau menoleh. Tatapanmu menembus kabut tipis, menyentuh hatiku yang sudah lama menutup pintunya.
“Alya?” suaramu nyaris tenggelam oleh gemuruh hujan.
Aku menggenggam payung lebih erat, berusaha menahan gemetar yang bukan karena dingin, tapi karena gugup yang menahun.
Kau menyeberang, tanpa jas hujan, tanpa peduli air yang membasahi seluruh tubuhmu. Hanya untuk mendekat.
“Kau masih di sini,” katamu lirih, ketika jarak kita hanya tinggal sejengkal.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi,” jawabku, nyaris berbisik.
Ada keheningan yang menggantung. Hujan jadi saksi, menetes di antara kita seperti waktu yang tak mau berhenti. Aku menatap wajahmu—ada lelah di sana, tapi juga sesuatu yang lain: penyesalan.
“Aku mencarimu,” ucapmu. “Setiap kali hujan turun, aku berharap kau muncul di antara rintiknya.”
“Dan aku menunggumu di setiap basah yang jatuh,” kataku pelan.
Kau tersenyum getir.
Dua tahun lalu, di tempat ini juga, kita bertengkar hebat. Tentang pilihan hidup, tentang mimpi, tentang cinta yang tidak sanggup menyeberangi kesalahpahaman. Aku memilih pergi karena kau terlalu angkuh untuk menahan, dan kau membiarkanku karena terlalu gengsi untuk memohon.
Kini, semuanya terasa berulang. Tapi berbeda.
Ada sesuatu yang belum tuntas, sesuatu yang menuntut untuk diselesaikan malam ini.
Hujan mulai deras. Aku menunduk, air mengalir di sekitar sepatu. Kau menatapku lama, lalu berkata dengan nada rendah:
“Aku bertunangan, Ly.”
Aku tersenyum kecil. Rasanya seperti ada yang merobek dadaku perlahan.
“Selamat,” kataku, meski suara itu nyaris tak terdengar.
“Tapi aku masih mencintaimu,” sambungmu tiba-tiba.
Aku tertegun.
Kata-kata itu jatuh bersamaan dengan petir yang menyambar di kejauhan, membuat jantungku berdegup kacau.
Aku ingin menolak, ingin berlari, tapi kaki seakan tertambat pada genangan yang menahan langkah.
“Raka… jangan,” kataku dengan suara bergetar. “Kau akan melukai lebih banyak orang.”
“Aku sudah terluka duluan,” kau menatapku dalam. “Selama ini aku hidup, tapi tak pernah benar-benar merasa hidup sejak kau pergi.”
Aku menarik napas panjang, mencium aroma hujan yang menusuk.
Begitu dalam, begitu nostalgik.
“Kau tahu kenapa aku pergi waktu itu?” tanyaku.
“Karena aku bodoh,” jawabmu cepat. “Karena aku terlalu sibuk mengejar ambisi.”
“Bukan,” kataku sambil menatap matamu. “Karena aku tahu, kau akan datang kembali, tapi tidak untukku.”
Kau menatapku lama.
Waktu seolah berhenti di antara suara deras dan hati yang saling bergetar tapi tak berani menyatu lagi.
“Jadi ini akhir kita?” kau bertanya, nyaris tak percaya.
“Kita sudah berakhir sejak hujan dua tahun lalu,” jawabku. “Malam ini hanya tentang bagaimana kita belajar merelakan.”
Kau menunduk. Air hujan menetes dari ujung rambutmu, membaur dengan air mata yang tak sempat kau sembunyikan.
Aku ingin menghapusnya, tapi tanganku berhenti di udara.
Ada batas yang tak boleh lagi kulewati.
Waktu berjalan lambat. Rintik mulai mereda, menyisakan aroma tanah dan kenangan yang terlalu pekat untuk hilang.
Aku melangkah mundur. Kau memandangku seperti seseorang yang baru kehilangan arah.
“Ly…” panggilmu pelan.
“Ya?”
“Kalau saja waktu bisa diulang—aku akan tetap memilih menunggu di bawah hujan, sampai kau mau kembali.”
“Dan kalau waktu bisa diulang,” kataku, “aku akan tetap berjalan menjauh, agar kau belajar menjemput cinta yang benar-benar bisa kau jaga.”
Hening.
Hujan berhenti tepat saat aku menutup payungku. Langit mendung memudar jadi kelabu pucat, seakan ikut menyadari bahwa cerita ini tak lagi butuh sambungan.
Aku berjalan pergi tanpa menoleh.
Setiap langkah terasa berat, tapi di antara sisa hujan yang masih menetes dari dedaunan, aku tahu: cinta sejati kadang bukan tentang memiliki, tapi tentang berani melepaskan sebelum semuanya runtuh dalam penyesalan.
Malam itu, di bawah cahaya lampu jalan yang lembut, aku mendengar suaramu memanggil sekali lagi:
“Alya! Kalau suatu hari hujan turun lagi… apa aku masih boleh mengingatmu?”
“Ingatlah,” jawabku sambil tersenyum tanpa menoleh. “Karena di setiap rintik yang jatuh, namaku akan selalu ikut turun bersamamu.”
Dan setelah itu, hanya ada suara hujan yang kembali turun—membasuh luka, menenangkan hati yang nyaris hancur, dan menyembunyikan air mata yang jatuh bersamaan dengan cinta yang akhirnya harus dibiarkan berlalu.
Komentar
Posting Komentar