Sabtu, 04 April 2026

Bayangan yang Tak Ikut Pergi

 

Bayangan yang Tak Ikut Pergi
https://www.instagram.com/p/B6-cpS9gVC3/


Aku mencintaimu dengan cara yang paling sunyi: menundukkan kepala dalam doa, menyebut namamu tanpa suara, dan menahan rindu agar tak berubah menjadi dosa. Namun cinta yang kuanggap suci itu tak pernah benar-benar sendiri. Ia selalu dibayangi wajah yang tak lagi ingin kuingat—mantanku, masa lalu yang belum mau mati.

Kamu datang dalam hidupku saat aku sedang belajar menyembuhkan diri. Kau bukan cinta yang berisik. Kau hadir seperti cahaya subuh—pelan, jujur, dan tidak memaksa. Kau tidak menanyakan masa laluku secara rinci, seolah kau tahu ada luka yang belum siap dibuka.

Namun justru karena itulah ketegangan itu tumbuh. Semakin kau diam, semakin masa laluku berteriak.

Malam itu hujan turun tanpa jeda. Aku dan kamu duduk berhadapan di ruang tamu yang sempit, hanya ditemani lampu kuning dan suara air yang menghantam atap.

“Aku ingin jujur,” katamu akhirnya.

Aku meneguk ludah. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Aku tahu kamu mencintaiku dengan cara yang berbeda,” lanjutmu. “Seperti ada yang kamu jaga mati-matian.”

Aku tersenyum kecil. “Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan.”

Kamu menatapku lama. Lalu kau berkata pelan, hampir seperti membaca puisi:


“Aku tak ingin jadi luka yang baru,

tapi aku juga lelah menjadi jeda.

Jika hatimu masih rumah bagi yang lama,

di mana aku harus meletakkan namaku?”


Kata-katamu menikam. Karena kau benar.

Mantan kekasihku—dia—adalah cinta pertama yang gagal total. Kami berpisah bukan karena tak saling cinta, tapi karena cinta kami tumbuh liar, melampaui batas, melupakan Tuhan, melupakan diri sendiri. Ketika semua runtuh, yang tersisa hanya rasa bersalah dan bayangan.

Dan bayangan itu masih sering datang.

Kadang saat aku tertidur, aku terbangun dengan namanya masih menggantung di ujung lidah. Kadang saat aku sholat, wajahnya muncul sebagai gangguan yang tak kuundang. Aku membencinya, tapi juga takut jika suatu hari aku berhenti mengingat—karena itu berarti luka itu benar-benar membekas.

“Kamu masih memikirkannya?” tanyamu malam itu.

Aku terdiam lama. Kejujuran terasa seperti pisau bermata dua.

“Tidak dengan cara mencintai,” jawabku akhirnya. “Tapi dengan cara dihantui.”

Kamu mengangguk, seolah telah menduga. Kau berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan yang semakin deras.

“Aku mencintaimu dengan cara yang ingin membawa kita ke arah yang halal,” katamu. “Tapi aku tidak ingin bersaing dengan kenangan.”

Aku bangkit mendekatimu. Tanganku gemetar.

“Aku tidak ingin kembali ke masa lalu,” kataku. “Aku ingin masa depan bersamamu.”

Kamu tersenyum pahit. Lalu kau berbisik, seperti doa yang nyaris patah:


“Jika aku adalah doa,

jangan sebut nama orang lain

saat kau mengaminkannya.”


Malam itu berakhir tanpa pelukan. Tanpa janji. Hanya jarak yang semakin terasa nyata.

Hari-hari setelahnya menjadi medan perang sunyi. Kamu menjauh, bukan dengan kasar, tapi dengan sopan yang menyakitkan. Pesanmu singkat. Sapaanmu dingin. Dan aku tahu, kamu sedang menimbang sesuatu yang besar.

Sementara itu, bayangan mantanku justru semakin sering muncul—seolah tahu aku sedang goyah. Aku membencinya karena muncul saat aku lemah.

Aku berusaha melawan. Aku memperbanyak doa. Aku menulis namamu di halaman terakhir buku harianku, berharap Tuhan membacanya. Aku memohon agar cinta ini disucikan, agar masa lalu dilepaskan sepenuhnya.

Namun ketegangan mencapai puncaknya ketika mantanku benar-benar datang—bukan dalam mimpi, tapi nyata.

Kami bertemu secara tak sengaja di sebuah toko buku. Ia tersenyum seolah waktu tak pernah merenggut apa pun.

“Kamu terlihat tenang,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Aku dengar kamu akan menikah,” lanjutnya.

Dadaku sesak. Aku tidak tahu dari mana ia tahu.

“Aku bahagia untukmu,” katanya, tapi matanya berkata sebaliknya. “Aku hanya ingin bilang… aku masih sering mengingatmu.”

Aku menatapnya dingin. “Tolong jangan.”

Ia tertawa kecil. “Kamu berubah.”

“Karena aku ingin selamat,” jawabku.

Malam itu aku menangis. Bukan karena rindu, tapi karena marah. Masa lalu itu seperti hantu yang tak mau diusir.

Aku menemui kamu keesokan harinya. Aku tidak ingin menunda lagi.

“Aku ingin kamu tahu segalanya,” kataku. “Aku bertemu dia.”

Wajahmu menegang.

“Tapi aku memilih datang ke sini,” lanjutku cepat. “Karena aku ingin memutus semua bayangan itu.”

Kamu terdiam lama. Lalu kau berkata lirih:

 

“Cinta suci bukan tentang tak punya masa lalu,

tapi tentang keberanian menutup pintunya.

Pertanyaannya…

apakah kau sudah menguncinya,

atau hanya menutupnya pelan-pelan?”


Air mataku jatuh. Aku berlutut di hadapanmu, bukan sebagai drama, tapi sebagai kejujuran.

“Aku ingin menguncinya,” kataku. “Tapi aku butuh waktu.”

Kamu menghela napas panjang. Ketegangan di udara seperti tali yang siap putus.

“Aku tidak takut terluka,” katamu akhirnya. “Aku hanya takut menjadi pelarian.”

Aku menggeleng keras. “Kamu bukan pelarian. Kamu tujuan.”

Hari itu tidak langsung berakhir bahagia. Kamu tidak serta-merta memelukku. Tapi kamu juga tidak pergi.

“Kita berjalan pelan,” katamu. “Jika suatu hari bayangan itu datang lagi, jangan sembunyikan dariku.”

Aku mengangguk. “Aku ingin mencintaimu tanpa bayang-bayang.”

Kamu tersenyum, kali ini lebih hangat.


“Jika suatu hari kau ragu,

pegang tanganku,

bukan kenanganmu.

Karena aku di sini,

bukan untuk menghapus masa lalu,

tapi menemanimu menatap masa depan.”

Aku tahu, cinta suci bukan berarti tanpa ujian. Justru ia diuji oleh bayangan yang ingin menyeret kita kembali. Dan mungkin, kesucian itu terletak pada pilihan—untuk tetap melangkah ke depan, meski masa lalu terus memanggil.

Dan hari itu, aku memilihmu. Bukan karena aku telah sembuh sepenuhnya, tapi karena aku ingin sembuh bersamamu.

Minggu, 29 Maret 2026

Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang

 

Aku Menyebut Namamu dalam Diam yang Paling Panjang
https://www.rumah123.com/panduan-properti/jenis-bunga-mawar/


bukan dengan suara,
melainkan dengan detak
yang kupeluk diam-diam di dada.
Karena tak semua rindu
pantas diperdengarkan,
ada yang harus tinggal
sebagai rahasia paling setia.

Setiap malam,
aku belajar menyebutmu
tanpa memanggil,
mencintaimu tanpa memiliki,
dan menunggu tanpa berharap pulang.
Diam menjadi rumah
bagi perasaan yang tak tahu
harus ke mana lagi bersembunyi.

Aku pernah percaya,
bahwa cinta tak selalu meminta jawaban.
Ia cukup hidup
dalam doa-doa yang kusebut pelan,
agar Tuhan saja yang mendengarnya.
Sebab jika aku mengucap namamu keras-keras,
takut hatiku sendiri yang runtuh.

Di sela napas yang tertahan,
aku merapalkan namamu
seperti ayat yang tak selesai.
Ada getar yang tak berani jatuh,
ada luka yang memilih bertahan
karena takut kehilangan sisa kenangan.

Aku menyebut namamu
saat senja menggigil di ujung langit,
saat hujan turun tanpa alasan,
dan saat dunia terasa terlalu ramai
untuk sebuah perasaan yang sendirian.

Jika suatu hari
kau merasa dadamu hangat tanpa sebab,
mungkin itu rinduku
yang tak sengaja menemukanmu.
Bukan untuk dimiliki,
hanya untuk memastikan
bahwa aku pernah mencintaimu
dengan sepenuh diam
dan sepanjang waktu yang kupunya.

Karena mencintaimu
tak pernah butuh pengakuan,
cukup kesetiaan
untuk terus menyebut namamu
dalam diam yang paling panjang.

Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain

 

Aku Menunggumu di Hujan, Tapi Kau Datang dengan Nama Perempuan Lain
https://www.shutterstock.com/id/search/couple-in-love-dark-background


Hujan turun tanpa aba-aba, seperti perasaan yang selama ini kutahan diam-diam. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya, dan jalanan di depanku memantulkan cahaya lampu seperti kenangan yang tak mau padam. Aku berdiri di bawah kanopi halte tua, memeluk tas kecil berisi payung yang sengaja tak kubuka. Aku ingin basah. Aku ingin hujan ikut merasakan apa yang sedang kupikul.

Kau berjanji datang sebelum magrib. Kau bilang hanya sebentar, hanya ingin memastikan aku baik-baik saja. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dari sanalah aku kembali berharap—hal paling berbahaya yang bisa dilakukan oleh seseorang yang pernah kau tinggalkan.

Aku menunggumu.

Setiap tetes hujan yang jatuh adalah detik yang berjalan lambat. Aku menghafal pola air yang mengalir di aspal, seolah dengan begitu aku bisa mengalihkan pikiranku dari wajahmu. Tapi sia-sia. Kau selalu datang tanpa izin, bahkan ketika aku tak memanggil.

Aku menunggumu di hujan,
dengan doa yang menggigil,
jika kau tak datang hari ini,
biarlah rinduku yang pulang lebih dulu.

Ponselku bergetar. Namamu muncul. Jantungku berdegup terlalu cepat, seperti ingin melompat keluar.

“Aku sudah di jalan,” tulismu.
Hanya itu. Tanpa emotikon. Tanpa kalimat lanjutan.

Aku membalas, “Aku di halte lama.”

Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Wiper bergerak cepat, memotong hujan. Pintu depan terbuka. Kau turun. Rambutmu sedikit basah, wajahmu tak banyak berubah. Masih wajah yang sama yang dulu kuhafal dalam gelap.

Aku melangkah maju. Kau tersenyum, senyum yang dulu selalu membuatku pulang lebih ringan. Tapi kini, ada jarak yang tak bisa kusebutkan ukurannya.

“Kau lama,” kataku, mencoba terdengar biasa.

“Kota ini selalu kejam saat hujan,” jawabmu.

Kita terdiam. Hujan menjadi suara paling jujur di antara kita.

Aku ingin memelukmu. Ingin bertanya kenapa kau pergi dulu tanpa pamit. Ingin menuntut jawaban. Tapi aku tahu, tak semua pertanyaan diciptakan untuk dijawab.

“Kau baik?” tanyamu akhirnya.

Aku mengangguk. “Aku belajar baik.”

Kau tersenyum tipis. Lalu menoleh ke dalam mobil. Di sanalah aku melihatnya.

Seorang perempuan duduk di kursi penumpang. Rambutnya panjang, wajahnya lembut, dan matanya menatapku dengan ragu—seperti aku adalah cerita lama yang tak sengaja ia temukan.

“Ini… istriku,” katamu pelan, nyaris seperti meminta maaf. “Namanya Alena.”

Dunia berhenti.

Hujan seketika terasa lebih dingin. Kata istri berputar di kepalaku, memukul dinding kenangan satu per satu. Aku tersenyum—senyum paling rapuh yang pernah kuberikan.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulutku.

Alena turun dari mobil. Ia menatapku dengan sopan, mengulurkan tangan. “Aku sering dengar tentangmu.”

Aku menjabat tangannya. Tangannya hangat. Terlalu hangat untuk seseorang yang baru saja merobohkan duniaku.

“Kau menunggumu di hujan?” tanyanya, nada suaranya tulus.

Aku mengangguk.

Hujan adalah saksi yang tak pernah lupa,
ia tahu siapa yang datang,
dan siapa yang pulang membawa nama baru.

Kau terlihat gelisah. “Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku hanya… ingin kau tahu dariku, bukan dari orang lain.”

Aku tertawa kecil. “Dan kau pikir hujan ini adalah waktu yang tepat?”

Kau terdiam.

“Kau tahu,” lanjutku, “aku tak pernah membencimu. Aku hanya belajar hidup tanpa penjelasan.”

Alena memandangmu, lalu kembali padaku. “Maaf jika kehadiranku menyakitimu.”

Aku menggeleng. “Bukan kau yang salah. Aku hanya terlalu lama menunggu.”

Hujan makin deras. Orang-orang mulai berlarian. Tapi aku tetap di sana. Karena jika aku pergi sekarang, aku tahu, aku akan membawa penyesalan yang sama beratnya dengan rasa sakit ini.

“Kau bahagia?” tanyaku padamu.

Kau menatap Alena. “Aku mencoba.”

Jawaban itu menusuk lebih dalam dari kata ya atau tidak.

Aku mencintaimu dengan cara yang salah,
menunggu tanpa kepastian,
berharap pada seseorang
yang diam-diam memilih pulang ke pelukan lain.

Aku menarik napas panjang. “Kalau begitu, pergilah. Jangan biarkan hujan ini mengingatkanku bahwa aku pernah berharap.”

Kau melangkah mendekat. “Aku selalu mengingatmu.”

“Jangan,” potongku cepat. “Biarkan aku tinggal di masa lalu. Di sana aku masih utuh.”

Kau ingin mengatakan sesuatu, tapi Alena memegang tanganmu. Isyarat kecil, tapi cukup jelas: waktumu bukan lagi di sini.

Kau masuk ke mobil. Mesin menyala. Lampu menyilaukan mataku. Mobil itu perlahan menjauh, membawa kau dan nama perempuan lain—nama yang kini akan kau panggil setiap pulang.

Aku berdiri sendiri di bawah hujan.

Payungku tetap tertutup.

Jika cinta adalah perjalanan,
aku tersesat terlalu lama,
menunggu seseorang
yang ternyata sudah tiba di rumah orang lain.

Langit mulai gelap. Azan magrib terdengar samar. Aku melangkah pergi, membiarkan hujan membasuh wajahku. Untuk pertama kalinya, aku tak menoleh ke belakang.

Karena aku tahu, tidak semua yang kita tunggu pantas untuk kembali.

Dan malam itu, di antara hujan dan kenangan, aku belajar satu hal paling menyakitkan:

Bahwa menunggu adalah bentuk cinta paling setia—dan paling kejam.


Sabtu, 28 Maret 2026

Namamu Terucap Saat Darahku Mengering

Ilustrasi foto Namamu Terucap Saat Darahku Mengering 
https://www.liputan6.com/health/read/798847/cara-hadirkan-suasana-romantis-saat-hujan#google_vignette


Aku selalu percaya cinta adalah doa yang diam-diam didengar Tuhan. Namun malam itu, cinta menjelma menjadi pengakuan paling kejam—dibacakan bukan oleh bibir, melainkan oleh darah.

Kau datang ke hidupku seperti senja yang tak pernah kuundang, tapi selalu kutunggu. Matamu menatapku dengan cara yang membuatku lupa cara pulang. Aku mencintaimu tanpa rencana, tanpa syarat, tanpa janji. Dan mungkin, itulah awal dari kehancuran kami.

“Aku mencintaimu,” katamu suatu sore, di bangku kayu taman kota yang catnya mengelupas.

Aku diam. Bukan karena tak merasa apa-apa, tapi karena perasaan itu terlalu besar untuk dikeluarkan sembarangan.

“Jangan katakan itu,” jawabku akhirnya. “Kau sudah bertunangan.”

Kau tersenyum getir. “Cinta tidak pernah peduli pada status.”

Aku tahu siapa yang kau maksud. Dia—perempuan yang namanya selalu kau sebut dengan nada aman. Perempuan yang dipilih keluargamu. Perempuan yang kelak akan menjadi istrimu, jika tak ada aku di antara kita.

Sejak hari itu, cinta kami hidup di lorong sempit bernama sembunyi-sembunyi. Kami mencuri waktu, mencuri tawa, mencuri kebahagiaan dari masa depan yang bukan milik kami.

Di sela pertemuan, kau sering membacakan puisi—atau mungkin itu jeritan hatimu sendiri.

“Jika mencintaimu adalah dosa,

biarlah aku terbakar di dalamnya.

Sebab neraka tanpa namamu

lebih menyiksa daripada api.”

Aku selalu terdiam setiap kali kau selesai. Aku ingin percaya bahwa cinta ini layak diperjuangkan. Tapi setiap malam, wajah dia menghantui pikiranku—perempuan yang tak bersalah, tapi menjadi korban dari cinta kami yang rakus.

“Aku akan memilihmu,” katamu suatu malam. “Aku hanya butuh waktu.”

Waktu. Kata yang selalu dipakai laki-laki ketika mereka takut kehilangan segalanya.

Hari demi hari berlalu, dan waktu justru membunuhku perlahan. Aku mulai merasa menjadi bayangan dalam hidupmu—hadir tapi tak diakui, dicintai tapi tak diperjuangkan.

Dan kemudian, semuanya pecah.

Ia datang menemuiku.

Perempuan itu berdiri di depan pintu kontrakanku, mengenakan gaun sederhana, matanya merah, tangannya gemetar. Aku tahu siapa dia sebelum ia menyebutkan namanya.

“Aku hanya ingin kebenaran,” katanya pelan. “Kau mencintai tunanganku, bukan?”

Aku ingin berbohong. Aku ingin menyangkal. Tapi cinta yang kupeluk terlalu besar untuk disembunyikan.

“Iya,” jawabku. “Aku mencintainya.”

Ia tersenyum—senyum paling menyakitkan yang pernah kulihat.

“Terima kasih sudah jujur,” katanya. “Sekarang aku tahu mengapa ia selalu tampak jauh.”

Sejak hari itu, hidupku berubah menjadi mimpi buruk yang terus terjaga. Kau mulai menjauh, teleponmu jarang aktif, pesan-pesanku tak lagi dibalas dengan kata rindu.

Aku menunggumu di kafe tempat biasa kita bertemu. Hujan turun deras, seperti langit sedang membersihkan dosanya sendiri.

Kau datang terlambat. Wajahmu pucat. Matamu kosong.

“Aku tak bisa,” katamu tanpa menatapku. “Aku tak bisa meninggalkannya.”

Kata-katamu menghantamku lebih keras daripada hujan.

“Lalu aku apa?” tanyaku dengan suara bergetar.

Kau terdiam. Dan dalam diam itu, aku tahu—aku bukan siapa-siapa.

Aku tertawa. Tawa orang yang hatinya telah hancur sepenuhnya.


“Jika aku hanya jeda dalam hidupmu,

mengapa kau menuliskanku dengan tinta luka?

Jika aku hanya persinggahan,

mengapa perpisahan ini terasa seperti kematian?”

Aku pergi malam itu dengan hati yang terkoyak. Tapi tak kusangka, tragedi belum selesai memilih korbannya.

Tiga hari kemudian, kau mengajakku bertemu. Katamu, ini pertemuan terakhir. Di rumahmu. Saat malam hampir menelan kota.

Aku datang dengan perasaan campur aduk—harap dan takut saling berpelukan di dadaku.

Pintu terbuka.

Dan di sana, dia berdiri.

“Aku ingin kita bicara bertiga,” katanya. Suaranya tenang, terlalu tenang.

Kami duduk di ruang tamu yang dingin. Lampu redup. Jam dinding berdetak seperti hitungan mundur.

“Aku mencintainya,” kataku akhirnya. “Dan aku yakin, dia juga mencintaiku.”

Kau bangkit. “Cukup,” katamu keras. “Ini salahku. Jangan saling menyakiti.”

Tapi luka tak pernah bisa dihentikan dengan kata cukup.

“Aku hamil,” kata perempuan itu tiba-tiba.

Dunia berhenti.

Kau menatapnya dengan wajah runtuh. Aku menutup mulutku, menahan jerit yang hampir pecah.

“Apa?” suaramu gemetar.

“Aku hamil anakmu,” ulangnya. “Dan kau masih berani mencintai perempuan lain?”

Tangisnya berubah menjadi tawa yang menakutkan.

“Tidak ada yang akan memiliki kau,” katanya pelan.

Aku berdiri. “Aku pergi.”

Namun semuanya terjadi terlalu cepat.

Pisau itu entah dari mana munculnya. Cahaya lampu memantul di bilahnya. Aku hanya ingat teriakan, langkah kaki, dan rasa panas yang menyebar di dadaku.

Kau menusukku.

Sekali. Dua kali.

Aku jatuh.

Darah mengalir, membasahi lantai yang dingin. Pandanganku kabur. Tapi aku masih bisa melihat wajahmu—pucat, gemetar, hancur.

“Aku tak ingin kehilangan siapa pun,” tangismu pecah. “Aku tak ingin…”

Aku tersenyum, meski nyeri merobek seluruh tubuhku.


“Tenanglah,

aku akan pergi dengan caraku sendiri.

Cinta kita terlalu indah

untuk hidup di dunia yang kejam.”

Sirene terdengar dari kejauhan. Perempuan itu berteriak. Kau terduduk di lantai, memeluk kepalamu sendiri.

Aku menatap langit-langit rumah itu—tempat cintaku berakhir.

Dalam detik terakhir, aku menyebut namamu. Bukan sebagai kutukan, tapi sebagai doa terakhir.

Karena meski aku mati oleh tanganmu, aku hidup oleh cintamu.

Dan mungkin, itulah tragedi paling sempurna.


Selasa, 24 Maret 2026

Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar

 

Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam Lailatul Qadar
https://sediksi.com/gaya-foto-di-pantai-bersama-pasangan-hijab/


Aku menulis kisah ini bukan untuk mengabarkan kemenangan, melainkan untuk mengakui kekalahan yang paling sunyi: kalah oleh perasaan sendiri. Malam itu, malam yang konon lebih baik dari seribu bulan, aku berdiri di antara dua nama—dan tak satu pun mampu kusebut tanpa gemetar.

Masjid tua di ujung kampung menjadi saksi. Dindingnya kusam, karpetnya menyimpan aroma debu dan doa-doa lama. Lampu-lampu temaram menggantung seperti bintang yang kelelahan, berpendar kuning, mengantarkan langkah-langkah kami ke dalam keheningan. Di luar, angin berembus perlahan, membawa sisa-sisa hujan sore, seolah semesta ikut menahan napas menunggu keputusan.

Aku datang lebih awal. Sejak sore, hatiku tak tenang. Ada desakan aneh yang memintaku untuk mengosongkan diri, tapi justru kepalaku dipenuhi satu nama—namamu. Aku menyebutnya berulang-ulang dalam batin, bukan sebagai mantra, melainkan sebagai pengakuan yang tak pernah rampung. Aku takut malam ini Tuhan mendengarnya.

Di saf perempuan, aku duduk bersila, menunduk. Mukena putih menutup kepalaku, tapi tak sanggup menutup kegelisahan. Dari balik tirai tipis, aku tahu kamu ada di sana. Aku tak melihatmu, namun aku merasakan kehadiranmu seperti cahaya yang tak menyilaukan—hangat, menetap, dan membuatku lupa pada arah kiblat sesaat.

Lalu ada dia.

Ia datang setelah azan isya. Langkahnya tenang, wajahnya bersih dari prasangka. Dia adalah yang selalu mengajarkanku untuk menyederhanakan rindu menjadi doa. Yang mengatakan bahwa cinta sejati tak harus gaduh, cukup setia dalam diam. Dia—yang namanya sering kusebut di hadapan manusia, tapi jarang kusebut di hadapan Tuhan.

Aku terjebak di antara dua jalan yang tampak sama-sama lurus. Yang satu menuntunku pada ketenteraman, yang lain membakar dadaku dengan api yang tak pernah padam. Malam Lailatul Qadar itu, aku berharap Tuhan memberiku tanda. Tapi Tuhan, rupanya, lebih suka memberiku keberanian.

Tarawih dimulai. Imam melantunkan ayat-ayat dengan suara yang merambat pelan, seperti air yang mencari celah. Setiap sujud, aku menahan napas. Setiap bangkit, aku menelan air mata. Aku ingin meminta sesuatu yang jelas—tapi kata-kata doaku tercerai-berai, tersangkut di langit-langit masjid.

“Aku tak meminta dipilihkan,” bisikku dalam sujud panjang. “Aku hanya ingin dikuatkan.”

Namun, ketika dahi menyentuh sajadah, nama yang meluncur dari bibirku bukanlah nama yang seharusnya. Itu namamu. Lagi. Dan lagi. Seperti pengkhianatan kecil yang terus kuulang.

Di sela rakaat, aku mencuri pandang. Dari balik tirai, bayanganmu tampak samar. Kamu berdiri tegak, khusyuk, seolah tak membawa apa pun selain iman. Aku iri pada ketenanganmu. Aku ingin menjadi seperti itu—utuh, tak terbelah.

Qiyamul lail dimulai. Masjid kian lengang, tapi jantungku kian ramai. Di sepertiga malam terakhir, doa-doa mengalir seperti sungai yang tak sabar mencapai muara. Orang-orang menangis, tersedu, memohon ampun dan harapan. Aku ikut menangis, tapi alasanku berbeda. Aku menangisi diriku sendiri.

Aku teringat pertemuan pertama denganmu. Bagaimana caramu tersenyum tanpa maksud, bagaimana suaramu menenangkan tanpa janji. Aku teringat percakapan-percakapan yang tak pernah selesai, pesan-pesan yang kubaca berulang-ulang, dan jeda-jeda yang membuatku berharap. Kamu tak pernah meminta apa-apa, tapi kehadiranmu menuntut segalanya.

Sementara dia—ia selalu ada ketika aku jatuh. Ia tak pandai merangkai kata, tapi tangannya kokoh ketika menggenggam. Ia menungguku dengan kesabaran yang tak pernah kutanyakan asalnya. Di hadapannya, aku merasa aman. Tapi entah mengapa, rasa aman itu tak selalu berarti damai.

Di tengah doa panjang, aku merasakan getar di bahuku. Seorang ibu tua di sampingku terisak, memegang tasbihnya erat-erat. Aku membantunya bangkit, lalu kami saling tersenyum kecil. Senyum itu sederhana, tapi menyentuh. Seperti pengingat bahwa hidup tak selalu tentang memilih yang paling membakar, tapi yang paling menguatkan.

Ketika doa hampir usai, imam memohon agar kami dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar. Aku menutup mata. Dalam gelap, aku melihat dua wajah. Keduanya menatapku, menunggu. Aku gemetar. Aku takut salah memilih, takut melukai, takut kehilangan.

“Aku lelah,” kataku dalam hati. “Tuhan, aku lelah mencintai dengan separuh.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menyebut nama-Nya lebih keras daripada namamu. Aku menyebut-Nya dengan suara yang bergetar, dengan dada yang sesak, dengan hati yang nyaris runtuh. Aku menyerahkan semua. Aku lepaskan kendali yang selama ini kugenggam terlalu erat.

Usai doa, orang-orang saling bersalaman. Masjid dipenuhi senyum yang basah oleh air mata. Aku berdiri, merapikan mukena, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian. Di luar, angin berembus lebih dingin. Langit tampak lebih dekat, seolah mendengar semua rahasia yang baru saja ditumpahkan.

Aku melihatmu di serambi. Kamu berdiri sendiri, menatap langit. Ketika mata kita bertemu, aku tahu—kamu tahu. Tak ada kata yang perlu diucapkan. Ada jarak yang tak bisa lagi kututup dengan alasan. Aku melangkah mendekat, lalu berhenti.

“Terima kasih,” kataku pelan. “Untuk semua yang tak pernah kau minta.”

Kamu tersenyum, senyum yang selalu membuatku ingin tinggal. Tapi kali ini, senyum itu terasa seperti perpisahan yang dewasa. Kamu mengangguk, lalu berpaling. Aku tak memanggilmu. Aku membiarkan langkahmu menjauh, membawa sebagian diriku yang harus kulepaskan.

Aku berbalik dan menemukan dia menungguku. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh tanya. Aku mendekat, dan untuk pertama kalinya, aku tak ragu menggenggam tangannya. Genggaman itu sederhana, tak membakar, tapi hangat. Seperti rumah yang akhirnya kutemukan.

“Kita pulang,” katanya.

Aku mengangguk. Dalam perjalanan, aku menoleh sekali ke masjid yang kian sunyi. Aku berterima kasih pada malam yang mengajarkanku kejujuran. Lailatul Qadar tak memberiku jawaban instan, tapi memberiku keberanian untuk berhenti berdusta pada diri sendiri.

Di kamar, sebelum tidur, aku berdoa lagi. Aku menyebut namamu sekali—sebagai kenangan yang kusimpan rapi. Lalu aku menyebut nama-Nya berkali-kali—sebagai janji untuk hidup dengan utuh.

Dan di antara gelap dan terang, aku akhirnya mengerti: cinta yang benar tak selalu membuat kita berdebar, tapi membuat kita berani memilih kebaikan, meski harus melepaskan yang paling kita sebut dalam diam.

Kamis, 19 Maret 2026

Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

 

Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Ilustrasi foto Aku Menyebut Namamu di Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan


Malam itu masjid terasa berbeda. Udara lebih berat, seolah setiap napas membawa beban doa yang tak terucap. Lampu-lampu menggantung pucat, memantulkan cahaya ke wajah-wajah yang menunduk, larut dalam keheningan yang suci. Aku duduk di saf kedua dari belakang, sajadahku terlipat rapi, tanganku gemetar memegang tasbih. Di luar, angin Ramadan berdesir pelan. Di dalam, hatiku gaduh oleh satu nama.

Namamu.

Aku menyebut namamu setiap saat—dalam diam, dalam sujud, bahkan dalam jeda antara takbir dan salam. Aku tahu ini malam Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana langit turun mendekap bumi. Tapi aku juga tahu, di malam yang seharusnya suci ini, hatiku tercabik oleh cinta yang tak selesai.

Kamu duduk di saf depan. Aku bisa mengenalimu hanya dari siluet punggungmu. Bahumu sedikit miring ke kanan, caramu duduk selalu sama sejak dulu. Sejak kita sama-sama belajar mengeja doa di teras rumah ustaz, sejak aku mengenalmu bukan sebagai “dia”, tapi sebagai “rumah”.

Namun malam ini, ada orang lain di antara kita.

Namanya kusebut dalam pikiranku dengan enggan: dia.

Dia duduk di sampingmu. Mukanya teduh, sorot matanya tenang, seperti seseorang yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Ia menunduk khusyuk, seakan tak ada dunia selain Tuhan. Dan mungkin itulah sebabnya kamu memilihnya—karena ia mampu memberi ketenangan yang tak pernah bisa kuberikan.

Imam mulai mengalunkan ayat-ayat panjang. Suaranya bergetar, memecah keheningan, menusuk tepat ke dada. Aku berdiri, mengikuti gerakan shalat, tapi pikiranku tertinggal. Setiap ayat terasa seperti pertanyaan yang dilemparkan Tuhan langsung ke arahku: siapa yang sebenarnya kamu cintai—Aku, atau bayangan yang kamu peluk dalam doa?

Aku menunduk lebih dalam saat rukuk. Air mataku jatuh ke sajadah. Aku malu pada Tuhan, tapi aku lebih takut kehilanganmu.

Aku dan kamu tak pernah benar-benar bersama, tapi juga tak pernah benar-benar berpisah. Kita terjebak di antara kemungkinan dan penundaan. Kau pernah berkata padaku, “Aku menunggumu siap.” Dan aku—bodohnya—mengira waktu akan selalu berpihak.

Sampai dia datang.

Dia datang dengan keyakinan. Dengan doa-doa yang rapi. Dengan masa depan yang bisa kau sebutkan tanpa ragu. Sedangkan aku? Aku hanya datang membawa cinta yang besar, tapi tak tahu harus diletakkan di mana.

Di antara rakaat panjang itu, ingatanku berkelana. Aku teringat malam-malam kita dulu—sahur sederhana, gelas teh hangat, dan obrolan pelan tentang mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk kita. Kamu pernah bersandar di bahuku dan berkata, “Kalau suatu hari aku harus memilih, aku ingin memilih yang membuatku lebih dekat pada Tuhan.”

Kalimat itu kini menghantuiku.

Sujudku terasa lama. Keningku menekan sajadah, dan di situlah aku kalah. Aku tak lagi memohon apa pun selain satu hal: jika aku harus kehilanganmu, biarlah kehilanganku menjadi ibadah.

“Aku menyebut namamu setiap saat,” bisikku, entah pada siapa. Pada Tuhan, atau pada bayanganmu yang tak mau pergi dari pikiranku.

Saat imam mengangkat tangan untuk doa qunut, masjid seolah menahan napas. Tangis pecah di mana-mana. Aku mengangkat tangan, jemariku gemetar. Doaku kacau. Kata-katanya saling bertabrakan.

“Ya Allah… jika dia bukan untukku, maka jauhkan rinduku. Jika cintaku menghalangiku dari-Mu, maka hancurkan ia dengan cara-Mu. Tapi jika Engkau izinkan… jika Engkau izinkan aku menyebut namanya tanpa rasa bersalah… maka kuatkan aku.”

Aku melirik ke depan. Kamu masih di sana. Diam. Khusyuk. Dan dia—dia masih di sisimu.

Usai shalat, jamaah tak langsung beranjak. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berzikir, ada yang terisak dalam diam. Aku tetap duduk. Tak berani bangkit. Aku takut, jika aku berdiri, aku akan melihatmu berjalan pergi—bersamanya.

Dan ketakutanku terbukti.

Kamu berdiri lebih dulu. Dia mengikutimu. Kalian berjalan berdampingan menuju pintu masjid. Tak ada sentuhan, tapi jarak di antara kalian lebih dekat daripada jarak antara aku dan takdir.

Hatiku runtuh pelan-pelan.

Aku ingin memanggil namamu. Ingin berkata, “Lihat aku. Aku masih di sini.” Tapi lidahku kelu. Di malam yang paling mustajab ini, aku justru kehilangan keberanian.

Langit di luar masjid cerah. Bintang-bintang bertaburan, seolah ikut mengintip doa-doa manusia. Aku melangkah keluar belakangan. Angin menyapu wajahku, dingin, menyadarkan.

Kamu berhenti di pelataran. Entah mengapa, kamu menoleh.

Pandangan kita bertemu.

Hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat dadaku sesak.

Aku tersenyum—senyum paling ikhlas yang bisa kupaksakan. Kamu membalasnya, tipis. Lalu kamu pergi. Bersamanya.

Aku berdiri sendiri. Di malam Lailatul Qadar. Di antara ribuan doa yang naik ke langit, cintaku tertinggal di bumi.

Namun anehnya, di balik perih itu, ada sesuatu yang lapang. Seperti luka yang akhirnya diakui. Aku menengadah ke langit, menarik napas panjang.

“Aku menyebut namamu setiap saat,” kataku sekali lagi, kali ini tanpa tangis. “Dan malam ini, aku belajar menyebut nama-Mu lebih dulu, ya Allah.”

Aku berjalan pulang dengan langkah pelan. Cintaku tak terjawab, tapi doaku menemukan arah. Dan mungkin—hanya mungkin—itulah makna sebenar-benarnya dari malam yang lebih baik dari seribu bulan: kehilangan yang mendewasakan, dan cinta yang dikembalikan pada Pemiliknya.


Selasa, 17 Maret 2026

BUAVITA DI TEPI KENANGAN

 




Di tepi hujan, kita duduk diam,

asap napas menyatu dengan gerimis.

Gelas dingin Buavita kau genggam,

manisnya mengalir seperti tawa kecil.

Aku menghafal detak waktu,

bangku basah, lampu senja,

dan caramu menatap langit runtuh.

Hujan menulis ulang janji,

membasuh luka yang belum bernama.

Setiap teguk menyimpan musim,

mengingatkanku pada rumah

yang tumbuh di antara bahu kita.

Jika hujan kembali,

biarlah kenangan ini

menjadi payung paling setia.

Di bawah payung patah,

kita belajar percaya,

bahwa sederhana bisa abadi,

bahwa hujan memilih saksi,

dan kenangan tak pernah menua.

namamu kusebut perlahan, menenangkan malam, memeluk rindu, hingga esok tersenyum

dalam hujan yang setia

Aku Membunuhmu Dalam Doa,

  Aku Membunuhmu Dalam Doa, https://www.magnific.com/idn/gambar-ai-premium/sepasang-kekasih-duduk-di-dekat-api-unggun-di-pantai-pada-malam-h...