Langsung ke konten utama

“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”

Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit”   Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...

Cerita Pendek:Rintik yang Membawa Namamu

 

Cerita Pendek:Rintik yang Membawa Namamu


Hujan turun sejak sore.
Pelan, tapi pasti, membasahi setiap jalan, setiap atap, dan setiap kenangan yang belum juga kering dalam hatiku. Aku berdiri di bawah payung biru tua, menatap jalan setapak yang dulu pernah kita lalui berdua—di mana tawa dan janji pernah menggema di antara aroma tanah basah.

Di seberang jalan, kulihat siluet seseorang yang sangat kukenal. Tubuh jangkung itu, langkah tergesa yang tetap elegan di antara rintik.
Kau.
Raka.

Aku terpaku. Dunia seolah menahan napasnya ketika kau menoleh. Tatapanmu menembus kabut tipis, menyentuh hatiku yang sudah lama menutup pintunya.

“Alya?” suaramu nyaris tenggelam oleh gemuruh hujan.

Aku menggenggam payung lebih erat, berusaha menahan gemetar yang bukan karena dingin, tapi karena gugup yang menahun.
Kau menyeberang, tanpa jas hujan, tanpa peduli air yang membasahi seluruh tubuhmu. Hanya untuk mendekat.

“Kau masih di sini,” katamu lirih, ketika jarak kita hanya tinggal sejengkal.
“Aku tidak pernah benar-benar pergi,” jawabku, nyaris berbisik.

Ada keheningan yang menggantung. Hujan jadi saksi, menetes di antara kita seperti waktu yang tak mau berhenti. Aku menatap wajahmu—ada lelah di sana, tapi juga sesuatu yang lain: penyesalan.


“Aku mencarimu,” ucapmu. “Setiap kali hujan turun, aku berharap kau muncul di antara rintiknya.”

“Dan aku menunggumu di setiap basah yang jatuh,” kataku pelan.


Kau tersenyum getir.
Dua tahun lalu, di tempat ini juga, kita bertengkar hebat. Tentang pilihan hidup, tentang mimpi, tentang cinta yang tidak sanggup menyeberangi kesalahpahaman. Aku memilih pergi karena kau terlalu angkuh untuk menahan, dan kau membiarkanku karena terlalu gengsi untuk memohon.

Kini, semuanya terasa berulang. Tapi berbeda.
Ada sesuatu yang belum tuntas, sesuatu yang menuntut untuk diselesaikan malam ini.


Hujan mulai deras. Aku menunduk, air mengalir di sekitar sepatu. Kau menatapku lama, lalu berkata dengan nada rendah:


“Aku bertunangan, Ly.”


Aku tersenyum kecil. Rasanya seperti ada yang merobek dadaku perlahan.


“Selamat,” kataku, meski suara itu nyaris tak terdengar.

“Tapi aku masih mencintaimu,” sambungmu tiba-tiba.

Aku tertegun.
Kata-kata itu jatuh bersamaan dengan petir yang menyambar di kejauhan, membuat jantungku berdegup kacau.
Aku ingin menolak, ingin berlari, tapi kaki seakan tertambat pada genangan yang menahan langkah.

“Raka… jangan,” kataku dengan suara bergetar. “Kau akan melukai lebih banyak orang.”
“Aku sudah terluka duluan,” kau menatapku dalam. “Selama ini aku hidup, tapi tak pernah benar-benar merasa hidup sejak kau pergi.”

Aku menarik napas panjang, mencium aroma hujan yang menusuk.
Begitu dalam, begitu nostalgik.

“Kau tahu kenapa aku pergi waktu itu?” tanyaku.
“Karena aku bodoh,” jawabmu cepat. “Karena aku terlalu sibuk mengejar ambisi.”
“Bukan,” kataku sambil menatap matamu. “Karena aku tahu, kau akan datang kembali, tapi tidak untukku.”

Kau menatapku lama.
Waktu seolah berhenti di antara suara deras dan hati yang saling bergetar tapi tak berani menyatu lagi.

“Jadi ini akhir kita?” kau bertanya, nyaris tak percaya.
“Kita sudah berakhir sejak hujan dua tahun lalu,” jawabku. “Malam ini hanya tentang bagaimana kita belajar merelakan.”

Kau menunduk. Air hujan menetes dari ujung rambutmu, membaur dengan air mata yang tak sempat kau sembunyikan.
Aku ingin menghapusnya, tapi tanganku berhenti di udara.
Ada batas yang tak boleh lagi kulewati.


Waktu berjalan lambat. Rintik mulai mereda, menyisakan aroma tanah dan kenangan yang terlalu pekat untuk hilang.
Aku melangkah mundur. Kau memandangku seperti seseorang yang baru kehilangan arah.


“Ly…” panggilmu pelan.
“Ya?”
“Kalau saja waktu bisa diulang—aku akan tetap memilih menunggu di bawah hujan, sampai kau mau kembali.”
“Dan kalau waktu bisa diulang,” kataku, “aku akan tetap berjalan menjauh, agar kau belajar menjemput cinta yang benar-benar bisa kau jaga.”

Hening.
Hujan berhenti tepat saat aku menutup payungku. Langit mendung memudar jadi kelabu pucat, seakan ikut menyadari bahwa cerita ini tak lagi butuh sambungan.

Aku berjalan pergi tanpa menoleh.
Setiap langkah terasa berat, tapi di antara sisa hujan yang masih menetes dari dedaunan, aku tahu: cinta sejati kadang bukan tentang memiliki, tapi tentang berani melepaskan sebelum semuanya runtuh dalam penyesalan.


Malam itu, di bawah cahaya lampu jalan yang lembut, aku mendengar suaramu memanggil sekali lagi:

“Alya! Kalau suatu hari hujan turun lagi… apa aku masih boleh mengingatmu?”

“Ingatlah,” jawabku sambil tersenyum tanpa menoleh. “Karena di setiap rintik yang jatuh, namaku akan selalu ikut turun bersamamu.”

Dan setelah itu, hanya ada suara hujan yang kembali turun—membasuh luka, menenangkan hati yang nyaris hancur, dan menyembunyikan air mata yang jatuh bersamaan dengan cinta yang akhirnya harus dibiarkan berlalu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...