Ilustrasi foto Doa yang Tak Pernah Kita Ucapkan Aku mencintaimu tanpa pernah mengatakannya. Bukan karena aku takut ditolak, melainkan karena aku terlalu takut kehilangan cara paling suci untuk menyebut namamu: dalam doa . Setiap sepertiga malam, ketika dunia menggulung dirinya dalam gelap dan suara-suara berhenti bernapas, aku bangun perlahan. Aku mengambil air wudu dengan tangan gemetar—bukan karena dingin, tapi karena hatiku selalu berdebar saat menyebut namamu dalam sujud. Kau tak pernah tahu. Dan aku berharap, kau tak perlu tahu. — Aku mengenalmu dari keheningan. Dari caramu menunduk terlalu lama setelah shalat. Dari caramu menolak bicara tentang cinta, seolah kata itu bisa mencederai imanmu sendiri. “Cinta itu ujian,” katamu suatu malam. “Ujian yang bagaimana?” tanyaku. “Yang paling berbahaya adalah cinta yang diucapkan, tapi tak siap dipertanggungjawabkan.” Aku diam. Karena aku memilih cinta yang tidak diucapkan sama sekali. Aku menyembunyikan namamu di antara tasbih d...
Aku menulis kisah ini dengan tangan yang masih gemetar, sebab setiap kata adalah bekas luka. Kau mungkin tak pernah membaca sampai akhir, tapi aku tetap menuliskannya—sebagai pengakuan, sebagai doa yang terlambat. Aku mencintaimu sejak hujan pertama jatuh di kota ini. Kau datang dengan tawa yang sederhana, seperti pagi yang tak menuntut apa pun. Aku menyebutmu kau bukan karena jarak, melainkan karena kedekatan yang tak butuh nama. Kita berbagi bangku tua di kafe sudut jalan, berbagi cerita tentang masa kecil yang retak, dan mimpi-mimpi kecil yang ingin diselamatkan. “Jika suatu hari aku pergi,” katamu, “apakah kau akan menunggu?” Aku menjawab dengan senyum yang pura-pura tenang. “Aku tak pandai menunggu, tapi aku pandai setia.” Di antara kita, kata-kata tumbuh seperti bunga liar. Aku menuliskan puisi untukmu di serbet kertas, kau menyimpannya di saku jaket, seolah itu jimat agar dunia tak merenggut kita. Aku mencintaimu tanpa peta, tanpa jalan pulang. Jika aku tersesat, biarlah namamu...