![]() |
| Ilustrasi foto Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan |
Setiap sepertiga malam, ketika dunia menggulung dirinya dalam gelap dan suara-suara berhenti bernapas, aku bangun perlahan. Aku mengambil air wudu dengan tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatiku selalu berdebar saat menyebut namamu dalam sujud.
Kau tak pernah tahu.
Dan aku berharap, kau tak perlu tahu.
—
Aku mengenalmu dari keheningan. Dari caramu menunduk terlalu lama setelah shalat. Dari caramu menolak bicara tentang cinta, seolah kata itu bisa mencederai imanmu sendiri.
“Cinta itu ujian,” katamu suatu malam.
“Ujian yang bagaimana?” tanyaku.
“Yang paling berbahaya adalah cinta yang diucapkan, tapi tak siap dipertanggungjawabkan.”
Aku diam. Karena aku memilih cinta yang tidak diucapkan sama sekali.
Aku menyembunyikan namamu
di antara tasbih dan air mata
sebab cinta yang paling aman
adalah yang hanya Tuhan tahu.
Kau tersenyum tipis, seolah mendengar sesuatu yang tak kuucapkan.
—
Malam-malam menjadi saksi bisu perasaanku. Aku dan kau berjalan di siang hari seperti dua orang biasa—berbincang seperlunya, tertawa secukupnya, menjaga jarak seaman mungkin. Tapi di sepertiga malam, jarak itu runtuh di hadapan Tuhan.
Aku berdoa agar kau selalu dilindungi. Agar kau diberi jalan yang terang. Agar hatimu tak terluka, meski bukan aku yang menjaganya.
Suatu malam, kau berkata lirih, “Aku sering terbangun jam tiga.”
Jantungku berdegup.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku merasa ada yang mendoakanku.”
Aku hampir menangis.
Jika doaku menjelma angin,
biarlah ia mengetuk jendela hatimu
tanpa perlu kau tahu
siapa yang meniupkannya.
—
Namun cinta dalam diam tak selalu aman. Ia menumpuk seperti air di balik bendungan—tenang, tapi menunggu waktu untuk pecah.
Kabar itu datang tiba-tiba.
“Kau akan menikah?”
Aku bertanya sambil tertawa, seolah itu hanya lelucon sore hari.
Kau mengangguk.
“Dia pilihan orang tuaku. Aku belajar mencintainya.”
Aku mengangguk balik, seolah dadaku tidak runtuh.
“Selamat,” kataku.
Padahal di dalam sujudku malam itu, aku menggigil.
Aku tetap mendoakanmu. Lebih keras. Lebih lama. Lebih hancur.
Tuhan,
jika aku bukan takdirnya,
jangan biarkan doaku
menjadi luka baginya.
—
Hari-hari menjelang pernikahanmu terasa semakin menyesakkan. Kau masih menjadi dirimu yang tenang. Masih bertanya kabarku. Masih menatapku dengan mata yang sama—mata yang tak pernah berani berkata apa-apa.
“Aku takut,” katamu suatu malam.
“Takut apa?”
“Takut tidak mampu mencintai dengan benar.”
“Berdoalah,” jawabku.
Kau mengangguk.
“Sepertiga malam,” katamu.
Aku tersenyum. Itu satu-satunya tempat kita pernah benar-benar bersama.
—
Malam sebelum akad, hujan turun deras. Aku terbangun dengan dada sesak, seperti seseorang yang sedang mencabut sesuatu dari dalam diriku tanpa anestesi.
Aku shalat lebih lama dari biasanya. Sujudku basah.
Jika mencintainya adalah ibadah,
maka kehilangan ini
adalah bentuk pasrah
yang paling menyakitkan.
Untuk pertama kalinya, aku tak sanggup menyebut namamu sampai selesai.
—
Kau menikah keesokan harinya.
Aku tidak datang.
Malam itu, aku tetap bangun di sepertiga malam. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak mendoakanmu. Aku mendoakan diriku sendiri—agar kuat, agar ikhlas, agar hatiku tidak membusuk oleh perasaan yang tak pernah hidup di dunia nyata.
Namun takdir memiliki cara yang kejam untuk menutup cerita.
Seminggu setelah pernikahanmu, kau mengalami kecelakaan. Mobilmu tergelincir saat hujan malam. Kau tak pernah sadar kembali.
Aku datang ke rumah sakit ketika semuanya sudah terlambat.
Wajahmu pucat. Nafasmu pelan. Mesin-mesin berbunyi menggantikan doa-doa yang tak sempat kau panjatkan.
Aku menggenggam tanganmu untuk terakhir kalinya.
“Aku mendoakanmu,” bisikku.
Air mataku jatuh di punggung tanganmu.
Aku mencintaimu
tanpa pernah memilikinya,
dan kehilanganku hari ini
bahkan tak punya kenangan
untuk dikenang.
—
Kau pergi pada waktu sepertiga malam.
Kini aku masih bangun setiap sepertiga malam. Tapi doaku berubah.
Bukan lagi tentangmu.
Melainkan tentang belajar hidup dengan cinta yang tak pernah sempat menjadi apa-apa—selain doa.

Komentar
Posting Komentar