Ilustrsi foto_“Ketukan di Jendela, Doa di Dua Langit” Setiap malam, tepat pukul dua belas lewat tujuh menit, ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukan pelan, ritmis, seperti seseorang yang menghafal nada rahasia yang hanya dimengerti olehku—atau mungkin oleh hatiku. Dan anehnya, setiap kali ketukan itu terdengar, kau selalu hilang dari rumah. Aku duduk di ruang tamu malam itu, lampu sengaja kupadamkan agar suara-suara malam masuk tanpa filter. Kau berdiri di depan pintu, memakai jaket hitammu yang sudah usang, yang menurutmu membawa keberuntungan. “Aku keluar sebentar,” katamu. “Akan lama?” tanyaku. “Kau tahu jawabannya,” balasmu pelan. Aku menahannya. “Kau selalu pergi ketika jam menunjukkan angka yang sama. Kau selalu pergi ketika ketukan itu datang.” Kau menatapku lama. “Kau takut?” Aku menggeleng. “Aku rindu.” Kau tersenyum kecil—senyum yang dulu membuatku percaya bahwa cinta beda agama bisa diperjuangkan, bahwa dua keyakinan yang berbeda tetap bisa bertemu di satu ...
Ilustrasi foto Cerita Pendek Romantis:Jarak Yang Mematikan (gambar pixabay.com) Malam sudah beranjak larut. Kota Bandung tampak tenang di bawah cahaya bulan yang samar-samar menyelimuti jalan-jalan sepi. Nadine duduk di balkon apartemennya, menatap layar ponsel yang kosong. Pesan terakhir dari Ray, kekasihnya yang bekerja di luar negeri, tertulis sederhana, penuh kerinduan: “Jaga dirimu di sana, sayang. Aku selalu rindu.” Hatinya bergejolak. Selalu ada rasa bersalah yang menyelinap ketika ia mengingat Ray. Sejak lima tahun terakhir, mereka menjalani hubungan jarak jauh. Awalnya, semua baik-baik saja; Nadine bersabar menanti kepulangan Ray, sementara Ray berusaha selalu ada meski hanya melalui layar. Namun, kesendirian memiliki caranya sendiri untuk menyusup dan menciptakan ruang kosong. Nadine tak pernah berniat mengkhianati Ray, tetapi di kota ini, ia tak sepenuhnya sendiri. Muncullah Arya, seorang lelaki misterius yang ditemuinya di sebuah acara kantor. Arya membawa kehangatan ya...