 |
| Sepertiga Malam: Ketika Doa Menjadi Alibi Dosa |
Aku selalu percaya sepertiga malam adalah waktu paling jujur.
Saat dunia berhenti berdusta, dan manusia tak lagi bisa bersembunyi dari Tuhannya sendiri.
Di waktu itu, aku dan kau pernah berdiri sejajar—bukan sebagai kekasih, bukan pula sebagai yang halal—melainkan dua hamba yang sama-sama rapuh, menggenggam cinta seperti pisau yang berkilat di balik sajadah.
“Jika Allah Maha Mengetahui,” katamu suatu malam,
“mengapa Dia masih membiarkan hatiku terbelah?”
Aku tak menjawab. Karena aku tahu:
Allah tidak membiarkan—kitalah yang memelihara luka itu.
Kau datang ke hidupku dengan zikir di bibirmu dan tangis di matamu. Kau menyebut namaku setelah menyebut nama-Nya. Itulah kesalahan pertama yang tak pernah kita akui sebagai dosa.
Dia—lelaki yang lebih dahulu kau kenal—adalah orang yang membimbingmu menuju malam. Mengajarimu tahajud. Mengajarimu ikhlas.
Dan aku…
aku adalah ujian yang datang setelah doa-doamu dikabulkan setengah.
Cinta segitiga tidak selalu lahir dari nafsu.
Kadang ia lahir dari iman yang sombong—merasa mampu menampung dua rasa sekaligus.
“Aku mencintaimu karena Allah,” katamu padaku.
Kalimat itu lebih tajam dari pisau mana pun.
Aku menjawab lirih,
“Jangan jadikan nama-Nya tameng untuk luka yang kau rawat sendiri.”
Kau menunduk, lalu berbisik seperti syair duka:
Jika cinta adalah amanah,
mengapa aku membaginya?
Jika cinta adalah ibadah,
mengapa aku berbohong di hadapan-Nya?
Aku mulai takut pada sepertiga malam.
Karena setiap sujud, bayanganmu muncul di antara aku dan kiblat.
Doaku berubah.
Bukan lagi memohon petunjuk,
melainkan pembenaran.
“Ya Allah,” bisikku suatu malam,
“jika dia bukan jodohku, cabutlah rasa ini.”
Namun yang tercabut justru akalku.
Dia menemuiku setelah salat. Wajahnya tenang, tapi matanya lelah.
“Kau tahu,” katanya,
“Allah menguji kita dengan yang kita cintai.”
Aku tersenyum pahit.
“Atau kita menguji Allah dengan keserakahan kita.”
Ia terdiam.
Aku melanjutkan, dengan suara yang hampir seperti doa:
Aku tak takut kehilangan cinta,
aku takut kehilangan iman,
karena ternyata iman bisa runtuh
hanya oleh satu nama perempuan.
Kau akhirnya memilih.
Bukan aku.
Kau berkata keputusan itu lahir dari istikharah.
Aku ingin percaya.
Namun hatiku berbisik: istikharahmu dibimbing oleh rasa yang lebih dulu kau pelihara.
“Aku ingin selamat di akhirat,” katamu.
“Maafkan aku.”
Aku mengangguk.
Karena seorang mukmin harus pandai menyembunyikan amarahnya—bahkan dari dirinya sendiri.
Tapi malam itu, aku tidak tidur.
Aku bangun bukan untuk tahajud,
melainkan untuk mengubur sesuatu dalam dadaku.
Aku menemui dia di musala tua, dekat kuburan.
Tempat di mana semua doa terdengar lebih jujur, karena kematian mendengarkan.
“Kau beruntung,” kataku.
Ia menjawab,
“Tidak. Aku hanya lebih dipilih.”
Kalimat itu menutup pintu terakhir dalam diriku.
Tanganku bergerak saat hujan menutup suara.
Pisau kecil—yang seharusnya hanya alat—menjadi saksi betapa tipisnya batas antara iman dan iblis.
Dia tersungkur.
Darah bercampur air wudhu.
“Astaghfirullah…” ucapnya, sebelum matanya kosong.
Aku menangis.
Aku sujud.
Di atas tanah basah dan darah.
Tuhanku,
aku membunuh bukan karena benci,
tetapi karena aku gagal mengalahkan nafsu
yang kusebut cinta suci.
Kini aku di balik jeruji.
Sepertiga malam tetap datang.
Namun tak ada lagi kau, tak ada lagi dia—
hanya aku dan dosa yang terlalu sadar untuk dilupakan.
Aku berdoa, tapi langit terasa bisu.
Ternyata tidak semua doa naik,
sebagian jatuh kembali ke dada,
dan berubah menjadi hukuman yang hidup.
Jika kau membaca ini, jangan tangisi aku.
Tangisilah iman yang kita rusak bersama,
karena kita terlalu berani menyebut cinta
di tempat yang seharusnya hanya ada Tuhan.
Komentar
Posting Komentar