Cerita Pendek: Namamu di Antara Dua Luka
ilustrasi foto Cerita Pendek: Namamu di Antara Dua Luka Aku selalu percaya cinta datang untuk menyembuhkan. Tapi malam itu, di bawah langit yang seolah retak oleh hujan, aku belajar bahwa cinta juga bisa menjadi pisau paling tajam yang menusuk tanpa ampun. Aku mengenal Nara sejak hujan pertama bulan Januari. Ia datang ke hidupku seperti doa yang dikabulkan diam-diam. Senyumnya sederhana, tapi cukup untuk membuat dunia yang ribut ini menjadi sunyi sesaat. “Kamu percaya takdir?” tanyanya suatu sore, ketika kami duduk di bangku taman kota. Aku tersenyum. “Aku percaya pertemuan. Soal takdir, aku masih ragu.” Ia tertawa kecil. “Berarti aku hanya kebetulan bagimu?” “Tidak,” jawabku cepat. “Kamu alasan.” Sejak saat itu, kami menjadi dua orang yang saling menemukan rumah dalam percakapan. Kami berbagi cerita, luka, dan mimpi-mimpi kecil yang kami lipat rapi agar tidak terlalu berharap. Aku jatuh cinta tanpa sadar. Terlalu dalam, terlalu cepat. Namun cinta jarang datang sendirian. D...