Aku menulis kisah ini dengan tangan yang masih gemetar, sebab setiap kata adalah bekas luka. Kau mungkin tak pernah membaca sampai akhir, tapi aku tetap menuliskannya—sebagai pengakuan, sebagai doa yang terlambat.
Aku mencintaimu sejak hujan pertama jatuh di kota ini. Kau datang dengan tawa yang sederhana, seperti pagi yang tak menuntut apa pun. Aku menyebutmu kau bukan karena jarak, melainkan karena kedekatan yang tak butuh nama. Kita berbagi bangku tua di kafe sudut jalan, berbagi cerita tentang masa kecil yang retak, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin diselamatkan.
“Jika suatu hari aku pergi,” katamu, “apakah kau akan menunggu?”
Di antara kita, kata-kata tumbuh seperti bunga liar. Aku menuliskan puisi untukmu di serbet kertas, kau menyimpannya di saku jaket, seolah itu jimat agar dunia tak merenggut kita.
Aku mencintaimu tanpa peta,
tanpa jalan pulang.
Jika aku tersesat,
biarlah namamu menjadi arah.
Namun cinta jarang datang sendirian. Ia sering membawa bayangan. Bayangan itu bernama dia—seseorang yang mengenalmu lebih lama, yang menatapmu dengan cara yang membuat dadaku sesak. Kau bilang dia hanya teman. Aku percaya, sebab aku mencintaimu. Kepercayaan sering kali adalah pisau yang kita asah sendiri.
Suatu malam, kau mengajakku bertemu di tepi sungai. Lampu kota bergetar di permukaan air. Kau terlihat ragu, seperti hendak mengaku dosa.
“Aku bingung,” katamu. “Hatiku terbelah.”
Aku ingin tertawa, ingin marah, ingin memelukmu sekaligus pergi. Tapi aku hanya berdiri, mendengar.
“Aku mencintaimu,” katamu padaku. Lalu jeda. “Dan aku tak bisa melepaskan dia.”
Kata-katamu jatuh satu per satu, menghantam kepalaku. Aku merasakan sesuatu runtuh—bukan bangunan, melainkan keyakinan. Cinta segitiga bukan soal memilih; ia tentang siapa yang lebih dulu berdarah.
Jika cinta adalah pisau,
biarlah aku yang menggenggam gagangnya.
Sebab aku takut,
kau menggenggam mata pisaunya.
Aku mencoba bertahan. Kita bertiga bertemu, seolah dewasa bisa menyelamatkan keadaan. Dia tersenyum ramah, tapi matanya menyimpan api. Aku bisa mencium kecemburuan di napasnya. Kau berdiri di tengah, menjadi poros yang berderit.
“Berhentilah,” pintamu suatu ketika. “Aku lelah.”
Aku ingin mengatakan bahwa aku juga lelah—lelah menjadi separuh, lelah menunggu keputusan. Tapi aku mencintaimu, dan cinta membuatku diam.
Malam itu hujan turun deras. Kau memintaku datang ke rumah lamamu di pinggir kota. “Kita harus bicara,” katamu lewat pesan singkat. Ada sesuatu yang dingin di kata-kata itu.
Ketika aku tiba, pintu terbuka setengah. Lampu redup. Bau besi—bau yang tak kukenal saat itu—mengambang di udara. Aku melangkah pelan. Di ruang tamu, kau berdiri, pucat. Dan di lantai, dia tergeletak.
Darah.
Aku membeku. Waktu berhenti seperti napas yang tertahan.
“Aku tak bermaksud,” kau berbisik. “Dia datang marah. Kami bertengkar. Aku… aku hanya ingin semua berhenti.”
Pisau dapur terjatuh dari tanganmu. Bunyi logam itu menampar kenyataan. Aku melihat tanganmu gemetar, matamu pecah oleh takut dan sesal. Cinta telah berubah menjadi tragedi—dan aku berada di tengahnya.
Aku bisa lari. Aku bisa berteriak. Tapi aku memilih memelukmu.
Jika dunia runtuh malam ini,
biarlah bahuku menjadi puing terakhir.
Tempat kau menyandarkan penyesalan.
Kau menangis di dadaku. Tangismu seperti hujan yang tak tahu cara berhenti. Aku tahu, sejak detik itu, hidupku tak akan sama. Aku tahu juga, pilihanku akan mengikatku pada dosa yang bukan sepenuhnya milikku.
“Pergilah,” katamu. “Selamatkan dirimu.”
Aku menggeleng. “Aku mencintaimu.”
Cinta—kata itu terdengar bodoh di antara sirene yang kemudian meraung. Polisi datang. Pertanyaan-pertanyaan menghujani. Aku berkata apa yang perlu kukatakan. Kau diam. Aku menjadi saksi—dan saksi sering kali adalah orang yang paling terluka.
Pengadilan menjelma ruang tanpa jendela. Hakim membaca putusan. Kau menatapku sekali, senyummu tipis, seolah meminta maaf atas segalanya. Aku ingin berteriak bahwa aku masih di sini, bahwa aku akan menunggu, meski menunggu berarti menua dalam kesepian.
Cinta tidak selalu menyelamatkan,
kadang ia hanya memilih korban.
Dan aku memilih menjadi yang hidup,
agar bisa mengingatmu.
Kini aku menulis dari kamar sempit, dengan foto kita yang mulai pudar. Setiap malam, aku berbicara padamu dalam sunyi, menyebut namamu sebagai doa yang tak pernah dijawab. Aku tidak tahu apakah aku pahlawan atau pengecut. Yang aku tahu, aku mencintaimu—dan cinta itu berakhir dengan darah.
Jika suatu hari kau bebas dari tembok-tembok itu, mungkin kau akan membaca kisah ini. Ketahuilah: aku tidak menyesal mencintaimu. Aku hanya menyesal bahwa cinta kita harus membunuh untuk membuktikan betapa rapuhnya manusia.
Di antara aku dan kau,
ada malam yang tak bisa dimaafkan.
Namun jika cinta adalah dosa,
biarlah aku menanggungnya sendirian.

Komentar
Posting Komentar