Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
September yang Tercabik ilusi foto puisi september yang tercabik https://pixabay.com/id/photos/penari-tarian-pasir-pantai-menari-5576002/ Di ambang September yang temaram, Bulan memancar sinar kesepian, Terlukis pada langit yang muram, Hati ini terasa perih dalam diam. Angin malam menyusup hampa, Membawa rindu yang tak berbalas, Seperti daun yang gugur tanpa suara, Jatuh, terpisah, hilang, dan tak terbatas. Kenanganmu datang mengusik malam, Seperti hujan yang tiba-tiba deras, Menyelimuti jiwa dengan kesedihan kelam, Meninggalkan luka yang tak pernah terbebas. Kau yang pernah menjadi pelabuhan, Kini hanya bayang yang tak terjangkau, Seperti mimpi yang usang dan terlupakan, Tinggalkan jejak luka di setiap langkah ini. September, bulan cinta yang terkoyak, Menyisakan air mata di setiap sudut, Semua janji yang dulu ter...