Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Judul: Darah di Antara Kita

Gambar
Aku menulis kisah ini dengan tangan yang masih gemetar, sebab setiap kata adalah bekas luka. Kau mungkin tak pernah membaca sampai akhir, tapi aku tetap menuliskannya—sebagai pengakuan, sebagai doa yang terlambat. Aku mencintaimu sejak hujan pertama jatuh di kota ini. Kau datang dengan tawa yang sederhana, seperti pagi yang tak menuntut apa pun. Aku menyebutmu kau bukan karena jarak, melainkan karena kedekatan yang tak butuh nama. Kita berbagi bangku tua di kafe sudut jalan, berbagi cerita tentang masa kecil yang retak, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin diselamatkan. “Jika suatu hari aku pergi,” katamu, “apakah kau akan menunggu?” Aku menjawab dengan senyum yang pura-pura tenang. “Aku tak pandai menunggu, tapi aku pandai setia.” Di antara kita, kata-kata tumbuh seperti bunga liar. Aku menuliskan puisi untukmu di serbet kertas, kau menyimpannya di saku jaket, seolah itu jimat agar dunia tak merenggut kita. Aku mencintaimu tanpa peta, tanpa jalan pulang. Jika aku tersesat, biarlah namamu...

untukmu_Gadis Berkerudung Hitam

Gambar
untukmu_Gadis Berkerudung Hitam  ilustrasi foto chatgpt.com   Di tepian kayu gunung itu aku melihatmu duduk dalam diam yang anggun, kerudung hitam memeluk kepalamu seperti malam yang setia menjaga bintang. Angin menyisir ujung kainmu pelan, seakan takut mengganggu ketenangan yang kau simpan di dada. Wajahmu manis, bukan karena senyum semata, melainkan karena caramu menunduk seolah dunia terlalu gaduh untuk ditatap terlalu lama. Matamu memandang jauh ke lembah, namun aku tahu, ada rindu yang lebih dalam dari jurang mana pun. Kayu tempatmu duduk berderit pelan, menjadi saksi bisu bahwa kesendirian kadang begitu indah jika ditemani doa dan harapan. Gunung berdiri kokoh di belakangmu, namun kau tak kalah kuat— dengan lembutmu, kau mengajarkan arti keteguhan. Aku ingin duduk di sampingmu, tanpa kata, tanpa janji berlebihan. Biarlah hening menjadi bahasa kita, biarlah alam menerjemahkan perasaan yang tak berani kuucapkan. Sebab mencintaimu tak harus selalu gaduh oleh pengakuan, cuku...

CERITA PENDEK – Untukmu yang Tak Sempat Kulumukuk

Gambar
 CERITA PENDEK – Untukmu yang Tak Sempat Kulumukuk ilustras i foto p ixa bay.com   Malam itu, kota terasa seperti menahan napasnya sendiri. Jalanan yang biasanya riuh mendadak lengang, dan angin membawa aroma tanah basah yang membuatku ingin kembali pada kenangan—kenangan tentang aku, kau, dan dia. Namaku Raka , dan kau… kau adalah satu-satunya nama yang selalu menggema di batinku sejak hari pertama kita bertemu. Tapi takdir, seperti biasa, selalu memiliki cara mengiris paling halus pada sesuatu yang paling kita cintai. Aku masih ingat pertama kali bertemu denganmu di bawah lampu jalan yang temaram. Kau berdiri sambil menatap layar ponsel, seolah dunia sedang mengejarmu. Saat aku mendekat, kau menoleh dan tersenyum—senyum tipis yang membuat jantungku berdetak seperti hujan pertama yang menghantam jendela. “ Kau terlihat bingung… ada yang kaucari? ” tanyaku waktu itu. Kau tertawa kecil sambil menahan rambutmu yang hampir diterbangkan angin. “ Aku kehilangan arah, mungkin j...

Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA

Gambar
Cerita Pendek:HUJAN MERAH DI ANTARA KITA Ilustrasi Gambar Trotoar.id “Jika cinta adalah pisau, maka aku telah memegangnya dari sisi yang salah.” Hujan turun malam itu, deras dan tak berbelas. Aku berdiri di balik jendela, menatap bayanganmu yang memudar di kaca. Sejak kau datang membawa namanya dalam setiap senyum, aku tahu hatiku tak lagi menjadi tempatmu pulang. Namamu: Kau . Nama cinta yang kusimpan rapat-rapat. Namun kau datang bersama seseorang— Reno , sahabatku sejak kecil. Dan entah bagaimana, cinta yang seharusnya sederhana berubah menjadi simpul berduri. “Aku…” suaramu bergetar saat itu, “Aku harus jujur. Aku menyukai kalian berdua.” Kau menunduk. Reno menatapmu lama, lalu menatapku. “Aku sudah menduga,” katanya dingin. “Kau memang suka memainkan hati.” Aku ingin membelamu, ingin berkata bahwa kau hanya bingung. Tapi kata-kata itu tertahan. Ada sesuatu di matamu—ketakutan, penyesalan, sekaligus kerinduan—yang tidak lagi bisa kuartikan. Aku hanya mampu berbisik pelan, “J...