“Puisi Terakhir Sebelum Darah” Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam. Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati. “Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku. Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.” Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati. Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam. Namanya Arman . Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuk...
“Puisi Terakhir Sebelum Darah” Aku mencintaimu pertama kali dari caramu diam. Di kota ini, semua orang berlomba-lomba bicara: tentang masa depan, tentang luka, tentang bagaimana mereka ingin dikenang. Tapi kau memilih diam, seolah kata-kata terlalu rapuh untuk menampung perasaanmu. Kita bertemu di perpustakaan tua dekat sungai, tempat buku-buku berdebu menyimpan rahasia orang-orang mati. “Kau percaya cinta bisa memilih?” tanyamu waktu itu, tanpa menatapku. Aku tertawa kecil. “Cinta selalu memilih. Manusianya yang ragu.” Kau tersenyum. Dan senyum itu seperti janji yang tak pernah kau ucapkan, tapi kupeluk sepenuh hati. Aku tak tahu bahwa dalam senyummu, sudah ada nama lain yang bersemayam. Namanya Arman . Ia datang dalam hidupmu seperti api kecil—hangat, bercahaya, dan perlahan membakar. Arman adalah kebalikanku: lantang, percaya diri, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Ia sahabat lamaku, saudara tanpa darah. Aku memperkenalkanmu padanya dengan bangga, tak menyadari aku sedang membuk...