Langsung ke konten utama

Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”

  ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”           Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama. “Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar. Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?” Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu. Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.” Namun, di balik layar, kau bersama dia —wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tert...

Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namaku Tak Pernah Ada di Doanya

 

ilustrasi foto_Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namaku Tak Pernah Ada di Doanya

Cerpen Romantis oleh Fiqi Andre

Hujan sore itu turun tanpa permisi. Rintiknya deras, seolah ingin menyapu jejak langkah yang pernah kami buat bersama. Di halte kecil yang sudah lapuk oleh waktu, aku berdiri sambil memeluk tubuhku sendiri. Bukan karena dingin, tapi karena dia belum juga datang.

Namanya Asha. Perempuan yang membuatku percaya bahwa cinta tidak selalu harus dibalas untuk bisa hidup.

Kami berteman sejak SMA. Ia ceria, penuh tawa, dan selalu punya cerita lucu setiap hari. Sedangkan aku? Hanya bayangan setia di belakangnya. Menjadi pendengar, penonton, dan pelindung diam-diam saat dunia terlalu kejam padanya.

“Aku putus lagi, Ki,” katanya dulu, di halte yang sama, di bawah hujan yang juga sama. Waktu itu, ia menangis di pundakku. Aku tidak berkata apa-apa, hanya membiarkannya menumpahkan semua air matanya di jaket lusuhku.

“Aku bodoh, ya?”
“Enggak. Kamu cuma terlalu percaya,” jawabku lirih, sembari berharap suatu hari dia percaya padaku juga.

Hari demi hari berlalu. Setiap kali dia terluka, aku selalu jadi tempatnya pulang. Tapi saat dia bahagia, aku hanya jadi nama yang tak pernah disebut.



Hari ini, dia mengajakku bertemu. Katanya, ada kabar bahagia. Aku sempat berharap—bodohnya—bahwa mungkin dia sadar. Mungkin akhirnya dia menyadari bahwa aku adalah satu-satunya yang tak pernah pergi.

Suara langkahnya membuyarkan lamunanku. Asha datang dengan senyum yang penuh cahaya, berlari kecil ke arahku sambil membawa payung merah yang biasa kupinjamkan dulu.

“Aku dilamar, Ki!” serunya riang, memamerkan cincin di jari manisnya.

Aku diam.

Waktu seperti berhenti. Suara hujan mendadak terdengar begitu nyaring, menenggelamkan detak jantungku yang perlahan retak.

“Dia orang baik banget, Ki. Kamu pasti suka deh kalau kenal. Aku pengin kamu datang pas tunangan. Teman terbaik harus ada, dong.”

Teman terbaik?

Kupaksakan senyum. “Tentu, aku datang.”

Asha memelukku. Pelukan yang dulu selalu membuatku merasa jadi satu-satunya. Tapi kali ini, rasanya kosong. Karena pelukan itu bukan milik cinta, hanya milik kenangan.


Saat dia pergi, aku duduk kembali di halte. Kupeluk diriku sendiri lebih erat, mencoba menenangkan isi dada yang penuh badai. Di hadapanku, hujan masih turun deras.

Aku mencintainya. Bahkan saat dia mencintai orang lain.

Aku memeluknya saat dia rapuh, tapi bukan namaku yang ia doakan untuk bersanding di pelaminan.
Namaku tak pernah ada di dalam doanya. Bahkan mungkin, tak pernah singgah di hatinya.


Malam ini, aku menulis semua kisah tentang Asha dalam sebuah buku harian yang selalu kusimpan rapat. Bukan untuk dibaca orang lain, tapi agar hatiku tahu, bahwa mencintai dalam diam juga sebuah bentuk keberanian.

Dan jika suatu saat hujan turun lagi, semoga aku bisa memeluk seseorang...
yang juga menyebut namaku dalam doanya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pendek:Lonceng Akhir

Ilusi foto Cerita Pendek:Lonceng Akhir (pixabay.com) Aku adalah seorang pegawai pabrik yang terjebak dalam gelapnya dunia pinjaman online. Semua bermula dari sebuah keputusan bodoh yang kuambil dengan berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja. Siapa yang mengira bahwa dari sekadar pinjaman kecil untuk kebutuhan mendesak, utang itu akan menjeratku dalam lingkaran setan yang tak berujung? Hari itu, pabrik tempatku bekerja baru saja tutup. Tubuhku terasa lelah, namun pikiranku lebih berat menanggung beban utang yang semakin menumpuk. Aku duduk di bangku taman kecil di depan pabrik, memandang kosong ke arah jalanan. Pikiranku sibuk, mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Pinjaman pertama hanya dua juta, tapi bunga yang mencekik membuat utang itu melonjak hingga belasan juta dalam beberapa bulan. Ketika aku masih tenggelam dalam kekhawatiran, seseorang menepuk bahuku. Wajahnya garang, sorot matanya tajam seolah menusukku. "Selamat sore, Mbak Rini," katanya dengan s...

Puisi:Kenangan di Tepi Meja

Ilustrasi foto puisi kenangan di tepi meja Di sudut meja, aroma manis melingkari, Bango kecap manis menemani memori, Di setiap tetes, ada cinta yang menari, Mengingatkan kita pada cerita sejati. Malam itu, rembulan menjadi saksi, Tatapanmu hangat, membalut sunyi, Kecap manis melumuri daging hati, Seakan berkata, "Inilah kita, takkan terganti." Kamu selalu tahu, rahasia rasa, Manisnya cinta, bumbu setiap masa, Bango hadir, bagai janji tak sirna, Mengikat kenangan yang tak mudah lupa. Tanganmu mengaduk, aku memandang, Ada keajaiban dalam setiap tangkap pandang, Romantisnya bukan hanya karena rempah melayang, Tapi karena cinta, dalam hati yang kau pegang. Kini, meja itu sepi, namun tetap hidup, Aroma manisnya bertahan, menjadi penghibur, Walau tak lagi ada kita berbincang di bawah lampu, Bango kecap manis jadi kenangan yang selalu rindu. Di setiap rasa, ada kisah kita terselip, Cinta yang manis, tak pernah tergelincir, Bango mengingatkan, cinta tak pernah usang, Dalam kenangan, ...

Cerita Pendek:Segitiga Mematikan

Ilusi foto Cerita Pendek:Segitiga Mematikan ( https://pixabay.com/id/photos/foto-tangan-memegang-tua-256887/ ) Pagi itu, aku duduk di teras sambil menatap hujan yang turun. Aroma tanah basah tercium tajam, mengiringi perasaan galau yang sulit diungkapkan. Aku menyesap kopi yang mulai dingin, berharap getirnya bisa mengalahkan kegelisahanku. Namaku Ardi, dan aku berada di tengah cinta segitiga yang sulit aku pahami. Di satu sisi, ada Laila, sahabatku sejak SMA yang sejak lama menyimpan rasa untukku. Di sisi lain, ada Siska, wanita yang belakangan ini kerap hadir dan menyita perhatian. Aku merasa bimbang. Hati dan pikiranku saling tarik-menarik, tak pernah mencapai kata sepakat. Hari itu, Laila mengajakku bertemu di kafe favorit kami. Biasanya, ia ceria dan selalu bisa menghiburku, tapi kali ini ia tampak lebih serius, bahkan sedikit gugup. "Ardi, aku mau bicara sesuatu," ucapnya sambil menunduk, mengaduk-aduk minumannya tanpa tujuan. "Kenapa, La? Tumben serius banget,...