ilustrasi foto_Kupeluk Dia Saat Hujan, Tapi Namaku Tak Pernah Ada di Doanya
Cerpen Romantis oleh Fiqi Andre
Hujan sore itu turun tanpa permisi. Rintiknya deras, seolah ingin menyapu jejak langkah yang pernah kami buat bersama. Di halte kecil yang sudah lapuk oleh waktu, aku berdiri sambil memeluk tubuhku sendiri. Bukan karena dingin, tapi karena dia belum juga datang.
Namanya Asha. Perempuan yang membuatku percaya bahwa cinta tidak selalu harus dibalas untuk bisa hidup.
Kami berteman sejak SMA. Ia ceria, penuh tawa, dan selalu punya cerita lucu setiap hari. Sedangkan aku? Hanya bayangan setia di belakangnya. Menjadi pendengar, penonton, dan pelindung diam-diam saat dunia terlalu kejam padanya.
“Aku putus lagi, Ki,” katanya dulu, di halte yang sama, di bawah hujan yang juga sama. Waktu itu, ia menangis di pundakku. Aku tidak berkata apa-apa, hanya membiarkannya menumpahkan semua air matanya di jaket lusuhku.
Hari demi hari berlalu. Setiap kali dia terluka, aku selalu jadi tempatnya pulang. Tapi saat dia bahagia, aku hanya jadi nama yang tak pernah disebut.
Hari ini, dia mengajakku bertemu. Katanya, ada kabar bahagia. Aku sempat berharap—bodohnya—bahwa mungkin dia sadar. Mungkin akhirnya dia menyadari bahwa aku adalah satu-satunya yang tak pernah pergi.
Suara langkahnya membuyarkan lamunanku. Asha datang dengan senyum yang penuh cahaya, berlari kecil ke arahku sambil membawa payung merah yang biasa kupinjamkan dulu.
“Aku dilamar, Ki!” serunya riang, memamerkan cincin di jari manisnya.
Aku diam.
Waktu seperti berhenti. Suara hujan mendadak terdengar begitu nyaring, menenggelamkan detak jantungku yang perlahan retak.
“Dia orang baik banget, Ki. Kamu pasti suka deh kalau kenal. Aku pengin kamu datang pas tunangan. Teman terbaik harus ada, dong.”
Teman terbaik?
Kupaksakan senyum. “Tentu, aku datang.”
Asha memelukku. Pelukan yang dulu selalu membuatku merasa jadi satu-satunya. Tapi kali ini, rasanya kosong. Karena pelukan itu bukan milik cinta, hanya milik kenangan.
Saat dia pergi, aku duduk kembali di halte. Kupeluk diriku sendiri lebih erat, mencoba menenangkan isi dada yang penuh badai. Di hadapanku, hujan masih turun deras.
Aku mencintainya. Bahkan saat dia mencintai orang lain.
Malam ini, aku menulis semua kisah tentang Asha dalam sebuah buku harian yang selalu kusimpan rapat. Bukan untuk dibaca orang lain, tapi agar hatiku tahu, bahwa mencintai dalam diam juga sebuah bentuk keberanian.
Komentar
Posting Komentar