 |
ilustrasi Cerita Pendek: “Cinta yang Menyisakan Darah”
|
Aku masih ingat jelas aroma parfum yang melekat di kemeja putihmu malam itu. Bukan aroma yang biasa kau pakai. Aku tahu, karena aku selalu mencium bau tubuhmu sebelum kau berangkat kerja, sebelum kau pamit lewat panggilan video dari kota itu. Tapi kali ini berbeda. Kau pulang hanya untuk mengubur kebohonganmu, dan aku sudah mencurigainya sejak lama.
“Kenapa kau jarang menjawab teleponku?” tanyaku dengan suara bergetar.
Kau hanya tersenyum, lalu duduk di kursi ruang tamu. “Aku sibuk, banyak rapat. Kau mengerti, kan?”
Tapi aku tahu, ada dia dalam setiap alasanmu.
Aku, yang berada di kota kecil ini, mencoba percaya. Setiap malam menunggu panggilanmu, meski hanya lima menit. Aku menatap layar ponsel, berharap wajahmu muncul. Tapi seringnya hanya pesan singkat: “Maaf, aku lembur.”
Namun, di balik layar, kau bersama dia—wanita yang menatapmu dengan tatapan yang dulu hanya milikku. Kau tertawa bersamanya, makan malam, bahkan menginap di hotel yang kusebut dalam mimpiku untuk bulan madu kita.
“Dia hanya teman kerja,” katamu padaku suatu malam.
“Teman kerja tidak menaruh lipstik di kerah bajumu,” jawabku getir.
Kau terdiam. Saat itu aku tahu, kesetiaanku hanyalah lelucon.
Aku berdiri di dapur malam itu, memegang pisau dapur. Bukan niat membunuh yang pertama kali muncul, melainkan keputusasaan. Aku ingin bertanya padamu, sekali saja, dengan jujur.
“Aku hanya ingin tahu, apakah aku masih cukup bagimu?” suaraku serak.
Kau mendekat, mencoba meraih tanganku. “Kau selalu cukup. Tapi—”
“Tapi kau memilih dia,” potongku.
Sunyi. Pisau di tanganku bergetar. Kau menunduk, dan untuk pertama kalinya, kau tidak bisa berbohong.
Aku tak pernah berniat melukai hatimu. Tapi kota itu membuatku kesepian. Dia hadir di saat aku rapuh, memberi bahu saat aku terlalu lelah. Aku tahu itu salah, tapi aku manusia.
“Kau tak mengerti,” kataku lirih malam itu.
“Apa yang tak kumengerti? Bahwa cintamu bisa dibagi dua?” jawabmu dengan mata merah.
Aku ingin memelukmu, tapi kau mundur. Ada pisau di tanganmu, dan aku tahu, sesuatu buruk akan terjadi.
Aku hanya ingin mencintainya, meski aku tahu ia sudah punya kau. Di kota asing ini, aku hanyalah pengganti, pelarian dari kesepian. Tapi dalam pelarian itu, aku menemukan kebahagiaan semu.
“Aku akan meninggalkannya,” janjinya padaku suatu malam.
Aku tersenyum bodoh, percaya pada janji yang tak pernah jadi nyata.
Dan malam itu, saat ia pulang padamu, aku tidak tahu bahwa namaku menjadi sebab darah menetes di lantai rumahmu.
Aku menatap matamu yang gemetar. Kau berusaha meraih pisau, tapi aku lebih cepat. Semua amarah, luka, dan kesepian yang kupendam selama ini meledak jadi satu.
“Aku mencintaimu, tapi kau membunuhku perlahan,” bisikku.
Pisau itu menembus dadamu. Kau terkejut, lalu jatuh. Suara tubuhmu menghantam lantai seperti dentuman palu di hatiku.
Aku menangis, mencengkeram bajumu, menjerit memanggil namamu, meski tahu semuanya sudah terlambat.
Darahku mengalir deras. Aku melihat wajahmu yang hancur, matamu penuh air mata. Aku ingin berkata bahwa aku menyesal, tapi suaraku tak lagi keluar. Aku hanya sempat berbisik pelan, “Maaf...”
Lalu gelap menelanku.
Malam itu, cinta jarak jauh kita berakhir dalam tragedi. Aku tak lagi menunggu panggilan telepon, tak lagi merindukanmu di layar ponsel. Karena kini, kau hanya nama di batu nisan.
Dan aku? Aku hanya perempuan yang mencintai terlalu dalam, lalu kehilangan kendali.
Kau, aku, dan dia—kita hanya kisah perselingkuhan yang menyisakan darah.
Komentar
Posting Komentar